<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756</id><updated>2011-11-24T06:35:04.842-08:00</updated><category term='Memoar Kang Jan'/><category term='Poem/puisi'/><category term='Cerpen'/><category term='Prosa'/><category term='Cultural studies'/><category term='Opini'/><category term='Experiences reflection'/><category term='Psikoanalisis'/><category term='Free articles'/><category term='Reflection of Kang Jan'/><title type='text'>Jurnal Ilmu Humaniora dan pengetahuan</title><subtitle type='html'>Selamat datang di Jurnal ini. Dipersilahkan mengutip sebagian atau keseluruhan isi dari Jurnal ini demi kemajuan pengetahuan.

Salam</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-5436016270743209444</id><published>2010-06-25T05:39:00.000-07:00</published><updated>2010-06-25T05:40:43.348-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: Verdana; font-size: 11px; line-height: 16px; "&gt;Telah dimunculkan website Pusat Sumberdaya Buruh Migran dengan alamat &lt;a href="http://buruhmigran.or.id"&gt;http://buruhmigran.or.id&lt;/a&gt;. Dukung pengelolaan informasi untuk memperjuangkan nasib buruh migran.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-5436016270743209444?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/5436016270743209444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=5436016270743209444' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/5436016270743209444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/5436016270743209444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2010/06/telah-dimunculkan-website-pusat.html' title=''/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-6217783404520301367</id><published>2009-01-02T10:15:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T10:16:10.851-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Experiences reflection'/><title type='text'>Refleksi atas Makna Publik dan Pribadi</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Saya tidak begitu mengerti batasan antara sesuatu yang publik dan pribadi sekarang. Banyak hal yang bersifat pribadi akhirnya menjadi publik, sebut saja kegiatan seksualitas yang menjadi konsumsi publik dalam bentuk pornografi. Sebaliknya, banyak ruang atau persoalan publik menjadi pribadi atau setidaknya dikuasi oleh kelompok-kelompok tertutup tertentu. Dalam konteks penguasaan sesuatu yang bersifat publik menjadi milik kelompok, saya lebih ingin menyebutnya sebagai upaya privatisasi atau menjadikannya dimiliki secara pribadi --kelompok. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Belum lama ini saya memiliki pengalaman yang sungguh tidak mengenakkan berkenaan dengan hubungan antara makna publik dan pribadi. Pada tanggal 29 Desember, di bawah terik matahari, saya bersama beberapa orang kawan dari Jlepret Art/Sanggar Nuun melakukan pengambilan gambar adegan yang rencananya akan dijadikan sebuah film. Untuk salah satu fragmen dalam film, sesuai dengan keputusan sutradara, pengambilan gambar harus dilakukan di depan Mall Ambarukmo Plaza. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pengambilan gambar ini mulanya berjalan lancar. Beberapa kebutuhan cadangan gambar sudah kami penuhi. Tapi pada saat memulai mangambil adegan aktor yang sedang duduk di pinggir trotoar, sekonyong-konyong seorang petugas Satuan Pengaman (Satpam) mendekati kami. Satpam satu ini cukup ramah, jadi tidak terlampau mengganggu. Ia menanyakan apa yang kami lakukan di trotoar Mall itu. Kami menjelaskan lugas bahwa kami sedang melakukan pengambilan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gambar untuk pembuatan film. Satpam ini kami beritahu bahwa gambar mall tidak akan kami masukkan dalam bagian sinema. Satpam itu beralih dan kami dapat melanjutkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tidak lama setelah itu, seorang satpam tiba-tiba dari arah timur menghampiri kami. Satpam ini berbeda dengan rekannya yang tadi. Nadanya agak tinggi. Ia tidak menunggu pengambnilan gambar satu adegan 3 aktor yang sedang duduk dan berbincang selesai, tapi langsung mendekati dan menegur salah satu kameramen. saya terus terang agak terganggu dengan lagak dan gaya satpam ini. Ia menanyakan surat izin dan menyatakan bahwa tidak boleh melakukan pengambilan gambar di depan Mall. Saya tidak bisa berdiam diri karena ini menyangkut hak penggunaan trotoar sebagai fasilitas umum yang kebetulan berada di depan Ambarukmo Plaza. Saya sempat meneriaki satpam itu: "apa sudah dibeli trotoar umum ini sama Mall?". Nada saya tinggi, menyengaja menunjukkan ketidaksukaan atas pernyataan satpam itu. Saya bersikeras&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyatakan bahwa lahan yang dipakai sebagai lokasi pengambilan gambar adalah trotoar yang boleh dipakai oleh siapapun, selama tidak melanggar etika dan hukum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Saya terinspirasi oleh salah satu sekuel dalam novel Anak Semua Bangsa Karya Pramodya di bagian awalnya --kalau tidak salah halaman 3. Ibu Anelis mengajarkan bahwa sebongkah batu, jika itu memang hak, harus dipertahankan. Bukan karena harga batu itu, tapi karena asas kebenaran. Membiarkan orang mengambil batu yang tidak berharga, sama halnya dengan membiarkan orang berbuat jahat. Membiarkan orang berbuat jahat sama saja membiarkan kejahatan terus berkembang dari bentuk yang kecil. Itu bertentangan dengan asas kebenaran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Satpam itu agak terkejut mendengar teriakan saya. Dia agak tercengang dengan pertanyaan saya yang --saya rasa-- cukup fundamen ini. Lalu dia menganulir pernyataannya dengan menyatakan bahwa ia tidak tahu soal boleh atau tidaknya pengambilan gambar di depan Mall. Saya sempat mendekatinya. Tapi segera ia beranjak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kejadian tadi sungguh membuat saya perihatin. Untuk soal torotar saja, ada upaya untuk mengkonversinya menjadi lahan tertutup yang digunakan sesuai dengan kehendak pengendali ekonomi bernama Mall. Ini bukan satu-satunya, coba saja kita mengamati kota Yogya, berapa banyak trotoar yang dikonversi menjadi lahan parkir karena para pengusaha tidak dibebani kewajiban menyediakan lahan parkir. Predestrian adalah korbannya. Ini sungguh tidak adil. Terlebih sikap pemerintah terhadap pemilik toko besar dan pedagang kaki lima yang berdagang di trotoar pun berbeda. soal ini saya punya pengalaman lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Selepas mengikuti aksi Penolakan UU Pornografi, bersama seorang kawan, saya duduk sejenak di dekat pasar Beringharjo. Di sekitar kami banya pedagang Kai lima yang mengais hidup. Ada tukang minuman, ibu-ibu bakul sate madura, penjual mainan, dll. Saya duduk menikmati suasana sore dan jajanan tradisonal. Tiba-tiba, para pedagang menjadi panik. Beberapa &lt;i&gt;bakul &lt;/i&gt;sate madura yang sedang membakar sate pesanan bergegas beranjak. Saya bertanya-tanya dalam hati soal sebab yang membuat mereka seperti tidak tenang secara tiba-tiba dan serentak. sebabnya terlacak, tak jauh dari tempat itu tampak beberapa orang Satpol PP turun dari kendaraan. Kejadian itu sungguh menggelisahkan saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Banyak pertanyaan muncul di kepala. Apakah alasan para pedagang kecil ini harus dilarang berjualan di tempat umum seperti ini? Saya berpikir bukankah di di sepanjang jalan malioboro terdapat ribuan motor yang di parkir di trotoar jalan dan itu jelas mengganggu pemandangan, ketertiban, dan hak pejalan kaki. Tapi mengapa mereka tidak ditertibkan? Mengapa Mall dan toko-toko dengan omset jutaan perhari itu tidak diminta &lt;i&gt;bantingan &lt;/i&gt;membuat parkir terpadu agar keindahan, ketertiban dan hak pengguna jalan tidak terganggu? Apakah karena para bakul sate, pedagang minuman dan mainan adalah pedagang kecil dengan omset rendah yang tidak potensial secara ekonomi, lantas boleh digusur secara bebas?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Ini bukan soal keindahan lagi, juga bukan soal ketertiban saja. Tapi ini menyangkut keadilan. Apakah keadilan boleh tunduk pada ekonomi, kekuatan modal, atau peraturan yang tidak adil? Tidak, keadilan tidak boleh tunduk pada semua itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Para pedagang besar dengan kekuatan modal dan perlindungan payung hukum tertentu, secara tidak langsung sering melakukan privatisasi perangkat-perangkat publik. Hal ini jarang dipersoalkan karena logika ekonomi yang bertengger di kepala birokrat. Sementara para pedagang kecil, dengan segala kelemahan mereka, harus mengalah dianggap sebagi sampah dan harus disingkirkan dari ruang publik. sungguh ironis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Kejadian-kejadian yang menimpa saya dan saya ketemukan ini baru soal yang kecil. Masih ada soal Migas, Pendidikan, Air, dll yang terus menerus dipaksa masuk dalam penjara privitisasi. Bagaimana mungkin sebuah negara yang terus mengekploitasi minyak, memiliki tambang mineral lain yang beragam, hutan yang cukup luas dan tanah yang subur untuk pertanian,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;didiami jutaan masyarakat miskin dengan segala sesuatu tidak pernah terjamin? Wajarkah jika masyarakat Papua yang di tanah mereka telah diangkat jutaan ton emas tetap menjadi miskin dan terbelakang? Wajarkah masyarakat di tanah Bangka dan Belitung sulit mengenyam pendidikan sementara dari tanah mereka terus diambil pelbagai mineral berharga mahal?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Ironi-ironi ini akan terus kita temukan selama privatisasi terus berkembang dan dilegalkan oleh penguasa. Ironi ini akan terus berkembang selama para aktor politik yang selalu berbohong kepada masyarakat tidak mau jujur soal hasil pengolahan bumi nusantara yang kaya ini. Ironi ini akan terus bercokol selama masyarakat tidak pernah mau bersama-sama menyadari dan bergerak. Ironi ini akan terus bertahan selama kita tidak mengerti arti keadilan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini ada di tangan kita bersama. Tuhan tidak ikut campur untuk soal ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-6217783404520301367?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/6217783404520301367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=6217783404520301367' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/6217783404520301367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/6217783404520301367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2009/01/refleksi-atas-makna-publik-dan-pribadi.html' title='Refleksi atas Makna Publik dan Pribadi'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-7159624381124582891</id><published>2009-01-02T10:12:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T10:15:32.734-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memoar Kang Jan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection of Kang Jan'/><title type='text'>Islam Kaffah dan Kekafiran</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Ada yang lain dari Kang Jan hari ini. Tidak seperti kebiasaannya tidur selepas subuh, pagi ini ia langsung mandi lalu berpakaian rapi. Wewangian pun ia pakai. Sungguh tak biasa. wewangian itu seperti barang kramat bagi Kang Jan, ia hanya menggunakannya pada hari-hari tertentu saja, seperti saat shalat Jum'at atau shalat idul fitri. Istrinya yang tikdak mendapat pemberitahuan soal rencana Kang Jan hari ini pun dibuat keherananan. Bagaimana tidak, tadi Malam Kang Jan tetap memabuka angkringan sampai Jam 2 dan pagi ini dia tidak tidur lagi. Biasanya selepas subuh Kang Jan langsung &lt;i&gt;molor &lt;/i&gt;menikmati kasur. Ia tidur sampai jam 8 pagi lalu berangkat ke pasar membeli kebutuhan angkringan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tapi pagi ini sungguh berbeda. Tak hanya menggunakan minyak wangi, Kang Jan juga menggunakan batik pamungkasnya. Setelan batik buatan Istri ini bukan batik sembarangan. Dalam setahun belumlah pasti satu kali ia gunakan. Pemberian istri merupakan salah satu barang keramat. Bukan soal bagusnya atau buruknya batik itu, tapi soal penghargaan kepada istrinya. Biasanya Kang Jan hanya menggunakan batik itu saat bepergian bersama istri tercinta. Maklum, meskipun Kang Jan sedikit galak ia terkenal sangat sayang pada istrinya. Di kampung itu nyaris tak ada laki-laki yang mau bekerja di dapur membantu istri selain Kang Jan. Bahkan Pak Kaji soleh yang terkenal paling soleh di kampung karena kedermawanannya saja tidak pernah mau masuk dapur. "itu tugas perempuan, " tegas Pak Soleh ketika suatu waktu ditanyai tetangga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Mau kemana tho, Kang? Kok ndak kayak biasanya pagi-pagi sudah rapi, pakai wewangian dan batik lagi?", karena sangat bingung Istri Kang Jan akhirnya memberanikan bertanya pada suaminya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Ini lho, Bune, aku janjian sama Siwa dan Guntur untuk lihat &lt;i&gt;grebeg syuro&lt;/i&gt;. Ini kan satu syura," Kang Jan menjelaskan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Boleh tho, Bune aku pakai batik ini?" lanjutnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Yo ndak opo to Kang. La wong batik itu saya jahitkan yo buat sampean pakai. Bukan pajangan. &lt;i&gt;Kulo langkung remen yen diagem kaleh Panjenengan&lt;/i&gt;," balas si istri dengan senyum yang dalam. Kang Jan tersenyum simpul penuh kebahagiaan menyaksikan ekspresi instrinya. "Bune, aku tolong dibuatkan kopi yo!" pinta Kang Jan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;******&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Bune, aku berangkat," suara Kang Jan menyeloroh ke dalam rumah setelah menghabiskan secangkir kopi pahit kesukaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Berkendara sepeda unta tahun 70-an yang dibeli di pasar loak Kang Jan menuju rumah Siwa. Mereka bertiga telah membuat janji pertemuan di rumah Siwa sebelum berangkat ke &lt;i&gt;Grebeg Syuro&lt;/i&gt;. Rumah Siwa memang letaknya paling strategis tinimbang milik Kang Jan atau Guntur. Rumah Siwa berada di pinggir jalan beraspal, jadi mudah bagi mereka untuk mencari angkutan menuju lokasi perhelatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Sesampai di sana Guntur ternyata sudah terlebih dahulu sampai. Ia sudah duduk-duduk dengan Siwa menghadap sepasang cangkir kopi yang sudah habis lebih dari setengah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Hayo, langsung berangkat!" pinta Kang Jan sambil memarkir sepeda di pekarangan Siwa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Lho, langsungan tho, Kang?" timpal Guntur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Lebih baik kepagian dari pada kelewatan acaranya" balasa Kang Jan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Sampean ndak pengen ngopi dulu, Kang? Tambah Siwa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"&lt;i&gt;Ora, Aku Wis ngopi Mau"&lt;/i&gt;, timpal Kang Jansambil berlalu. Siwa dan Guntur beranjak dari kursi bambu menghampiri Kang Jan yang sudah berjalan menuju jalan raya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;******&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pagi ini suasana terasa berbeda. Angkutan Jalur X yang biasanya sepi ternyata berulang kali lewat dalam keadaan penuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"walah, ini baru Jam setengah 7 kok sudah penuh semua" Siwa mengeluh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Sudahlah, sebentar lagi ada yang kosong. kalau nanti tak ada yang kosong kita naik jurusan lain terus oper bus kota sampai alun-alun" balas Kang Jan. Siwa dan Guntur hanya diam seperti setuju.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tidak terlalu lama, sebuah angkot jalur X muncul dan masih belum terisi semuanya.Mereka bertiga saling melempar senyum lega. Di dalam angkot ternyata ada beberapa orang yang juga berpakaian rapi. Ada yang memakai batik dan kopiah, ada juga yang berkemeja biasa, tapi semuanya rapi. Kang Jan melempar senyum ke beberapa orang yang telah terlebih dahulu berada di angkot. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tak lupa kang Jan membaca &lt;i&gt;basmalah &lt;/i&gt;saat mau duduk di jok angkot. Bacaan itu menarik perhatian seorang laki-laki yang kira-kira berusia 25 tahun. lelaki itu berjenggot agak panjang. Pakaiannya rapi. Kopiah putih bersih menutup kepalanya yang berambut pendek. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Mau ke mana, Pak?" tanya pemuda berpakaian rapi itu kepada Kang Jan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"ini, mau ke grebeg syuro, la adik sendiri mau ke mana?" Kang Jan membalas pertanyaan snag apemuda sambil berbasa-basi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Mau ke kampus Pak", balas pemuda itu. "Memang di grebeg itu ada apa saja, Pak? Kok banyak orang yang berbondong-bondong&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;datang ke acara itu?" tambah si pemuda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Ya ada macam-macam, dik. Ada doa bersama. Ada pembagian gunungan. heem, masih banyak lagi. Adik ke sana saja biar tahu kegiatan itu," kang jan menjawab sedikit diplomatis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Saya merasa aneh, Pak. Acara itu diisi dengan doa ala agama Islam, sedangkan dalam agama Islam acara itukan tidak ada sama sekali. Rasul tidak pernah memberikan ajaran tentang itu. Bukankah itu bid'ah, Pak?"&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tanya si pemuda. Tampaknya pemuda itu berani berbicara soal agama setelah mendengar bacaan bismillah dari lisan Kang Jan saat hendak duduk di angkot.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Lalu apa yang salah, dik?" Pancing Kang Jan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Ya itu, Pak. Sesuatu yang dikerjakan tanpa ada rujukan dari agama itu sendiri, itu yang salah. Setahu saya itu bertentangan dengan syari'at agama. Tapi kenapa orang-orang yang beragama Islam justeru menjadi penyelenggaranya". Eskpresi pemuda itu sangat serius. Ia seperti sedang berhadapan dengan mangsa yang memang harus ditobatkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Itu gejala menurunnya keislaman kita. Sebuah gejala bahwa banyak muslim tidak mengimani Islam secara &lt;i&gt;Kaffah&lt;/i&gt;," tandas pemuda itu penuh tenaga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Siwa dan Guntur tak banyak berkutik kalau berhadapan dengan situasi seperti ini. bukan karena mereka bodoh, bukan sama sekali. Siwa dan Guntur keduanya lebih sering mengalah dalam situasi seperti ini. Berbeda dengan Kang Jan yang pasti akan berupaya menyelesaikan obrolan sampai tuntas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Islam yang benar itu bagaimana, dik?" tanya kang Jan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Ya sederhana, Pak. Islam yang asli dikerjakan dan dikembangkan oleh Rasulullah SAW. Itu saja kuncinya". Pemuda itu menjawab dengan sangat mantap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Dik," suara Kang Jan meninggi meski tetap dengan eskpresi wajah yang datar. "Saya ini orang Kafir, jadi jangan terlalu menceramahi saya tentang Islam," jawab Kang Jan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Sekonyong-konyong raut wajah pemuda itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berubah. Ia tidak menyangka berbicara terlalu banyak dengan orang yang berlainan keyakinan. Muncul dugaan dalam diri pemuda itu bahwa orang yang diajak bicara bukanlah seseorang yang beragama Islam. Tapi Jawaban Kang Jan belum tuntas ternyata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Tapi saya ini bukan musyrik, tambah Kang Jan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pemuda itu tampak kebingungan. Ia merasa dihadapkan pada pernyataan yang kontradiktif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Bagaimana mungkin Anda merasa sebagi kafir tetapi juga merasa bukan musyrik?" tanya pemuda itu dengan nada bingung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Siwa dan Guntur keduanya hanya tersenyum menahan tawa. Mereka tahu persis watak Kang Jan dan caranya masuk ke dalam sebuah obrolan serius.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Saya merasa sebagai kafir karena kerendahan hati saya selalu aja mengajarkan saya menyadari bahwa iman saya belum sempurna, dik. Karena itu saya berusaha selalu menyempurnakannya. Saya punya iman yang tidak sesempurna iman adik yang sudah sempurna. Karena itu saya belum bisa mengaku sebagai Muslim yang baik. Saya takut jika ternyata saya secara tidak disadari adalah orang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang tidak beriman." balas Kang Jan agak Panjang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Bukankah kafir itu berarti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ingkar Tuhan?" balas pemuda agak gugup. Ia mulai menyadari bobot ilmu orang yang diajak bicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Tidak semudah itu menjadi kafir dan tidak mudah pula menjadi mukmin &lt;i&gt;kaffah&lt;/i&gt;, dik. Kata &lt;i&gt;kafara, &lt;/i&gt;asal kata kafir itu diulang-ulang dalam bentuk yang beragam dalam al-Qur'an. Jadi maknanya juga beragam. Kafir itu artinya orang yang ingkar. Ada yang menolak yakin adanya Tuhan dan keesaannya, itu hanya salah satu arti. Tapi arti yang lain bisa saja ada. Sebut saja surah Ibrahim yang menggunakan kata &lt;i&gt;kafara &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bagi orang yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan. Artinya belum tentu ia tidak percaya Tuhan, melainkan hanya tidak memiliki sensitivitas untuk berterima kasih kepada Tuhan soal pemberian yang berlimpah."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Ekspresi pemuda itu serta-merta berubah. Ia baru sadar berhadapan dengan orang yang cukup memahami agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Terus Pak? tanya si pemuda dengan gugup.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Kekafiran yang paling saya takuti itu ada satu, dik. balas Kang Jan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Apa itu, Pak?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Kekafiran karena saya mencuri hak Tuhan untuk menentukan kebenaran soal siapa yang salah dan benar. Apalagi hal tersebut hanya seputar soal &lt;i&gt;furu'iyyah &lt;/i&gt;atau sesuatu yang spesifik. Mencuri hak Tuhan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk menentukan kebenaran sama halnya menyamakan diri dengan Tuhan yang berkuasa atas kebenaran. Saya takut jika itu terjadi pada saya, maka saya tidak hanya menjadi kafir tapi juga sekaliguis menjadi seorang musyrik yang menjadikan diri sendiri sebagai berhalanya."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Kang Jan sangat serius menjawab hal tersebut, tampak matanya berkaca-kaca seperti menahan tangis. Memang ini hal berat untuk diungkapkan kepada khalayak, tapi kali ini Kang Jan merasa perlu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Soal grebeg itu furu'iyyah, dik. Itu tak perlu dipermasalahkan dengan kekentalan akidah yang sampai pada menyalahkan. ini cara orang jawa mensyukuri nikmat Tuhan. Gunungan itu hanya simbol keberlimpahan pangan yang harus disebarluaskan dan diratakan. Bukan hura-hura. Karena itu ada do'a supaya orang-orang menyadari bahwa semua itu datangny dari Tuhan. Apakah salah jika orang memilih sebuah cara bersyukur yang paling sesuai dengan kebudayaannya?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pemuda itu tercengang seperti sulit untuk menjawab. Tiba-tiba suara Siwa memecah suasana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;"Kang, Ayo. Sudah sampai ini," Siwa memberitahukan Kang Jan yang tampak masih asyiok memperhatikan raut muka sanga pemuda. Ditepuknya lengan pemuda itu dengan senyum, sambil&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berpamitan untuk turun duluan. Tak lupa, Kang Jan melafalkan Bismillah saat beranjak dari jok angkutan kumuh itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Sang pemuda tetap terdiam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Yogyakarta, 2 Januari 2008.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-7159624381124582891?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/7159624381124582891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=7159624381124582891' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/7159624381124582891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/7159624381124582891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2009/01/islam-kaffah-dan-kekafiran.html' title='Islam Kaffah dan Kekafiran'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-2391937135355114888</id><published>2008-12-23T17:58:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T18:00:56.090-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cultural studies'/><title type='text'>Iklan dan Perubahan Konsep Diri</title><content type='html'>Muhammad Irsyadul Ibad, Sy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modern man is alienated from himself, from his fellow men, and from nature. He has been transformed into a commodity, experiences his life forces as an investment which must bring him the maximum profit obtainable under existing market conditions (Erich From:The art of loving (1957)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang pernah pernah berwajah serupa aku&lt;br /&gt;Lalu ia menjadi serupa arang&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku berubah menjadi serupa pohon&lt;br /&gt;Orang-orang mengira aku kayu bakar.&lt;br /&gt;(Sarabunis Mubarok, Kompas 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sungguh terinspirasi gaya Nirwan Dewanto mengartikan globalisasi. Caranya sangat berbeda dengan para ekonom, sosiolog, ahli komunikasi atau ahli antropologi. Definisinya tajam. Lebih bersemangat untuk membongkar praktek tinimbang teori. Cara Nirwan ini mungkin lebih bisa membuat orang seperti saya dan orang-orang sejenis, dengan kemampuan akademik terbatas dan intelensi sedang, dapat memahami  teori-teori besar (grand narrative) yang jarang sulit dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi Nirwan tentang globalisasi setidaknya seperti ini. Saya hanya ingin meniru polanya: “ globalisasi itu, seperti Anda menjual kapas  ke sebuah pabrik benang di Tangerang, lalu pabrik menjual benang ke pabrik garmen di Australia yang membuat kain. Pabrik menjual kainnya ke perusahaan konveksi di Sidoarjo yang melabeli produknya dengan label multinasional. Karena memang mereka bekerja untuk memenuhi pesanan ekspor yang bermerek, hasil produksinya diekspor ke Inggris lalu, sebagiannya, diimpor kembali ke Indonesia. Orang-orang Indonesia bangga memakai baju impor cap Sidoarjo tersebut. Sungguh, ironis sebenarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Nirwan Dewanto mendefinisikan globalisasi memang terkesan bermain-main, tapi sangat serius. Globalisasi itu sangat serius meski pada banyak sisinya sering bermain-main.  Globaliasi bukan berarti sebuah proses ekonomi, komunikasi dan geopolitik (geopol) semata, tapi juga soal kesadaran, kebudayaan dan soal kemanusiaan. Cara pandang yang paling sering tampil di muka membicarakan globalisasi adalah ekonomi. Politik hanya sesekali.  Para budayawan sering tidak terdengar suaranya, bukan karena tidak berbicara, tapi tertutupi semangat pragmatisme dalam keilmuan yang berkembang. Suara mereka sering disebut  anomali atau tidak masuk akal karena melawan arus besar globalisasi yang berkembang. Sekali lagi ini soal kesadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi memungkinkan terjadinya praktek penyeragaman (homogenisasi) kesadaran. Dulu, seorang tetangga yang memiliki kelapa akan dengan sangat sukarela memberikan kelapanya jika ada tetangga yang meminta. Kini sudah berubah, ada banderol harga untuk kelapa-kelapa tersebut. Ada mekanisme ekonomi yang harus ditaati oleh sang tetangga untuk mendapatkan kelapa. Ini sebenarnya bukan soal ekonomi saja, tapi soal kesadaran kebudayaan yang terbentuk seiring dengan menguatnya globalisasi yang juga membawa arus baru cara berpikir dan kesadaran. Globalisasi memang berangkat dari perkembangan kapitalisme atau perkembangan ekonomi yang membutuhkan pembeli dan sumber daya alam dan manusia. Karena itu pelbagai perangkat yang mendukung pencapain tersebut akan diciptakan. Media, budaya, bahasa, ilmu-ilmu pengetahuan dan politik adalah sebaian perangkat yang diciptakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyeragaman  adalah sesuatu yang penting dalam globalisasi. Demokrasi adalah penyeragaman politik dan tata Negara, regulasi pasar modal di ranah ekonomi, dan  pertelevisian di bidang komunikasi. Kesemuanya ditujuakan untuk membentuk sebuah masyarakat yang terbuka pada konsekuensi-onsekuansi persentuhan global.&lt;br /&gt;Bentuk penyeragaman yang beroperasi pada kehidupan sehari-hari masyarakat ada pada kebudayaan. Saya teringat freasa “one dimension man” yang dimunculkan oleh salah seorang tokoh Mazhab Frankfurt, Herbert Marcuse. Marcuse menyebutkan indikasi pengarahan manusia menuju satu dimensi, yakni ketaatan pada satu sistem mekanik pada kebudayaan manusia yang dikendalikan oleh ekonomi kapitalistik. &lt;br /&gt;Tesis homogenisasi menghilangakn berbagai benuk keragaman yang sebenarnya melekat pada kebudayaan . Keberagaman tersebut hancur secara &lt;br /&gt;Membentuk kebudayaan harus dimulai dengan membentuk perangkat utama kebudayaan, yakni kesadaran. Kebudayaan selalu berbasis pada kesadaran tertentu. Kebudayaan jawa contohnya, terbentuk dari kesadaran akan adanya manusia Jawa yang harus memiliki nilai, etos dan sistem-sistem. Kesadaran yang beragam tersebut melahirkan ragam sub-kebudayaan jawa di setiap lokasi yang berbeda. Orang-orang Jawa yang bertransmigrasi, berkat persentuhan dengan dunia yang berbeda, memiliki bentuk kesadaran yang berbeda pula. Kerena itu memunculkan etos dan sistem kebudayaan yang cenderung berbeda dengan masyarakat Jawa di Pulau Jawa itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media, dalam bentuk yang beragam, merupakan sebuah perangkat istimewa di hadapan koorporasi-kapitalisme karena paling memungkinkan untuk digunakan sebagai sarana agitasi dan penanaman kesadaran tertentu dalam masyarakat. Namun, revolusi globalisasi elektronik  merupakan faktor paling berpengaruh terhadap perubahan kebudayaan, sementara televisi adalah penguasanya. Namun kemunculan televisi tidak serta merta menghilangkan media yang lain, hal ini disebabkan oleh sifat dan segmentasi yang berbeda. Perkembangan media —terutama televisi— pada satu sisi membawa nilai positif bagi masyarakat, yakni dengan memungkinkan terjadinya demokratisasi informasi. Untuk itu, tetap dibutuhkan sebuah cara pandang kritis terhadap pelbagai media tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan kebudayaan dalam masyarakat, bagaimanapun, lebih banyak disumbang oleh televisi tinimbang oleh media-media lain. Keunggulan televisi terletak pada kesatuan audio dan visual yang mampu menciptakan kesan nyata tayangannya. Televisi yang dalam fungsi tradisionalnya —seperti media-media yang lain— berfungsi sebagai alat tranformasi informasi, berubah menjadi sebuah alat simulasi seiring dengan perkembangan isi dan cakupan tayangan. Televisi adalah medium hipnose untuk membangun sebuah versi tentang hibrida fakta dan fiksi. Televisi adalah dunia multi-narasi, multi-fashion, multi spektakel, tetapi masih mempertahankan watak temporernya yaitu sebagai media transitori . Dalam penciptaan tayangan, televisi bersifat polisemik, terdiri dari banyak tanda, serangkaian kode yang bersifat visual, verbal, teknikal, dan presentasional.  Polisemi ini menghasilkan kompleksitas visual dan aural, menciptakan berbagai kemungkinan sensasi optikal pada khalayak.  Walau demikian televisi tetap menggunakan strategi naratif  yang mengarahkan kita agar memahami pelbagai acara tersebut dengan cara tertentu. Dengan kekuatannya, televisi menjadi sebuah alat baru yang mendorong penciptaan kebudayaan baru yakni kebudayaan massa . &lt;br /&gt;Televisi tidak hanya mengembangkan berbagai tayangan yang bersifat informatif dan menghibur, tetapi televisi juga menjadi sebuah media yang secara cukup massif menjadi sebuah media yang menyampaikan produk-produk kepada masyarakat. Iklan. Iklan merupakan salah satu isi terpenting dalam televisi. Diakui atau tidak, televisi sangat bergantung pada tayangan iklan untuk bertahan. Karena itu, berbagai tayangan yang dibuat menarik sedemikian rupa, tetaplah bertujuan untuk mempertinggi rating yang berarti keuntungan finansial dari penayangan iklan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep iklan mulanya berkembang dari pandangan ekonomi kapitalistisme. Dibentuk sebagai alat untuk memperkenalkan produk tertentu, iklan diharapkan dapat mendongkrak jumlah konsumsi yang berari peningkatan penghasilan produsen &lt;br /&gt;Pada perkembangan selanjutnya, iklan berkembang menjadi semakin kompleks. Di dalamnya berkembang model-model pencitraan tertentu. Kompleksitas isi iklan juga berkembang seiring dengan kemajuan pengetahuan marketing dan komunikasi. Didukung kedua perangkat ini, iklan telah menjadi sebuah pemaparan produk yang tidak hanya memperkenalkan produk tapi menempelkan citra tertentu padanya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan paradigma kapitalisme juga sangat mempengaruhi bentuk dan model pencitraan dalam iklan. Visi utama kapitalisme yang memandang bahwa untuk mendapatkan konsumen, produsen harus mencipta kebudayaan yang mendukung konsumsi, memperkaya kode-kode pada iklan. Iklan yang semula berisi kode-kode untuk memperkenalkan produk semata, kini berubah menjadi sebuah cara untuk membentuk kebudayaan dan cara pandang atas sebuah cara mempergunakan produk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komoditas yang semula dikonsumsi karena faktor kebutuhan biologis-fisiologis, akhirnya dikonsumsi karena tuntutan kebutuhan kebudayaan. Hal ini bermula dari perubahan cara pandang tentang kebutuhan itu sendiri. Masyarakat yang sangat memperhatikan kebutuhan pokok (primer) kemudian berubah menjadi masyarakat yang sangat bergantung pada kebutuhan-kebutuhan tersier atau bahkan sesuatu yang komplementer. Nyaris tak ada pembatas yang cukup jelas antar ketiga klasifikasi kebutuhan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan merupakan salah satu perangkat penting agitasi pembentukan budaya massa. Semangat iklan bukan hanya semangat memperkenalkan produk tetapi lebih merupakan semangat untuk memasukkan idiologi mengkonsumsi bagi para pemirsanya.  Iklan mencoba mengaburkan batasan-batasan konvensional kebutuhan yang sebelumnya dipahami secara tadisional bersifat hirarkis sistematik. Iklan membentuk sebuah cara pandang baru tentang kepuasan dan kebutuhan. Kebutuhan sudah bukan lagi bersifat biologis, tetapi psikologis. Jadi wajar jika iklan mencoba menawarkan cara pandang baru tentang batasan-batasan kebutuhan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan cara pandang kebudayaan tersebut tidak dapat dilepaskan dari perubahan tentang ”konsep diri” pada masyarakat. Diri yang mulanya merupakan bagian integeral dari masyarakat dengan bentuk komunikasi yang riil, dikonversi menjadi diri yang solitaire. Relasi individu dan masyarakat pun diupayakan berubah menjadi relasi simbolik. Relasi simbolik dalah model komunikasi yang mengedepankan aspek-aspek simbol untuk menyatakan diri. Buruknya, simbol-simbol tersebut dihubungkan dengan gaya hidup yang sangat bergantung pada produk-produk tertentu.  &lt;br /&gt;Dalam konteks ini, iklan dinilai memiliki peran penting untuk merubah kebudayaan, atau individu dalam cakupan yang lebih kecil. Iklan kini menjadi alat komunikasi yang membentuk kebudayaan dan mengontrol keras cara berpikir masyarakat. Soal kulit, misalnya. Iklan pemutih mencoba mengintrodusir bahwa kulit yang bagus adalah kulit yang berwarna putih atau kuning langsat. Iklan ini sebenarnya bersifat rasis atau mengingkari kenyataan keberadaan orang berkulit hitam sebagai salah satu jenis ras manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks psikologi kebudayaan, perubahan kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari perubahan konsep diri pada individu serta cara menempatkan diri dalam lingkup sosialnya.  Karena itu, iklan merupakan sebuah pendekatan untuk mengajarkan individu untuk merubah cara pandang tentang diri baik dari sisi kognitif dan afektif, menuju konasi yang menghubungkan manusia dengan proses konsumsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan perubahan konsep diri, berarti memasuki dimensi psikologis manusia. Karena itu cultural studies,  sebagai otoritas keilmuan berbicara kebudayaan sering menggunakan pelbagai pendekatan psikolgi guna membuktikan pernyataan hipotetis bahwa perubahan kebudayaan menuju budaya massa didahului oleh perubahan konsep-konsep tentang diri pada pelaku kebudayaan. Salah satu pendekatan utama dalam studi ini adalah psikoanalisis. Aliran yang bermuara dari Sigmund Freud ini dinilai banyak mendukung upaya menjelaskan fenomena perubahan kebudayaan yang menggejala dengan serentak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Freud memang banyak dilibatkan dalam proses investigasi kebudayaan ini. Namun teori dari seorang psikoanalis yang meneruskan tradisi freudian,  Lacan, menjadi sebuah pendekatan favorit baru dalam pembahasan ini. Lacan tidak hanya disebut-sebut sebagai tokoh penyegar pelbagai teori freudian yang mati di tangan Freud tua, ia juga dinilai sebagai tokoh yang mampu mempertemukan pelbagai pendektan ilmiah tentang manusia di bawah payung psikoanalisis. Lacan mampu mempertemukan gramatologi Derrida, Antopologi strukturalis Levis Strauss, semiotika Ferdinand Saussure, dan kepercayan atas ketidaksadaran yang dimiliki oleh Freud itu sendiri. Meski Lacan bersemboyan kembali ke ketidaksadaran dan Freud, pada pemikiran keduanya terdapat beberapa perbedaan konsepsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Freud Lacan memberikan titik tekan yang cukup kuat atas perkembangan perversitas polimorfosis pada bayi. Ia juga menganggap perkembangan tersebut merupakan fase yang paling berpengaruh pada keseluruhan hidup manusia. Lacan juga memberikan perhatian pada hubungan bayi-ibu-ayah yang dalam psikoanalisis Freudian mendapat tempat cukup dominan. Namun, hubungannya pun sangat berbeda dengan hubungan yang digambarkan oleh Freud dalam teori perkembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan utama antara Freud dan Lacan terkait dengan keputusan Freud meletakkan id dalam kontrol ego. Adagium Freud  Wo Es War, Soll Ich Werden (dimana Id, disana ada ego) yang berarti kemenangan ego (kesadaran) atas id adalah yang membedakannya dengan Lacan. Lacan terinpirasi Freud muda yang masih memiliki semangat untuk mengungkap ketidaksadaran pada manusia. Bagi Lacan, upaya penundukan id oleh ego merupakan sesuatu yang mustahil karena ego sebenarnya tidak pernah terbentuk. ego adalah sebuah konsep yang salah yang diperoleh oleh subjek  pada proses perkembangan perversitas polimorfosis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ego dalam lacanian merupakan sebuah produk jadi dari id yang terbentuk melalui mekanisme kesalahan mengenali (méconaît) diri di hadapan cermin pada sebuah fase yang disebut fase cermin (statu de miroir). Ego adalah ilusi atau pseudo-identitas. Stadu de miroir merupakan fase yang pada akhirnya menentukan keseluruhan identifikasi dalam diri manusia. Keseluruhan eksistensi manusia, menurut Lacan, mau atau tidak, dipengaruhi dan dikontrol oleh ketidaksadaran . Itulah jantung pemikiran Lacan.&lt;br /&gt;Fase cermin merupakan sebuah salah satu fase perkembangan perversitas polimorfosis bayi . Pada fase cerminal, bayi menemukan dirinya berhadapan dengan yang liyan . Dalam makna yang metaforis, cermin berarti sesuatu —liyan— yang menyadarkan akan adanya diri seseorang atau memberikan gambaran tentang adanya diri. Dalam pandangan ke arah cermin inilah bayi menyadari bahwa dirinya eksis sebagai seseorang yang berbeda dengan ibu (mOther) atau liyan-liyan aktual lainnya (other). Ego adalah hasil dari pencitraan ini. Artinya, ego hanyalah merupakan sebuah hasil dari sebuah kesalahan mempersepsi. Ego hanyalah sebuah kesadaran palsu tentnag kemandirian dan keutuhan subjek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyatakan bahwa ego adalah hasil kesalahan mempersepsi diri dalam proses cerminal, konsekuansinya adalah pernyataan Lacan bahwa manusia tidak sadar secara keseluruhan. Sangatlah logis tentunya. Karena kesadaran bermula dari sebuah ketidaksadaran atau setidaknya kesadaran yang palsu (false concenciousness), maka segala produk yang dihasilkannya adalah sebuah ketidaksadaran pula. Watak  relasi Yang Imajiner dan Yang Simbolik yang senanntiasa bersifat koeksis atau saling bermuinculan dan bergantian, artinya proses cermin tidak hanya akan berhenti pada proses munculnya kesadaran yang memishakan aku —sebagai subjekyang mandiri— dengan ibu —sebagai liyan. Dengan demikian, pembentukan ego melalui proses bercermin akan senantiasa terjadi saat berhadapan dengan liyan-liyan aktual lainnya. &lt;br /&gt;Bersemayamnya hasrat dalam Yang simbolik  memungkinkan adanya pengaruh hasrat dalam pembentukan citra-citra ideal yang dinyatakan sebagai ego oleh subjek. Pembentukan ego yang berlangsung secara terus menerus —sebagai konsekuensi sifat koeksifitas Yang Imajiner dan Yang Simbolik— secara tidak langsung akan dikendalikan oleh hasrat yang tidak mungkin, bagi Lacan, dikendalikan tau dihentikan oleh kesadaran. &lt;br /&gt;Kunci untuk memahami hasrat dalam kepemilikan subjektif dan kulturalnya dapat diketemukan dalam diktum Lacan di mana hasrat (desire) bisa dipahami sebagai hasrat akan liyan (desire of other). Namun, terdapat tiga ambiguitas krusial dalam formulasi ini yang terdaftar dalam tiga basis pembedaan di antara ranah hasrat tersebut. Pertama, hasrat menjadi (to be) atau hasrat memiliki (to have). Hasrat dalam bentuk ini terhubung dengan distingsi yang dibuat oleh Freud antara narcistik dengan anaclitik libido. Kedua, kata ”of ” dalam  formulasi Lacan, berfungsi senbagai hal yang subjektif genitif dan objektif genitif, yang mengindikasikan bahwa other bisa menjadi  objek atau subjek dari hasrat. Hal ini diformulasi oleh Freud sebagai tujuan aktif dan pasif dari libido. Ketiga,  kata liyan (the other) bisa berupa imaji dari liyan yang telah berada dalam daftar imajiner (imaginary register) atau kode-kode yang mengonstitusi tatanan simbolik . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Lacan menjelaskan hasrat dalam empat bentuk, yaitu: pertama,  Passive narcisstic desire. Dalam hasrat ini seseorang bisa  menjadi objek untuk cinta, pengakuan dan idealisasi dari orang lain. Kedua, Active narcisstic desire. Pada konteks ini seseorang dapat menjadi hasrat untuk menjadi orang lain. Hasrat ini merupakan sebuah bentuk cinta atau devosi pada sesuatu yang lain. Ketiga, Active anaclitic desire. Hasrat ini mendorong seseorang untuk memiliki orang lain untuk sebuah tujuan jouissance. Dan, keempat, Passive anaclitic desire. Hasrat ini mendorong seseorang  untuk dimiliki atau dihasrati oleh seseorang untuk menjadi objek  jouissance . &lt;br /&gt;Upaya analisa iklan televisi akan lebih menekankan pada upaya menemukan bukti-bukti fenomenologis antara manusia yang “berkaca” pada “cermin” tertentu dalam terminologi Lacan . Iklan diposisikan sebagai sebuah cermin yang secara langsung membentuk ide tentang ego pada subjek.  Fungsi cermin adalah media pengenalan konsep diri. Artinya, seseorang melihat dirinya melalui liyan. Proses konsfrontasi atau pengecekan tersebut setidaknya memberikan efek terbentuknya konsep diri yang dipengaruhi oleh bentuk dan skema liyan yang menjadi cermin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks periklanan, iklan merupakan sekumpulan simbol yang idiologis. Iklan bukanlah sesuatu yang dibuat tanpa sebuah tujuan.  Sistem penganalan produk dalam pemasaran dunia industri modern yang menciptakannya. Sebagai simbol, iklan dikategorikan sebagai sistem simbol yang tidak natural dan dibuat dengan rekayasa manusia. Iklan ditujukan untuk membentuk persepsi atas suatu produk dengan konsumsi sebagai hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi sebagai sebuah media informasi yang paling lengkap ―dengan gambar, suara dan gerak― memiliki kemungkinan besar untuk memberikan efek idiologisasi kepada pemirsanya. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kevin D. Brown, dinyatakan bahwa semakin lengkap tampilan sebuah media maka semakin besar pula kemungkinan kekuatan pengaruhnya pada penonton. Namun, sesuatu yang tidak bisa dilupakan adalah intensitas. Tingkat keseringan penayangan ikut mempengaruhi  pembentukan persepsi dan sikap. Berangkat dari penelitian tentang kekerasan dalam media, Brown menemukan bahwa anak cenderung menirukan sesuatu yang ditayangkan secara berulang-ulang tinimbang sesuatu yang secara cepat dan sekali tayang. Namun, penayangan sesuatu yang berbeda  dengan subjek yang sama tetap memberikan efek pengaruh yang sama. Kekerasan, misalnya. Beberapa tayangan berbeda yang bermuatan kekerasan tetap memiliki kemungkinan besar mendidik penonton menjadi pelaku kekerasan. Hal ini lebih disebabkan oleh adanya intensitas isi . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengacu pada pendekatan lacanian, iklan menjadi liyan-liyan aktual yang terus mempengaruhi proses bercermin pada subjek. Iklan akan memberikan identitas bagi subjek yang berkaca pada iklan. Keterlibatan hasrat menjadi (to be) dan hasrat memiliki (to have) yang juga bertopang pada keberadaan liyan ikut membentuk sebuah sistem identitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan, dengan menggunakan pendekatan media kerap disebut sebagai simbolisasi produk. Artinya, Iklan merupakan upaya untuk memperkenalkan produk menggunakan simbol-simbol tertentu. Dalam konteks semiotika, iklan adalah penanda dari sebuah produk yang menjadi petanda. Tanda-tandanya dapat berupa gambar begerak, video, suara, warna, motto dan slogan. Namun, dalam konteks Lacan, iklan tetap menjadi sebuah penanda (signifiers) murni yang beroperasi untuk penanda itu sendiri. Artinya penanda mereproduksi penanda yang lain. Selalu. Hubungan pendanda yang bagi Lacan adalah bagi penanda itu sendiri, berarti terus menerus menjadi penanda atau mereproduksi penanda yang lain. Iklan sebagai penanda menghasilkan orang-orang yang mengikuti kepercayaan dalam iklan tersebut yang selanjutnya menjadi sebuah  penanda yang baru. Sebagaimana Lacan menyatakan bahwa operasional penandaan adalah bentuk operasional ketidaksadaran yang tidak bisa dihentikan sirkulasinya, penandaan dalam iklan juga  berarti sirkulasi ketidaksadaran yang sulit dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirkulasi ketidaksadaran akan terus berkembang bilamana subjek yang telah merekognisi identitas tertentu berdasarkan cemin iklan, dijadikan oleh subjek-subjek lain. Di sinilah letak pembentukan kebudayaan, yaitu terbentuknya rantai penandaan yang terus berkembang dan menghubungkan subjek dengan subjek-subjek lainnya. Kebudayaan masa dan konsumsi yang massif terbentuk dengan konfigurasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, iklan bukanlah penanda satu-satunya yang mendukung pembentukan identitas. Berbagai tayangan lainnya, seperti sinetron, film, kuis, reality show, infotaiment, dll merupakan faktor yang ikut menyumbang pembentukan identitas-identitas kultural yang bermula dari perubahan identitas subjektif personal tersebut. Iklan hanyalah bagian kecil yang menjadi cermin, masih terdapat beberapa acara lain yang ikut mempengaruhi pembentukan identitas tersebut. Iklan di televisi juga didukung oleh iklan-iklan dalam bentuk yang lain seperti billboard, reklame, iklan radio dan iklan majalah serta surat kabar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh iklan dan tayangan televisi lainnya pun tidak begitu mempengaruhi sisi konasi suatu masyarakat yang berada di wilayah yang memiliki  fasilitas terbatas, seperti kota-kota kecil. Meski terjadi perubahan konsep diri ideal akibat pengaruh iklan dan tayangan,  namun subjek-subjek di wilayah dengan fasilitas terbatas tidak selalu dapat mengapresiasikan perubahan tersebut.  Karena itulah, perubahan pada masyarakat urban  berkemungkinan terjadi secara ekstrem. Peralihan lingkup geografis menuju kota yang memiliki kelengkapan untuk mengapresiasikan, seperti mall, hypermarket, cafe, longue dan skin care  akan lebih memberikan dukungan atas bekerjanya pengaruh iklan dan tontonan. Artinya, perubahan konsep dir belum tentu memberikan efek perubahan pada perilaku secara ekstrem. Terjadi penyesuaian dalam diri subjek terhadap beberapa prasyarat ketersediaan pendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masyarakat di wilayah geografi yang meiliki akses konsumsi terbatas, konsumsi akibat pengaruh iklan bersifat terbatas pula. Faktor lain penyebab kuatnya proses perubahan gaya hidup dan konsumsi di masyarakat kota adalah bertebarannya cermin-cemin lain yang berupa komunitas atau personel yang telah terlebih dahulu merekognisi kebudayaan konsumsi dan massal. Perubahan konsep diri individu sangat ditentukan oleh massifnya penanda dan sistem penandaan yang menjadi cermin yang tidak bersifat tunggal. Semakin besar jumlah cermin yang menjadi sumber acuan pembentukan ego ideal, akan memperbesar kemungkinan perubahan konsep diri pada subjek yang bercermin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penanda, iklan, berisikan kode-kode yang bekerja untuk penanda itu sendiri. Ia tidak bekerja untuk memberikan sesuatu yang riil kepada konsumen. Ia hanya memberikan penandaan pada komoditas-komoditas. Sekali lagi, dalam diskursus lacanian, ini berarti perputaran penandaan yang berarti perputaran ketidaksadaran. Proses rekognisi atas suatu tanda dalam iklan merupakan penciptaan penandaan yang baru. &lt;br /&gt;Pada pembicaraan psikologi, istilah need yang dilekatkan pada pemenuhan basis-basis kebutuhan fisiologis. Artinya, secara psikologis manusia terdorong untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan fisiologisnya. Menurut Maslow, kebutuhan fisiologis merupakan yang terendah dalam konfigurasi piramidal kebutuhan manusia . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan merupakan dorongan psikologis yang sebenarnya membuat manusia bertahan untuk hidup. Tanpa keinginan manusia akan sulit untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki. Keinginan tidak hanya  berghubungan dengan sesuatu yang primer, tetapi juga mungkin untuk berhubungan dengan sesuatu yang sekunder bahan tersier.  Dalam konteks ini, iklan secara tidak langsung mengaburkan batasan antara keinginan dengan kebuthan primer, sekunder dan tersier.  Iklan mendorong konsumen untuk memiliki keinginan menjadikan sesuatu yang tersier menjadi primer. Pengaburan ini diciptakan untuk menghilangkan klasifikasi barang penting dan tidak penting yang masih melekat kuat pada masyarakat. Namun, tidak kesemua generalisasi ini terjadi, seperti dalam pandangan Maslow, karena manusia memiliki kekuatan untuk mengukur kebutuhan berdasarkan batasan kebutuhan yang lebih dahulu dibutuhkan . Untuk itu, perubahan konsep diri bisa saja terjadi pada subjektifitas individu, namun belum tentu mempengaruhi konasi seseorang untuk merekognisi pandangan-pandangan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Dalam pandangan Lacan, ada hasrat yang selalu mengikuti kemanpun ego berkehendak. Hasrat adalah sebuah bentuk ketidaksadaran yang tidak dapat dirasakan oleh ego yang disebut-sebut sebagai elemen sadar pada register psikologis manusia. Bahkan dalam register psikologis pembuat iklan pun terdapat sebuah kekuatan ketidaksadran yang disebut —meminjam istilah Nietsche— hasrat untuk berkuasa (will to power). Dalam pandangan Lacan, pembuatan iklan dapat saja dikung oleh kedua bentuk hasrat yakni untuk memiliki (to have) dan menjadi (to be).&lt;br /&gt;Pembacaan atas iklan dan pengaruhnya terhadap konsep diri yang menggunakan pendekatan fenomenogis ini sangatlah dirasa kurang mengingat minimnya sumber data yang diakses. Untuk itu, kira perlu untuk dilakukan peneilitian-penelitian atau kajian yang lebih mendalam untuk dapatmenghasilakn hasil kajian yang lebi baik.  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Audifax, Imagining Lara Croft, Psikoseiotika, Hiperrealitas dan symbol-simbol ketidaksadaran. Bandung. Jalasutera. 2006.&lt;br /&gt;Barker, Chrish. Cultural Studies, Teori dan Praktek, Terj NurHadi. Yogyakarta. Kreasi wacana.  2006.&lt;br /&gt;Boeree, George. Personality Theories, Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Yogyakarta. Prismasophie. 2005.&lt;br /&gt;Browne, Kevin, D. Catherine Hamilton- Giachritsis. The influence of violent media on children and adolescents: a public-health approach. www.thelancet.com.  Journal Vol 365 February.  2005&lt;br /&gt;Dewanto, Nirwan . Senjakala Kebudayaan. Yogyakarta. Bentang. 2000&lt;br /&gt;Fink, Bruce. The Lacanian Subject, Between Language and Jouissance. New Jersey. Princeton University. &lt;br /&gt;Hill, Philip, Lacan Untuk Pemula, terj. A. Widyamartaya. Yogyakarta. Kanisius: 2002&lt;br /&gt;Herbert, Daniel. Introducing Mass Media and Popular Culture. London. Basic Book, Inc. Publisher. Januari 2000.&lt;br /&gt;Mubarak, Sarabunis. Dalam Hijau Kelon dan Puisi 2002. Jakarta. Kompas. 2003&lt;br /&gt;Protevi, Jhon.  Some Subjects in Lacan. http://www.protevi.com/john/DG/PDF/Subject_ Formation_in_Lacan.pdf&lt;br /&gt;Yohanes, Benny. Televisi dan Spiral Kebisuan. Dalam Kompas 17 Februari 2008.&lt;br /&gt;Satriani, Dominic . Popular Culture, terj Abd, Mukhid.Yogyakarta. Jejak 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-2391937135355114888?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/2391937135355114888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=2391937135355114888' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/2391937135355114888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/2391937135355114888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/12/iklan-dan-perubahan-konsep-diri.html' title='Iklan dan Perubahan Konsep Diri'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-2536592310359173232</id><published>2008-12-21T08:15:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T17:57:09.847-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Experiences reflection'/><title type='text'>Demonstrasi 20 Desember 08</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rFcQYkHNvmA/SVGWnTl0qlI/AAAAAAAAAPM/XDe0ULCW9eE/s1600-h/fight.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 144px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rFcQYkHNvmA/SVGWnTl0qlI/AAAAAAAAAPM/XDe0ULCW9eE/s200/fight.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283169439900281426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam menunjukkan pukul setangah tiga sore. Saya masih duduk di depan komputer untuk meneruskan proses editing film “kampanye iklan yang mendidik”. Saya sendirian setelah beberapa teman berangkat memancing ikan untuk  membuang penat di akhir pekan. Sungguh, saya mersa sangat suntuk.&lt;br /&gt;Tiba-tiba sebuah sms datang dari seorang kawan yang belum lama berangkat pulang ke pakem. Isinya kira-kira begini: “Mas, ada demo menarik di pertigaan UIN (Sunan Kalijaga). Pendemo blokir Jalan. Banyak polisi di sini. Kalau mau buat stock shoot menarik”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak buang waktu lama, saya segera berganti pakaian. Menyalakan sepeda motor yang sudah 4 hari tidak dinyalakan mesinnya, lalu langsung berangkat. Niatan ingin berangkat cepat sedikit terhalangi, ternyata sepeda motor butut ini sudah kekeringan bensin. “wah, bensin sudah turun tapi kok malah ada motor kekeringan bensin, “ saya berkelakar sendiri untuk buat kesal. Saya benar-benar terobsesi mengbadikan sebuah moemen penting. Saya yakin ini demonstrasi soal BHP. Sayang kalau prosesnya tidak terdokumentasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai mengisi bensin, saya langsung menuju ke tempat yang disebutkan kawan tadi. Saat memarkir motor di depan KFC Galael saya dapat menyaksikan dari kejauhan asap mengepul yang berasal dari bakaran ban dari arah selatan. Polisi dimana-mana. Ada yang mengatur lalu lintas, ada juga yang bergerombol menghadang barisan mahasiswa yang masih terus berorasi. Tampak dari kejauhan beberapa antribut dan bendera FMN (Front Mahasiswa Nasional). Di depan KFC sudah banyak masyarakat yang berkumpul. Di antaranya tampak beberapa polisi berpakaian preman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya mendekati barisan demonstran  suasana masih tenang. Meski mereka membakar ban tapi suasana masih terkendali. Polisi hanya mengawasi. Tampak berada di Depan Kapolsek Sleman yang memperhatikan demonstran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana mulai memanas saat dua orang demonstran datang membawa ban tambahan untuk dibakar. Polisi langsung mencegah, ini cukup berhasil. Tampak polisi juga sudah menyiapkan tabung hidrant untuk memadamkan api jika dibutuhkan. Tak lama, di bawah komando seorang mahasiswa, para demonstran mulai membuat barisan. Mahasiswa berjumlah kira-kira 30 orang ini yang mulanya bertebaran mulai mengambil posisi. Komando diteruskan dengan menggring demonstran menuju ke tengah pertigaan. Polisi mencoba menghadang. Dorong-mendorong dimulai. Keributan sempat terhenti sebentar ketika Kapolres meminta mahasiswa untuk tidak berorasi di tengah pertigaan karena dikhawatirkan mengganggu lalu lintas. Mahasiswa meminta untuk tetap diizinkan meskipun untuk durasi singkat. Tapi polisi menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan alot ini berujung dorong-mendorng lagi. Beberapa polisi yang berada di barisan kedua tampak sudah mulai melayangkan alat pemukul ke arah mahasiswa. Dorong mendorng berlanjut. Malang sekali seorang mahasiswa yang berada di depan. Dia terjatuh dan diseret oleh aparat. Upaya beberapa kawannya untuk menarik gagal dilakukan karena dihalau pentungan. Tak ayal mahasiswa ini menjadi bulan-bulanan polisi. Diinjak-injak, dipukul pentungan dan tangan. Saya sempat mengambil gambar ini. Kemudian seorang perwira polisi membawanya. Saya menyaksikan kepalanya berdarah. Darahnya cukup banyak. Saya yakin ia luka cukup parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu demonstran dan polisi sudah saling melempar batu. Saya sendir sempat ketakutan dengan batu-batu yang beterbangan. Tampak juga seorang foto grafer yang kehilangan kamera SLR karena hantaman batu. Polisi dengan tameng dan pentungan  terus melempari mahasiswa, juga sebaliknya. Dari arah masyarakat yang berada di depan KFC, tampak juga beberapa orang melemparkan batu ke arah mahasiswa. Setelah saya perhatikan beberapa di antaranya adalah intel dan yang lainnya anak jalanan dan preman sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaasana sulit dihentikan karena mahasiswa bertahan dengan terus melempari polisi dengan batu. Polisi juga terus melempar batu. Arus lalu lintas dialihkan. &lt;br /&gt;Tiba-tiba, suara temakan berulang-ulang muncul dari barisan polisi. Saya sempat terkejut, baru kali ini saya mendengarkan suara tembakan dari dekat. Tampak beberapa polisi dan intel berlarian menembakkan senjata api. Syukurlah, saya merasa lega ketika mengetahui tembakan di lepaskan ke udara. Saya mengikuti terus polisi-polisi ini untuk mengambil gambar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisi menang satu langkah. Mahasiswa terdesak setelah sebuah panser datang dari arah selatan. Mereka mundur dan masuk dalam kawasan UIN Sunan Kalijaga sayap sebelah timur. Polisi mendekat. Saya sedikit terkejut ketika seorang polisi mengajak masyarakat untuk ikut “menggrebek” mahasiswa. Untungnya ada seorang perwira yang melarang. Sebelumnya, saya juga mendengar seorang polisi memerintahkan anak jalanan untuk memanggil rekan-rekannya  untuk menghentikan mahasiswa. Saya tidak tahu, model apa ini. Untuk menghentikan sesuatu, haruskah dihimpun kekuatan-kekuatan yang berpotensi menggunakan kekerasan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa bertahan terus, berada dalam lindungan kampus. Polisi tidak berani sembarangan masuk ke dalam kampus tentunya. Apalagi diketahui bahwa demonstran sebagian besar bukanlah mahasiswa UIN. Semua bertahan. Lempar-lemparan batu sesekali terjadi. Kendaraan lapis dengan meriam air, pasukan huru-hara (PHH) dan anjing herder didatangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana sempat sedikit memanas setelah beberapa mahasiswa Papua datang dari arah selatan. Polisi PHH beberapa di antaranya sudah bersiap. Tapi ternyata mereka datang dengan maksud yang baik. Mereka datang untuk menenangkan rekan-rekan mereka serta mengajak pulang agar tidak terus terjadi kekerasan. Setelah menemui polisi, mereka diberi kesempatan untuk menemui demonstran. Tapi, demonstran menolak untuk meninggalkan kampus. Mereka memilih bertahan. Saat itu, pasukan anti huru-hara sudah bersiap di depan gerbang yang diganjal dengan sebuah kayu besar. Dialog terus dilakukan. PR III UIN pun turun tangan. Tapi gagal membujuk demonstran yang jelas bukan mahasiswanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jenuh dengan suasana in , saya mengemasi kamera dan alat-alat lainnya lalu bergegas meninggalkan tempat kejadian. Saya masih tertari untuk mendokumenatsikan, sebenarnya. Tapi ada beberapa hal yang mengganggu pikiran saya, terutama soal kekerasan yang baru saja terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu, kelompok manakah yang sebenarnya bersalah dalam lingkaran kekerasan tersebut, tapi (polisi dan mahasiswa) telah mempraktekkan kekerasan. Mahasiswa juga membabi-buta melempar ke arah warga yang tengah menyaksikan demonstrasi, sedangkan polisi juga dengan cukup brutalnya memperagakan pengeroyokan atas mahasiswa yang tertangkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik kekerasan seperti ini, entah mengapa, seperti menjadi sebuah model penyelesaian masalah. Aparat pemerintah dan masyarakat sipi l keduanya sama-sama suka mempraktekkannya. Hal ini seperti menjadi sebuah habitus baru dalam praktek sosial, yakni praktek kekerasan yang dipergakan secara terbuka untuk memenangkan sebuah kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kelompok masyarakat yang menyaksikan, tampak di anatara mereka anak-anak. Saya yakin, hal ini akan menjadi sebuah model bagi mereka. Hal ini sangat mungkin terjadi apabila peristiwa kekerasan yang mereka saksikan tidak dapat dijelaskan atau mendapatkan keterangan yang berimbang. Tampak pula anak-anak jalanan yang dengan wajah sumringah ikut melempari mahasiswa, saya menjadi lebih tidak mengerti dengan hal ini. Yang saya tahu, mau berkulit putih, hitam, mahasiwa, polisi, atau siapapun pasti akan sakit jika mendapat pukulan dan pentungan, terkena lemparan batu atau tertembak. Ini sisi manusiawi yang tidak bisa diabaikan begitu saja.  Sisi yang terkadang harus diingat agar kita tidak dengan mudah melakukan kekerasan fisik kepada siapapun, apa pun alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sabtu, 20 Desember 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-2536592310359173232?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/2536592310359173232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=2536592310359173232' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/2536592310359173232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/2536592310359173232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/12/catatan-tentang-kekerasan-demonstrasi.html' title='Demonstrasi 20 Desember 08'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rFcQYkHNvmA/SVGWnTl0qlI/AAAAAAAAAPM/XDe0ULCW9eE/s72-c/fight.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-8303369285753914213</id><published>2008-12-12T05:48:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T05:50:12.453-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Free articles'/><title type='text'>MANAGING THE DIFFERENCES FOR THE SAKE OF HUMANISM</title><content type='html'>People of the state are always silence. People of the state are always silence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But they have still remember and have never forgotten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;People like a giant dragon. His bigh body coils in silence,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;but five senses and intuition of him are strong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don’t hurt them, even hurt them time and again.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They will get-up and destroy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakob Sumardjo3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While I write this paper, Indonesian mass-media is busy to break news on an execution of three Bali bombers (10-12-2002). Finally, they are executed on 2 PM (11-9-2008). This current news had been evocative the humiliated tragedy which killed 202 people and gashed 200 people in six years ago. This is the humiliated tragedy in Indonesia and has been still living within memory of the society. This tragedy is not only indicator of spreading radicalism in pluralized-Indonesian society, but it’s a major threat to pluralism and tolerance in Indonesia as well. The Bali’s bombing had brought us into question about the seriousness of Indonesian to live together in diversities. It becomes an admonition the other countries to break the same terrors and avoid it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bali’s bombing has also reminded me some tragedies in Indonesia such as Borobudur’s bombing in the end of decade 1980s, battle between Moslems and Christians in Moluccas and Poso, Ketapang’s riot, etc. The tragedies were being caused a dead loss to the humanity, either material or soul. Ironically, causal factor of these tragedies is same, standing guard over the faith. I have reminded the riot in 1998 conterminous to the fall of despotism Soeharto’s regime and the riot between Dayak and Maduranese in the 2000s. Those riots are the peak social injustice kept by the state and disability to manage the diversity and the plurality among the society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The conflict is recognized as natural in human being. According to Diana Francis, conflict is defined as a sign of life which exists since people and their life are, fortunately, not identical, isolated or static, conflict between them is inevitable4. Despite of Diana refuses to assume that the conflict related to violence, grief and death. The conflict is not always related to the violence and the war. But, this assumption had been rooted in our culture. The cultural pattern had positioned people competitively and dominantly, not cooperatively. The relation supports the human being to struggle and fight to be a winner in order to bear down any diversity of thoughts, interests, and paradigms. Those are roots of the violence: a feeling of domination, ambition to be winner, and a failure of human being to cooperate each other.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a natural pattern, the conflict has risen from the diversity of one of human’s dimensions in their interpersonal relation. Disability of managing diversity it self is a root of conflict. But, the diversity is not the only causal factors of conflict. If we can manage the diversity well, we will build dynamic social system, since the human being essentially needs diversity to survive. The diversity is natural. In small scale, every body has individual differences which can’t be equalized to the others. Although every body has some similarities in many human dimensions, but certainly, he/she still has differences in many another of dimensions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Based on assumption that the conflict rooted from the unmanaged-diversity into cooperative relation, this paper would like to share that the conflict is caused by many factors, not single factor. We need more than one approach to analysis the causal factors of conflict, like historical approach, economic, political, and socio-religion one that means all aspects of human being may cause the conflict. In resolution level, those aspects must be analyzed in order to solve the latent conflict in the society and to find the basic causalities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Indonesia context, for example, many conflicts are not caused the single factor, such as the riot in May 1998. The ethnic riot victimized Chinese is not only caused injustice economic, but also the discriminated-governmental policy to Chinese. The New Order regime5 has educated people to discriminate this ethnic. It’s a bad civic education and political one. The economic issue is major factors of the riot and violence, indeed an economic jealousy between indigene Indonesians and Chinese. Even the new order regime plays great roles to educate and keep the indigene Indonesian abhorrence to Chinese. The failure of political education has reproduced the abhorrence that which I called politic of memorization. That is a power activity in order to keep a special image against the certain group of society for sake of keeping the power. The politic of memorization had operated not only through education and imaging, but had operated in all sectors, such as state administration. The Chinese wasn’t permitted to use Chinese names in new order era. They were being signed by a special sign in their residence identification card in order to differ them to another people. Besides that, the new order government didn’t permitted the Chinese to celebrate any Chinese celebrations, such as Imlek, Peh-Cun, etc. the Chinese got their freedom to express their culture and religion when Kiyai Haji Abdurrohman Wahid, well-known Gus Dur became the 4th president.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The discrimination by state, indirectly, is education to all people in order to discriminate other groups of people in society. It means the state has been responsible in keeping intolerance and any negative attitudes of society. The Chinese riot in may 1998 is an accumulative situation of the abhorrence which has been kept by the state. In fact this is incompatible to the tolerance issues issued by new order regime. The intolerance between among groups in Indonesia has been related to development politic of new order regime that ignored the society of beyond Javanese island in economic, politic, education, and information, aspect. The high prosperity imbalance has also encouraged the conflict in the society. The education imbalance and information one played important role in disintegration among all groups in the society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia6, as the pluralistic nation, has to be active to effort political and civic education for going a certain direction for sake of tolerance among any groups in its nation. The state must be in neutral position among citizen. The neutrality is in order to enforce a justice law that assures the right equality of citizen without discrimination. The neutrality to produce any laws is a key of justice for citizen. If the law products are incompatible to the justice and tolerance, citizen must criticize it. Law enforcement is a requirement of democracy enforcement in the state. The important one is the state must keep citizen rights without discrimination.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Socially, the tolerance may be destroyed by many interests, like economic interests, political power, religious power, military interests, group egoism, and individual interests, etc. The causal factors of the conflicts are not only internal factors among conflicted-groups, but external factors, from many groups that interfered in the conflicts in order to achieve their interests. The question is how to solve this problem?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Theoretically, humanity arguments must answer this question. It means any diversities aren’t assault the universal human values of humanity. The universal human values must control over nay pragmatism interests. Those values control over another values. If the human being realizes to keep the human values, he will realize that his life must interact with much diversity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The human values are limit whether people might to do and avoid some deeds in interacting with the others. The values include moral and ethical values in interrelations among human being. It’s not easy to actualize the human values in the society. In this case, all people are responsible, like government, religious leaders, intellects, youths, teachers, etc. All of them must active to actualize the human values into the society. For example, teachers may actualize them through education; the government through making many policies, the religious leaders has to spread those values into interfaith society. We need many practical approaches to success it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Preventing is better than curing. In this case, keeping a harmonized society is better than solving the conflict happened. There are two approaches to keep the harmonization, dialogue and cooperation. The dialogue is an effort to build a conceptual understanding. And cooperation is a practical effort in order to cooperate the diversities into symbiotic relation. The dialogue and the cooperation are interrelated.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are two commitments must available to harmonize among groups in the society: tolerance and pluralism. The tolerance is important as a moral instrument to avoid the clash and the conflict among different groups in the society. The tolerance is the best methods to manage diversities in social life of the human being. Building understanding and dialogue without the tolerance is impossible. And building the tolerance must be supported by pluralistic consciousness7. The pluralism is not only the consciousness on diversities, but it’s an active effort to actualize into diversities. Simple example, if we work in the office among people with different religions, we have to make harmonized interrelation in the office. Every body must interact positively into the diversities. It means the pluralism is not only consciousness to the diversities, but the efforts to understanding the diversities and equalities for sake of harmony and tolerance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralism and tolerance are main basic to build the positive dialogue and symbiotic cooperation in the pluralistic society. Both of them must be placed into neutral position. So that, the efforts for sake of prevent the conflict and keeping the peace must be begun through actualizing those values into daily life of the society. Religious institution, education, government, and all element of society must support the efforts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Closing remark&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The peace problems and social harmony are not only responsible of certain group of society. All elements must active to keep peace as essence human values. So that for any efforts for keeping peace in the society is a necessity and must be supported. People must live with their own power to keep peace, harmony and tolerance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wasalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 12 November 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 This essay is written for “Asia Arab World Youth for Peace Workshop : Engaging Asian and Middle East Youth in Interfaith Discourse for Peace, Cooperation and Development”. Jordan, November 21-26, 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Executive director of Cemara Institute for Education and Culture Yogyakarta. Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Jakob Sumardjo, Peradilan Rakyat, dalam Tim Maula (Ed.), Jika Rakyat Berkuasa, Upaya Membangun Masyarakat Madani Dalam Kultur Feodal (Bandung: Pustaka Hidayah), 1999, Page 35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Diana Francis, People, Peace and Power: Conflict Transformation In Action. (London: Pluto Press), 2002, page 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5The word Orde Baru (New Era) refers to political era of Soeharto’s regime and political power along 32 years (1966-1998). This regime managed by military power and legalized political organization called Golongan Karya. Golongan Karya actually wasn’t a political party like two other political parties but government gave special power to this organization to engage in general election.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 Indonesia comprised of more than 567 specific ethnics with various cultural heritage. The state recognizes only five legalized religion (Islam, Catholic, Christian, Buddha and Hindu). Despite of these five religions Indonesian People have various indigenous faith and religions. Muslims (Islamic adherent) are the majority. The unrecognized religions also grow in Indonesia with great number adherent, such as Kong Hu Chu and Shinto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Dr. Alwi Shihab, Islam Inklusif, menuju sikap terbuka dalam beragama. (Bandung: Mizan)1998. page 41&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-8303369285753914213?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/8303369285753914213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=8303369285753914213' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/8303369285753914213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/8303369285753914213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/12/managing-differences-for-sake-of.html' title='MANAGING THE DIFFERENCES FOR THE SAKE OF HUMANISM'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-5181494885822782859</id><published>2008-06-13T01:35:00.000-07:00</published><updated>2008-12-04T06:41:46.498-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cultural studies'/><title type='text'>Tamasya di ruang  kebudayaan Maya</title><content type='html'>The referential world of commodity needs, use value and labor was only historical passageway of radical semiurgy which aims at the liquidation of society and the real, their displacement through structural codes and signs. All the repressive, and reductive strategies of power systems are already present in the internal logic of the sign (baudrillard, 1981: 70)&lt;br /&gt;…..&lt;br /&gt;“Ada orang bisa berfikir cepat.&lt;br /&gt;Biasanya para jenius.&lt;br /&gt;Ada orang berpikir seumur&lt;br /&gt;Hidup dan hasilnya tak ada.&lt;br /&gt;Orang gila malah tidak pernah&lt;br /&gt;berpikir, karena dia sudah&lt;br /&gt;tahu itu tidak ada gunanya.”&lt;br /&gt;(Cerpen “Kaya” karya Putu Wijaya. Jakarta 29 Juli 1991)&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Amenangi jaman edan&lt;br /&gt;Ewuh aya ing pambudi&lt;br /&gt;Milu edan nora tahan&lt;br /&gt;Yen tan milu anglakoni&lt;br /&gt;aBoya kaduman melik&lt;br /&gt;Kaliren wekasanipun&lt;br /&gt;Ndilalah karsa Allah&lt;br /&gt;Begja-begjane kang lali&lt;br /&gt;Luwih begja kang eling lawan waspada&lt;br /&gt;(Raden Ngabehi Ranggawarsita: Kalatidha)&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya terdapat dua fenomena penting peubah gerak kebudayaan masyarakat dunia sejak tahun 1920-an: fenomena kemajuan kapitalisme lanjut; dan kelahiran televisi. Kemajuan kapitalisme global yang mulai menemukan bentuk pada tahun 1920-an adalah titik terpenting perubahan konfigurasi kebudayaan manusia. Ide produksi sebagai faktor dominan pembentuk pasar kompetitif pada Kapitalisme awal, dalam era kapitalisme lanjut tergantikan oleh modus konsumsi. Konsumsi adalah determinan penting dalam modus operasional kapitalisme lanjut. Tidak sebatas itu, menurut Kellner, konsumsi adalah sebuah mesin penggerak penting yang mengarahkan realitas sosial, budaya dan politik (Kellner, 1994;3). Enersi kapitalisme lanjut tidak terletak pada kemampuan produksi lagi, melainkan kekuatan untuk terus meningkatkan kekuatan dan hasrat konsumsi. Titik. Disinilah postmodernitas dimulai.&lt;br /&gt;Istilah posmodernisme —atau paska modernisme— bersifat ambigu. Di dalamnya terdapat berbagai praktik dan konsep yang tidak kesemuanya sinkron, bahkan terkadang saling bertubrukan, tumpang tindih dan berkelindan. Postmodernisme adalah istilah yang kontreversial, begitu Bambang Sugiharto menyimpulkan (Sugiharto, 1996: 15). Namun, sebelum melangkah lebih jauh membicarakan posmodernitas, perlu kiranya membedakan istilah postmodernisme dan postmodernitas.&lt;br /&gt;Istilah pertama, postmodernisme, menunjuk kririk-kritik filosofis atas gambaran dunia (weltanschauung), epistimologi dan idiologi-idiologi modern. Istilah ini memang digunakan dengan secara beragam, karena itu pula menjadi sulit untuk memahami istilah ini secara parsial. Istilah “post” di awal kata modernisme sendiri menimbulkan pelbagai perdebatan. Pertanyaannya, apakah istilah “post” merupakan sebuah pemutusan radikal atas prinsip-prinsip modernisme seperti diungkap Lyotard dan Gellner; sekedar koreksi atas prinsip-prinsip landasan dunia modern; proyek modernitas yang belum usai (Habermas); dunia modern yang telah sadar diri (Anthony Giddens); ataukah modernitas yang akhirnya bunuh diri (Baudrillard, Derrida, Foucault) ? (Sugiharto, 1996:24).&lt;br /&gt;Kelahiran modernisme —tidak sesederhana yang dipahami secara umum sebagai dunia yang dipenuhi oleh kemajuan teknologi— tidak dapat dilepaskan dari perkembangan gerakan humanisme di Italia pada abad ke-14. Gerakan diteruskan oleh semangat Renaisans abad ke-16 dan dimantapkan oleh gerakan pencerahan (enlightment―aufkärung pada abad ke 18. Era pencerahanlah yang kemudian dipercaya sebagai titik tolak kemajuan penemuan manusia. Gema pencerahan berupaya mendobrak otoritas agama yang dogmatis —dalam konteks ini adalah kekuasaan gereja katholik; mengangkat harkat dan martabat manusia; dan meyakinkan adanya otoritas manusia yang mampu menemukan kebenaran sendiri bersandar pada rasio sebagai potensi utama manusia.&lt;br /&gt;Rene Descartes adalah tokoh yang disebut-sebut sebagai peletak utama pondasi kekuatan modernisme. Adagium cogito ergo sum yang masyhur dinilai sebagai nubuwwat Cartesian yang telah menggiring manusia keluar dari labirin kegelapan abad pertengahan. Diktum “aku berpikir maka aku ada” merupakan kata perpisahan manusia modern dari kekuatan metafisis dan transendental, sekaligus pengukuhan kemandirian otoritas kemanusiaan. Adagium Cartesian telah mentahbiskan manusia sebagai otoritas sadar yang berjarak dan kritis terhadap pelbagai kekuatan dan dominasi ilusi dan mitos. Dalam ranah filsafat modernisme Cartesian dikukuhkan oleh dua tokoh penting, yakni Emanuel Kant dan G.W.F. Hegel. Ide-ide Descartes tersebut dimantapkan dengan kebudayaan sains dan kapitalisme. Maka terciptalah dunia modern yang berdiri di atas pondasi-pondasi ego, rasio, obyektivitas, totalitas, ide-ide absolut, oposisi biner dan otoritas.&lt;br /&gt;Postmodernisme secara sederhana dapat berarti pembelotan atau perpisahan dari unsur-unsur fondasional modernisme. Penggunaan istilah postmodernisme bukanlah sesuatu yang baru. Dalam catatan Ihhab Hasan, seorang tokoh yang memproklamirkan diri sebagai pembicara terkemuka postmodernisme, Istilah postmodernisme digunakan pertama kali oleh Frederico de Onis pada tahun 1930 dalam karya Antologia De La Poesia A Hispanoamericana untuk menunjukkan reaksi yang muncul dari dalam modernisme (Sugiharto, 1996:24).&lt;br /&gt;Istilah posmodernisme akhirnya digunakan di pelbagai ruang yang berbeda. Di ruang arsitektur Charles Jenks menjadi penggiat pengguna istilah ini dengan meluncurkan The Language Of Postmodern Architecture. Dalam dunia seni muncullah nama Andy Warhol dengan chicken soup can painting dan ready made art dengan pispot sebagai ikon oleh Marcel Duchamp. Dalam kritik sastra mucullah Susan Sontag dan Julia Kristeva dengan intertekstualitas. Pierre Bordieu dengan konsep habitus dalam dunia sosiologi-antropologi. Dan yang paling santer terdengar dari dunia filsafat, Jean Francois Lyotard, dengan reportase penggunaan komputer di Queebec yang masyhur dengan judul A Postmodern Condition: A Report Of Knowledge. Selain itu masih ada pula Derrida dengan kritik gramatologi dan dekonstruksi yang menghantui filsafat masa kini, serta Michel Foucault dengan arkeologi pengetahuan (archeology of knowledge).&lt;br /&gt;Beberapa alasan menjadi penting untuk diketahui guna menelusuri genealogi kelahiran postmodernisme. Diakui atau tidak, di tengah pelbagai kemajuan, modernisme telah gagal mewujudkan beberapa cita-cita penting pencerahan. Kehebatan ilmu pengetahuan yang berbalik arah meruntuhkan kemanusiaan dan menciptakan pelbagai patologi adalah sumber utamanya. Modernisme oleh kelompok postmodernis dituduh telah gagal mewujudkan cita-cita perbaikan kehidupan manusia. Gagalnya cita-cita saintifisme modernisme yang bertujuan memecahkan persoalan manusia, dan sebaliknya justeru membawa implikasi negatif berupa beragam patologi adalah sebab lainnya. Gugatan lainnya berkaitan visi aksiologis dimana pengetahuan modern dinilai telah ditunggangi oleh pelbagai kepentingan kekuasaan dan ekonomi dan politik. Artinya, pengetahuan modern tidak dapat melepaskan diri dari penyalahgunaan demi kekuasaan dan penaklukan. Dan yang terpenting adalah kontradiksi antara pelbagai fakta dan teori-teori pondasi modernisme.&lt;br /&gt;Menurut Bambang Sugiharto, setidaknya ada tiga kategori besar corak para pemikir postmodern (Sugiharto, 1996:30). Pertama, adalah kelompok yang berkecenderungan mengembalikan susana dan visi kemodernan ke arah pra-modern. Penggiat kelompok ini umumnya muncul dari kelompok fisika yang bersemboyan “holisme” serta kelompok fisikawan yang mengaitkan fenomena fisika dengan fenomena mistiko-mistis.&lt;br /&gt;Kedua, adalah para penggiat yang terkait erat dengan kesusasteraan dan banyak berhubungan dengan linguistika. Gagasan kelompok ini adalah menghantam sisi pandangan dunia (weltanschauung―worldview) dunia modern dengan melemparkannya pada nihilisme. Memang kelompok ini awalnya tidak mengarahkan kritik terhadap pandangan dunia menuju kenihilan atau nihilisme, namun tujuan tersebut berbelok dari upaya pencegahan kemunculan totaliterisme menuju nihilisme. Kelompok ini diwakili oleh Jaques Derrida, Vatimo dan Michel Foucault).&lt;br /&gt;Ketiga, adalah kelompok revivalis yang berkeinginan untuk memperbaiki pelbagai asumsi-asumsi kemodernan yang dinilai tidak lagi sesuai dan harus mengalami perbaikan. Upaya kelompok ini lebih dapat dikategorikan sebagai upaya untuk memberikan kritik imanen terhadap modernisme untuk mengatasi pelbagaiimplikasi negatifnya.&lt;br /&gt;Di lain sisi, istilah yang memang sangat mirip ―postmodernitas― memiliki makna yang jauh berbeda dengan postmodernisme di ruang diskursus keilmuan. Postmodernitas menunjuk kondisi sosio-kultural masyarakat sebagai efek perkembangan kapitalisme dan saintifisme modern. Postmodernitas lebih menunjuk ke arah persoalan antropologis manusia sebagai efek dari perkembangan pelbagai teknologi, mekanisasi dan kapitalisasi konsumsi. Namun, bagaiamaanapun terdapat hubungan yang tidak dapat dipisahkan antar kedua istilah tersebut.&lt;br /&gt;Seperti disampaikan di muka, sejak era tahun 1920an, perkembangan kapitalisme lanjut telah mampu menjadi salah satu penentu perubahan kebudayaan manusia. Kedua, perkembangan teknologi informasi, khususnya televisi telah berhasil memberikan efek bilyard yang cukup kuat dan mengakar dalam pemembentukan pola dan kesan kebudayaan yang berkembang massif di tengah masyarakat. Perubahan enersi kapitalisme dari modus produksi menjadi keinginan untuk memaksimalkan konsumsi telah memberi efek tidak sederhana pada ruang kultural manusia. Sejauh ini, kekuatan kapitalisme lanjut tersebut dinilai telah berhasil dengan cukup baik, buktinya adalah terbentuknya masyarakat yang kerap disebut sebagai masyarakat konsumer. Sangat memungkinkan untuk memberikan penjelasan atas perubahan sporadis secara genealogis.&lt;br /&gt;Kekuatan kapitalisme yang didukung oleh teknologi massal setidaknya telah meruntuhkan pelbagai asumsi dan pondasi pandangan-pandangan tradisional di ruang antropologi dan sosiologi. Masyarakat yang dipercaya berkembang secara linier, akhirnya secara terbuka mengalami ledakan kebudayaan dengan menanggalkan segala linieritas yang dulunya dipercaya sebagai modus perkembangan kebudayaan manusia. Konsumsi yang pada era sebelumnya merupakan relasi kebutuhan dan pemenuhan, akhirnya direduksi menjadi sebuah mode, bukan pemenuhan kebutuhan semata. Dalam sirkulasi mayarakat konsumer, konsumsi adalah aktifitas inti kehidupan sosiologis.&lt;br /&gt;Menurut Baudrillard, salah seorang pewarta postmodernisme, Marxisme dengan konsep linieritas perubahan masyarakat telah kehilangan kebenarannya. Kebutuhan dan pemenuhan, nilai guna dan nilai tukar sudah bukan lagi determinan arus persentuhan ekonomi sebagaimana dipercaya oleh Karl Marx. Sangat dipengaruhi oleh semiotika Rolland Barthes dalam The System Of Fashion (1967) ―lebih tepatnya terpengaruh oleh pesona semiotika, Baudrillard mempercayai adanya perubahan mode of production menjadi mode of consumption. Semangat kapitalisme berubah menjadi semangat untuk meledakkan konsumsi. Modus konsumsi inilah yang akhirnya merubah seluruh aspek kehidupan menjadi obyek konsumsi yang berupa komoditi. Bahkan, Tak ada batas antara yang sakral dan profan, karena keduanya ikut menjadi objek konsumsi.&lt;br /&gt;Perkembangan pola konsumsi pada masyarakat postmodern tidak lepas dari peran serta media yang begitu massif memperdengarkan dan mewartakan produk. Secara ekstrem bahkan, meminjam istilah Guy Debord, Baudrillard menyatakan bahwa masyarakat konsumsi juga merupakan masyarakat tontonan (society of spactacle). Tontonan adalah bentuk doktrinasi konsumsi yang menyeruak ke tengah jantung masyarakat. Dalam konsep masyarakat tontonan, nilai-guna dan nilai-tukar, sebagaimana ditegaskan oleh Marx, telah kehilangn kesakralan dan kebenarannya. Nilai-tukar (exchange value) dan nilai guna (used value) telah berubah menjadi nilai tanda (sign value) dan nilai simbolik (simbolic value).&lt;br /&gt;Menurut Baudrillard, fungsi komoditas tidak lagi ditentukan dengan adanya nilai guna atau nilai tukar semata, melainkan juga ditentukan oleh nilai-nilai simbol dan tanda yang dilekatkan pada komoditas-komoditas tersebut. Tema-tema gaya hidup, kelas, kemewahan, adalah bentuk idiologi tanda dan simbol konsumsi yang dimasukkan ke dalam komoditas. Walhasil, komoditas atau obyek-obyek konsumsi menjelma menjadi sebuah sistem klasifikasi masyarakat, status, prestise dan pola tingkah laku masyarakat.&lt;br /&gt;Pernyataan Baudrillard sekilas memang bersifat dan tampak hiperbolis. Pernyataan bahwa inti dari konsumsi adalah bentuk penandaan dan pencitraan tidak bermaksud mengenyampingkan adanya fungsi kebutuhan dalam diri manusia. Baudrillard hanya ingin menyatakan bahwa pemilihan obyek konsumsi, kebutuhan dan kenikmatan biologis sudah bukan lagi satu-satunya penentu yang menggerakkan, melainkan terpengaruh oleh sebuah sistem yang memberikan citra dan tanda yang merangsang terjadinya pola konsumsi yang sporadik. Konsumsi juga berarti peraihan prestise, status dan identitas.&lt;br /&gt;Dalam pandangan Guy Debord, jika Karl Marx menyatakan prinsip ada (being) telah direduksi menjadi kepemilikan (having) ―atau perilaku yang mengarah untuk memiliki objek-objek atau komoditas-komoditas― maka konsep kepemilikan kini telah tergantikan oleh konsep penampakan (appearing). Dengan demikian objek-objek konsumsi tidak semata lagi ingin dimiliki karena tuntutan kebutuhan biologis, melainkan lebih didorong oleh keinginan-keinginan meraih citra. Bagi Baudrillard ini berarti kelahiran nilai simbolis (sybolic value) dan nilai tanda (sign value).&lt;br /&gt;Salah satu yang paling menarik dari pemikirtan Baudrillard adalah pandangan tentang topologi perkembangan masyarakat. Karl Marx meyakini bahwa masyarakat akan berkembang melalui tiga lintasan, yakni masyarakat primitif―feodal, masyarakat kapitalis dan masyarakat komunis. Masyarakat primitif merupakan konstruksi masyarakat yang berlangsung dari zaman Yunani sampai dengan terjadinya Renaissans. Dalam konstruksi masyarakat ini belum terdapat pembagian kelas kerja, atau pembagian kelas berdasarkan mekanisme ekonomi-produksi. Masyarakat Kapitalis terbentuk seiring dengan lahirnya konsep tentang kepemilikan atau hak milik. Masyarakat kapitalis terbagi menjadi kelas pekerja (buruh) dan kelas pemilik modal. Sedangkan masyarakat komunis, bagi Marx, merupakan konstruksi masyarakat yang paling ideal. Dalam fase ini tidak lagi terdapat pembagian kelas, yang ada hanyalah kesetaraan. Namun, dalam pandangan Baudrillard periodisasi masyarakat tidaklah speeti yang diyakini oleh Marx. Bagi Baudrillard, periodisasi perkebangan masyarakat adalah lintasan (trajectory) masyarakat primitif, masyarakat hierarkis dan masyarakat massa. Pada titik inilah Baudrillard berpisah dari pemikiran Marx.&lt;br /&gt;Masyarakat pritimitif, dalam pandangan Baudrillard, merupakan konstruksi masyarakat yang tidak mengenal penandaan atau tanda. Objek dikelola secara murni berdasarkan fungsi-fungsi alamiahnya. Pada masyarakat Masyarakat hierarkis lahirlah tanda-tanda yang beroperasi dengan lingkup dan cakupan yang sempit. Tanda mulai menggantikan fungsi guna atau fungsi murni dari objek-objek. Tanda yang pertama kali berkembang adalah nilai tukar. Sementara pada masyarakat massa, tanda usdah tidak dapat dikendalikan oleh otoritas masyarakat. Tanda menjadi sangat dominan sehingga obyek tidak dapat lagi menjadi sesuatu yang murni. Di sinilah letak kebudayaan massa atau kebudayaan populer.&lt;br /&gt;Kebudayaan massa adalah sebuah jawaban bagi sebuah masyarakat yang hidup dalam pelbagai simbol dan tanda-tanda yang saling bertubrukan. Kebudayaan massa hadir dengan membawa etos dan format baru kehidupan. Dalam kebudayaan massa, sesuatu yang bersifat dalam menjadi tidak penting, dikalahkan dengan penampilan dan penampakan yangmuncul dipermukaan. Era kebudayaan massa adalah era pemujaan atas nilai-nilai penampakan, perayaan kebebasan (emansipasi-liberal), kenikmatan tanpa kekhusyukan, permainan, kedangkalan, kemeriahan dan kesenangan yang penuh bujuk rayu (seduction). Dengan demikian, sangatlah pantas jika masyarakat konsumer disandingkan dengan keberadaan kebudayaan massa sebagai sebuah prototipe legitimasi kultural atas perilaku konsumsi.&lt;br /&gt;Budaya massa secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah kebudayaan yang cair dan tak memiliki sekat pembatas klasikal bagi penikmat. Ia ―meminjam istilah Richard Rorty― bersifat something goes, atau seba boleh atau boleh-boleh saja. Istilah massa bersifat berlawanan atau bersifat oposisi biner dengan istilah budaya aristokrasi atu budaya kelas tinggi seperti model kebudayaan musik barok pada khazanah musik klasik Eropa.&lt;br /&gt;Jejak kebudayaan massa sebanrnya telah ada sejak masih bercokol kuatnya budaya aristokrat. Dalam sejarah Yunani, kita mengenal perhelatan Olimpiade yang merupakan sebuah pesta rakyat yang juga dinikmati dan dihadiri oleh para penguasa aristokrat zaman itu. Padapandangan lain, merujuk Leo Lowhental yang dikutip Dominic Strinati, kebudayaan massa dapat dilacak keberadannya sejak era sirkus pada masa Romawi kuno. Sirkus merupakan sebuah bentuk kebudayaan plural yang terdiri dari permainan, pesta rakyat dan olahraga yang secara bebas dapat dinikmati oleh siapapun (Dominic, 1995. bandingkan dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia berjudul popular culture. Jejak. 2007).&lt;br /&gt;Namun pada perkembangannya, politik ekonomi kapitalisme telah mengadopsi sistem pembiakan budaya massa sebagai upaya guna memasifkan kampanye penerimaan komoditas ekonomi tertentu. Dengan menciptakan modus standarisasi dan dan penyeragaman selera atau rasa, mekanisme pembuatan produk akhirnya terarah langsung menuju sebuah model kemassalan kebudayaan dalam kerangka konsumsi.&lt;br /&gt;Mungkin kita dulu tidak mengenal merk atau ikon-ikon perdagangan seperti Nike, Kentucky Fried Chicken, McDonald, Pizza Hut, dan sebagainya. Dengan penyeragaman rasa akhirnya kita mengenal dan secara bebas menerima merek-merek tersebut sebagian bagian yang ―seakan-akan― alamiah ada dalam kebudayaan kita. Pernahkah kita mengamati sebuah fenomena jilbab? Selepas peluncuran film Ayat-ayat Cinta masyarakat berjilbab dihebohkan dengan trend jilbab ala zaskia Adya Mecca.&lt;br /&gt;Budaya massa awalnya adalah budaya rendahan ―tepatnya budaya rakyat atau folkculture― yang berposisi lawan sebagai lawan kata budaya tinggi para aristokrat. Namun, menurut catatan McDonald, kebudayaan tersebut akhirnya dipolitisir sebagai media penyeragaman atau meledakkan kebudayaan tinggi sehingga tak lagi ada sekat dan batas yang dapat membedakan. Contohnya, pada kasus cara berpakaian, dalam budaya massa tidak ada perbedaan klasikal bagi pengguna Jeans, baik orang miskin atau kaya, selama mampu memiliki tetap akan boleh menggunakan.&lt;br /&gt;Demokrasi merupakan instrument penting merebaknya budaya massa. Demokrasi setidaknya menjadi perangkat yang menghancurkan tembok pemisah antara kebudayaan kelas tinggi dengan kebudayaan kelas bawah. Hancurnya hierarki tradisional melalui kekuatan demokrasi telah menegakkan dan mengukuhkan kekuatan budaya massa secara lebih kuat. Hal ini juga sangat terkait dengan epistimologi universal dari dunia Barat.&lt;br /&gt;Dalam ukuran politisasi kebudayaan kapitalistik, dunia boleh saja berubah demi tercapainya target-target ekonomi tertentu. Dengan modal tersebut, diciptakanlah upaya-upaya untuk membangun sebuah keseragaman kebudayaan ―meski sedikit gegabah tetap harus saya sebut sebagai globalisasi― yang memungkinkan diterimanya keseragaman produk di belahan dunia yang berbeda. Sebagai upaya mempermudah masuknya produk, maka diciptakan pelbagai etos kebudayaan yang bersandarkan pada asas-asas perayaan atas hal-hal yang dangkal, sepele, sentimental dan penuh kemeriahan. Hedonisme adalah prinsip utamanya. Kehadiran budaya massa juga menimbulkan penolakan pada sakralitas dan keluhuran yang memang sulit untuk dipikirkan. Ciri lain dari budaya massa adalah miskinnya makna dalam setiap ruang interaksi yang dibangun, seperti fenomena cafe, diskotik, dan mall.&lt;br /&gt;Untuk membangun keseragaman kebudayaan demi massifnya idiologi ekonomi, maka pelbagai upaya dilakukan oleh kelompok kapitalis. Sebut saja dengan memasifkan demokrasi, menciptakan pendidikan bernuansa global, stereotipikasi regional, dan penanaman citra-citra pada produk.&lt;br /&gt;Pembentukan citra dankesan atas situasi dan produk tertentu tidak terlepas dari kekuatan teknologi informasi yang berkembang dengan sangat pesat. Televisi dan internet adalah yang paling utama. The satanic box (TV) merupakan alat liturgy terpenting dalam perayaan doa-doa kemeriahan budaya massa. Dengannya, pelbagai pencitraan dan kampanye idiologis ditampailkan secara massif agar perlahan dapat diterima sebagai sesuatu yang natural. Dunia televisi bagi Baudrillard merupakan sebuah dunia dimana segala yang real dan yang palsu melebur menjadi sebuah keyakinan dan keniscayaan. Televisi merupakan ruang bertumpuknya pelbagai simbol, tanda, impian dan citra yang secara gradual dilesakkan ke dalam pikiran para penontonnya. Istilah masyarakat tontonan (spectacle of society) merupakan istilah yang menunjuk mayoritas diam para penikmat televisi yang dengan tanpa daya kritis apapun menerima pelbagai suguhan di dalamnya.&lt;br /&gt;Dengan dukungan teknologi tersebut kampanye pembumian citra berlangsung. Mari kita telaah dari contoh yang sederhana. Iklan.&lt;br /&gt;Iklan merupakan perangkat penting agitasi pembentukan budaya massa. Semangat iklan bukan hanya semangat memperkenalkan produk tetapi lebih merupakan semangat untuk memasukkan idiologi mengkonsumsi baghi para pemirsanya. Iklan Lux tampil dengan model Dian Sastro Wardoyo; Iklan rokok tampil dengan segala macam kegagahan laki-laki; dan iklan mobil menampakkan bentuk dan kesan sebagai sesuatu yang berbau Eropa. Mari berpikir sedikit kritis, benarkah semua citra yang terbangun tersebut?&lt;br /&gt;Keberadaan Dian Sastreo sebagai bintang iklan bukanlah sebuah ketidaksengajaan, namun lebih merupakan propaganda semiotis. Ia merupakan penanda dari petanda yang berupa nilai-nilai yang ingin ditanamkan oleh produsen produk sabun tersebut. Dengan memunculkan Dian sastro sebagi aktor penanda, akan terbangun mindset bahwa cantik adalah seperti Dian Sastro dan dia menggunakan sabun LUX. Masih adakah yang dapat dipercayai dari iklan?&lt;br /&gt;Iklan merupakan sebuah retorika citra dalam istilah Barthes. Merujuk Barthes segala prinsip-prinsip penandaan dalam iklan yang berupa kecantikan, kehalusan, kehormatan merupakan sebuah glamorisasi. Galamorisasi adalah pelepasan suatu objek dari konteksnya. Glamorisasi membuat ―masih menggunakan contoh iklan Dian Sastro― kesan cantik akan terlekat di luar konteks yang sebenarnya dan bersifat dependen pada produk-produk tertentu. Seakan-akan setiap orang membeli lux agar menjadi seperti dian Sastro Wadoyo. Pada contoh lain, pembelian Mercedes Benz cenderung bukan lagi merupakan persoalan kebutuhan kedaraan tapi penikmatan atas nilai dan tanda prestise yang menempel pada kendaraan tersebut.&lt;br /&gt;Kesamaan atau keseragaman model dan etos adalah corak terpenting dalam kebudayaan massa. Keseragaman tersebut dapat kita temui pada fashion, kendaraan, kuliner, gaya hidup, hobby dan berbagai bentuk keseragaman lain yang sangat ditunjang oleh konstruksi kebudayaan massal. Peniruan pada dasarnya merupakan sifat alamiah manusia. Manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan imitasi atas nilai dan bentu-bentuk yang dipercaya atau dirasakan mempunyai kecocokan. Namun, pada konteks budaya massa, peniruan yang mengarah pada keseragaman yang dibentuk secara terperinci dan sistematis oleh sebuah otoritas politik ekonomi. Inilah yang mengkhawatirkan.&lt;br /&gt;Simulasi, adalah istilah yang digunakan oleh Baudrillard untuk menunjuk proses kreasi imitasi atas realitas yang hampir menyerupai realitas sebenarnya. Simulasi beroperasi dengan meniadakan referensi, kebenaran, dan realitas, serta mengedepankan penampakan sebagai prinsip ontologis. Dengan simulasi, orang akan terjebak masuk ke dalam suatu ruang yang dirasa seakan nyata meskipun sesungguhnya merupakan kesemuan. Pelbagai perbedaan antara yang asli (real―benar-benar ada) dan yang fantasi menjadi sangat tipis melalui prinsip-prinsip simulasi tersebut. Dalam televisi, sinetron contohnya, realitas dicipta menggunakan teknologi. Efek tidak langsung dari pencitraan tersebut bersifat psikologis. secara psikologis, penonton akan terjerat dalam kurungan emosi dan kognisi yang menimbulkan kesadaran seakan-akan realitas dalam sinetron adalah yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Smack Down, contoh lainnya, adalah sebuah olahraga gulat yang dipenuhi oleh pencitraan dan simulasi. Smack Down bukanlah sebuah gulat yang sebenarnya, melainkan sebuah citra akan bentuk olahraga gulat. Tehnik pencitraan televisi atau teknologi memungkinkan munculnya penilaian bahwa para pegulat Smack Down sunguh-sungguh tengah saling bertarung dan mengalahkan. Walhasil, banyak diketemukan kasus peniruan yang bukan hanya dilakukan oleh anak-anak, bahkanoleh orang dewasa yang secara kognitif dipercaya telah lebih mapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lacan Dan Hasrat Mengkonsumsi&lt;br /&gt;Membaca fenomena kebudayaan massa menggunakan psikoanalisa sungguh mengasyikkan. Setidaknya kita menemukan sebuah prototipe otomatisasi perilaku dalam individu yang bergerak dari ruang bawah sadar. Namun pembacaan atas fenomena kebudayaan massa dalam tulisan ini akan mencoba menggunakan model psikoanalisa Lacanian yang mungkin kurang masyhur di kalangan akademisi psikologi di Indonesia. Hal ini mungkin juga tidak jauh berbeda dengan nasib pengembangan psikoanalisa ala zizek dan Fanon, keduanya justeru mendapat tempat terhormat pada diskursus filsafat dan ilmu-ilmu sosial.&lt;br /&gt;Sebagai catatan awal, kepercayaan pertama yang dibangun oleh modernisme adalah kerpercayaan atas mandirinya manusia yang memiliki kesadaran. Cogito ergo sum adalah patokannya. Manusia dipercaya sebagai mahluk yang berkuasa terhadap segala bentuk fantasi, imajinasi, khayal yang terus membayangi kekuatan rasionalitasnya. Freud Muda telah menguji tesis tersebut. Freud dengan topologi kesadaran-ketidaksaran menghantam pemikiran tersebut. Ego-cogitan dicurigai oleh Freud dikendalikan oleh ketidaksadaran yang merupakan produk perkembangan perversitas polimorfosis bayi manusia. Namun serangan Freud tidak bertahan lama. Kemunculan konsep ego menampakkan watak paradoks dari pemikiran Freud. Ego akhirnya dipercaya mampu selalu menundukkan id ―sebagai kekuatan ketidaksadaran. Disinilah Freud dinilai ikut merayakan ego Cartesian.&lt;br /&gt;Jaques Lacan justeru meragukan kemajuan pemikiran yang dicapai oleh Freud tersebut. Baginya tidak mungkin ego adalah yang sepenuhnya sadar. Ego adalah pseudo kesadaran yang lahir dari proses kesalahan membangun konsep diri pada fase cerminal. Bagi Lacan, adalah sesuatu yang bernama hasrat (desire) yang tidak tertundukkan dalam perjalanan hidup manusia. Hasrat adalah salah satu bentuk lain dari ketidaksadaran dalam konsepsi Freud muda meskipun tidak seutuhnya sama.&lt;br /&gt;Penting untuk mengingat bahwa fase cerminal telah mencipta konsep diri atau ego pada manusia. Tetapi ego tersebut tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi sempurna. Karena ke-aku-an dinilai akan terus berjalan dengan ke-lian-nan. Kesadaran akan aku adalah kesadaran akan yang liyan. Aku sebagai hasil fase cerminal tetaplah bukan sesuatu yang sempurna sebagai “aku’, pseudo-aku atau ego ideal, tepatnya. Aku yang muncul melalui proses pengenalan melalui cermin tetaplah kesalahan persepsi atas makna diri. Sebagai catatan lainnya, manusia berproses sepenuhnya untuk kembali pada fase Yang Real. Sebuah fase yang tanpa kekurangan. Keinginan kembali pada fase tersebut merupakan salah satu asal-usul hasrat.&lt;br /&gt;Pada konsep perilaku selanjutnya, manusia selalu menggunakan konsep diri yang salah tersebut sebagai piranti berperilaku dan berhubungan dengan dunia liyan ―selain aku. Artinya, ego yang dipercaya sadar sebenarnya masih menyimpan hasrat ketidaksadaran. Intinya, Manusia senantiasa berperilaku guna mencapai kesempurnaan yang hilang seiring lepasnya fase Yang Real.&lt;br /&gt;Untuk menemukan konsep diri, sebenarnya manusia kerap mengulangi fase cerminal yang terdapat dalam fase Yang Imajiner. Manusia sering melakukan konfrontasi atau pengecekan konsep diri dengan keberadaan liyan dalam Liyan-liyan aktual. Cermin yang bermakna metaforis dapat memiliki arti segala sesuatu yang digunakan seseorang untuk meyakinkan keberadaan dirinya, atau keberadaan konsep tentang dirinya. Cermin itu dapat berupa orang lain, tayangan bergambar, ketokohan, ibu, atau pelbagai hal lainnya. Keberadaan cermin memang sangat penting agar seseorang menyadari bahwa dirinya eksis.&lt;br /&gt;Fungsi cermin adalah media penyetaraan konsep diri. Artinya, seseorang melihat dirinya melalui liyan. Proses konsfrontasi atau pengecekan tersebut setidaknya memberikan efek terbentuknya konsep diri yang dipengaruhi oleh bentuk dan skema liyan yang menjadi cermin.&lt;br /&gt;Pada budaya massa, iklan, televisi, bintang, mall, dan berbagai perangkat politik ekonomi lainnya merupakan cermin yang ―dirasa maupun tidak― digunakan untuk mengkonfrontir atau memastikan konsep tentang diri. Ketika seorang perempuan melihat Dian Sastro yang cantik, ia akan mencoba melakukan konfrontasi konseptual dirinya dan Dian Sastro. Jika dirasa terdapat kekurangan dalam dirinya, maka hasrat akan mendorong terbentuknya perilaku guna pencapaian kepenuhan konsep diri tersebut, dalam konteks ini adalah dengan konsumsi. Konsumsi artinya buukan semata untuk memenuhi diri dengan kebutuhanakan sabun, tapi juga sebagai upaya pemenuhan konsep diri yang dirasa kurang, yakni keinginan menjadi seperti Dian sastro sebagai hasil dari mekanisme cerminal.&lt;br /&gt;Lalu mengapa kebudayaan masa berkembang sebegitu cepat?&lt;br /&gt;Kembali pada dasar konsep bahwa seseorang merupakan cermin atau liyan bagi ego-ego yang lain. Interaksi secara otomatis telah menciptakan sirkulasi cerminal: orang-orang saling menjadikan yang lain sebagai cermin untuk mengutakan konsep egonya. Jadi, ketika ketidakmiripan terhadap bayangan cermin dirasakan, seseorang akan berupaya melakukan pemenuhan secara otomatis. Model pemenuhan ini tidak membutuhkan bahasa, karena hasrat tidak dapat ditunggangi oleh bahasa ―setidaknya menurut konsepsi Lacan. Ketika Mall menjadi sebuah cermin, maka ketidaksesuaian dengan konsep mall tersebut akan segera diupayakan untuk terpenuhi oleh ego seseorang.&lt;br /&gt;Kebudayaan massa dalam konteks ini, merupakan sebuah cermin yang menuntut seseorang untuk terus melakukan evaluasi dan konfrontasi ego-idealnya terhadap model-model dan bentuk yang sesuai. Dengan pencermatan yang sedemikian rupa, keyakinan Lacan bahwa manusia yang sesungguhnya benar-benar tidak sadar dapat diperluas pengertiannya, menjadi kemungkinan adanya ketidaksadaran massal yang disebabkan oleh sistem penandaan yang berseliweran dengan tanpa titik pemberhentian.&lt;br /&gt;Catatan penting untuk psikoanalisa Lacan adalah sifatnya yang telah lepas dari konsep biologis; hasrat telah melampaui sesuatu yang biologis. Meskipun secara biologis kebutuhan telah terpenuhi, namun hasrat untuk menyempurnakan konsep diri tetap tidak terhenti. Hasrat peniruan adalah hasrat agar sesuai dengan suatu kelompok atau orang lain sehingga dirinya dapat memperoleh penghargaan atau pengakuan atas eksistensi.&lt;br /&gt;Dalam pembacaan Lacanian, yang liyan adalah adalah penanda bagi liyan-liyan yang lain, inilah yang menyebabkan terbentuknya sirkulasi penandaan. Menjadi sadar, setidaknya, berarti mengurangi atau sedikit menghentikan sirkulasi penandaan antar liyan-liyan. Dengan demikian, menjadi sadar pada era konsumerisme berarti berupaya menghentikan efek penandaan yang mempengaruhi konsep aku-ego pada diri masing-masing individu. Menjadi sadar berarti mengupayakan terhentinya efek penandan oleh liyan-liyan yang diciptakan secara sistematis dalam ruang kebudayaan massal agar tidak menjadi faktor pemengaruh pada ego. Namun menurut Lacan, uapaya tersebut tidak akan pernah mencapai kesempurnaan. Perhentian satu sistem penandaan akan menimbulkan efek timbulnya sirkulasi penandaan lainnya. Kesulitan lainnya ―menurut Lacan― adalah bahwa hasrat tidak dapat dibincangkan dalam mekanisme kebahasaan, sehingga kemunculannya selalu bersifat tiba-tiba dan tidak dinyana.&lt;br /&gt;Manusia, sungguh-sungguh tidak sadar. Titik. Menurut Lacan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glosarium&lt;br /&gt;Nihilisme : sikap atau pandangan yang menolak nilai-nilai kebenaran moral, dan melihatnya dalam posisi yang berada di titik nol, artinya pada titik yang tidak memiliki polarisasi nilai&lt;br /&gt;Semiotika : ilmu tentang tanda-tanda serta penggunaannya dalam masyarakat&lt;br /&gt;Tanda : unsur dasar semiotika dan komunikasi, yaitu segala yang mengandung makna, yang memiliki dua unsur, penanda (bentuk) dan petanda (makna).&lt;br /&gt;Budaya massa : kategori kebudayan yang diciptakan untuk massa yang luas, Adorno memandangnya sebagai kebudayaan yang menghasilkan selera massal atau rendah&lt;br /&gt;Citra : sesuatu yang tampak oleh mata namun tidak memiliki eksistensi substansial&lt;br /&gt;Fase cermin : fase penting perkembangan bayi dalam psikoanalisa Lacanian, saat bayi pertama kali mengenal dirinya melalui cermin. Namun yang dilihatnya tidak lebih dari sekedar citraan, representasi semu atau ego palsu dari dirinya yang sesungguhnya&lt;br /&gt;Idiologi : sebuah sitem kepercayaan dan sistem nilai serta representasinya dalam berbagai media dan tindakan sosial&lt;br /&gt;Konsumerisme: manipulasi tingkah laku para konsumen melalui berbagai aspek komunikasi pemasaran&lt;br /&gt;Masyarakat tontonan: masyarakat yang pelbagai aspek hidupnya dipenuhi dengan tontonan yang kemudian dijadikan referensi dan patokan dalam hidupnya&lt;br /&gt;Oposisi biner : prinsip pertentangan antara istilah yang berseberangan dalam istilah strukturalisme, yang satu memiliki makna yang lebih superior tinimbang yang lain, seperti baik-buruk, lemah-kuat, dll.&lt;br /&gt;Habitus : struktur kognitif yang menghubungkan individu dengan realitas sosial. Istilah ini muncul dalam sosiologi Pierre Bordieu&lt;br /&gt;Penampakan (Appearing) : kualitas objek yang secara langsung dapat ditangkap oleh instuisi, untuk membedakan yang berada dalam jangkauan intuisi dengan sesuatu yang berada di luar jangkauan intuisi&lt;br /&gt;Hasrat/desire : istilah dalam psikoanalisa lacanian sebuah mekanisme psikis berupa gejolak rangsangan terhadap objek atau pengalaman yang menjajnjikan kepuasan, yang selalu berupa sesuatu yang berbeda, sesuatu yang telah hilang ketika manusia menjadi dewasa, yaknikepuasan bersatu dengan ibu.&lt;br /&gt;Intertekstualitas : kesaling terhubungannya satu teks dengan teks yang lain atau teks-teks sebelumnya, dalam bentuk persilangan kutipan dan ungkapan-ungkapannnya. Satu teks dengan yang lain bersifat saling mengisi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-5181494885822782859?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/5181494885822782859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=5181494885822782859' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/5181494885822782859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/5181494885822782859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/06/tamsya-di-ruang-kebudayaan-maya.html' title='Tamasya di ruang  kebudayaan Maya'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-5844274877823215543</id><published>2008-06-13T01:32:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T06:11:04.234-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Experiences reflection'/><title type='text'>Mantera pengobat duka</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DirikuTolong, beri aku satu kalimat, agar hidup kembali. Kematian sejenak ini sungguh menyakitkan. Agar duka tak menjadi dewa, berilah aku mantera.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jawaban kawan-kawan:&lt;br /&gt;Udin&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hidup itu terkadangmengulang masa lalumeski kadang enggantapi jalan samar&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kang Udi&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Siapapun Anda, karena –maaf- nmr anda belum ksimpan di phone bookku, katakanlah: Bismillah mawar, bismillah luka, bismillah duri, bismillah sunyi, luka mawar durisunyi. Bismillahi majreha wa mursaha.. –nmr siapa neh-&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Gusdur&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aku bukanlah aku tanpa mereka&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hilya Auliya (lia)&gt;&lt;)))));&gt; q kirim ikan untukmu ut teman ngobrol, tapi hp harus dimaskkan dalam ember yang ada airnya biar ikannya nda mati ya.. ngobrol yang akrab ya.. hahaha&lt;br /&gt;Apakah dukamu sudah mendewa? Ngobrol sama ikane sampe mana?eit, dilarang murka, klo’ yang bernama duka tdk mndewa dlm dirimu.&lt;br /&gt;Lho,kok skrng di pohon, udah malam Gus, mbok turun tho..&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Romo Eko&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Inilah seninya hidup yang penuh perjuangan dan kebahagiaan. Hidup itu bangkit dari kematian. Bersyukurlah  telah mengalami kematian karena awal kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Zahrudin&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jangan tanya saya, bangTanya saja sama yang buat kematian&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kumalasari &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ada apa gerangan mas ibad? Pa yang bs kubantu tuk nambahi energi hidupmu?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Farid&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Keliatannya sampean berkali2 mati tp ko’ msh ttp bs hidup, kemrin dah prnh mati, skarng mati lg. wah smpyan brrti termsk orang yg gak umum..&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Adrozen&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hidup segan mati tak mau? Pengecut!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mustain&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jangan sedih terus&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Siwa&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Skt dan kmatian lbh dkt dngn keabadian. Tngoklah sbntar keabadian tuk mrajut cermin retak khdupan. Alluhummajma’na jam’an marhuman. Amin&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Fahsin M Faal&lt;br /&gt;Ibad, mestinya kau tahu, segenap kekalahan dan kelemahanku, sehingga yang kulantunkan adalah nada keperihan. Maka tak pantas ku nasihatkan pada labirin gelapmu. Kuyakin engkau punya suluh yang kan mengantarkan pada terang dan warna-warna.  Bukankah alam mengajarkan kita tentang harmoni?..&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kang Zaenul Azvar&lt;br /&gt;Kemarilah. Kan kutampar kau seratus kali, agar kau tahu  bahwa hidupmu bisa bermanfaat seratus kali lipat dari sekarang!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Yogyakarta, empat Mei 2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-5844274877823215543?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/5844274877823215543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=5844274877823215543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/5844274877823215543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/5844274877823215543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/06/mantera-pengobat-duka.html' title='Mantera pengobat duka'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-3525292903089250235</id><published>2008-06-13T01:30:00.002-07:00</published><updated>2008-11-25T23:43:28.059-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikoanalisis'/><title type='text'>Mengenal Psikoanalisa Lacanian</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;                        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep ketidaksadaran mengetuk-ngetuk pintu psikologi meminta izin masuk. Sementara filsafat dan sastra telah lama bergelut dengannya, namun ilmu pengetahuan tidak tahu&lt;br /&gt;kegunaannya.&lt;br /&gt;(Freud)1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikoanalisa merupakan salah satu aliran besar dalam sejarah ilmu pengetahuan manusia. Layaknya aliran besar lainnya, marxisme contohnya, psikoanalisa telah merambah berbagai sektor keilmuan seperti sastra, sosiologi, filsafat dan kesenian. Psikoanalisa awalnya identik dengan nama pendirinya, Sigmund Freud, sehingga penggunaan istilah psikoanalisa dan psikoanalisa Freud mulanya memiliki arti yang sama. Bahkan beberapa murid Freud yang beralih dari ajaran gurunya memilih untuk meninggalkan istilah psikoanalisa, seperti Carl Gustav Jung yang mememilih menggunakan nama psikologi analitis (analytical psychology) dan Alfred Adler dengan istilah psikologi individual (individual psychology). Seiring meluasnya penerimaan psikoanalisa dalam ruang keilmuan yang beragam, istilah tersebut akhirnya tidak hanya identik dengan Freud sebagai pendiri2.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran sendiri psikoanalisa tidak lepas dari berbagai penolakan dan penerimaan. Kalimat testimonial Freud di awal artikel ini mengindikasikan penolakan yang kuat terhadap psikoanalisa, bahkan oleh psikologi yang sebenarnya memiliki kesamaan kajian dengan psikoanalisa ―psike manusia. Bahkan Eysenck, seorang psikolog behavioris di London yang berasal dari Jerman, menganggap sangat tidak mungkin memberikan predikat ilmiah bagi psikoanalisa karena tidak bersifat behavioristik.3 Penerimaan serta penolakan dapat dipahami sebagai perbedaan pendapat akibat peliknya pembacaan atas kompleksitas manusia. Pembacaan atas manusia memang tidak pernah akan berakhir. Sejak perkembangan filsafat pada zaman Yunani kuno sampai era paska-modern (post-modern) pembicaraan tentang manusia masih selalu menyisakan ruang perdebatan. Manusia dapat dianalogikan sebagai teka-teki silang yang terdiri dari beberapa kotak kosong yang menyusunnya. Setiap deret kotak dapat diisi oleh pelbagai nama dan teori guna menjawab pertanyaan seputar manusia. Tapi teka-teki silang itu tidak pernah selesai dikerjakan, selalu menyisakan pertanyaan.&lt;br /&gt;Soal adanya ketidaksadaran adalah yang paling kontroversial dari Freud. Sejak pertama kali diutarakan, penolakan untuk konsep yang asing di tengah kepercayaan kemandirian manusia sebagai mahluk yang sadar ini terus bergulir&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1" name="_ftnref1" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;4. Penolakan tersebut dapat dimaklumi tentunya, karena sangat terkait konstruksi epistimologis keilmuan modern yang bercokol kuat pada benak para saintis dan filsuf di era kelahiran psikoanalisa. Ketidaksadaran adalah kemustahilan di tengah keyakinan akan penuhnya kesadaran manusia sebagai mahluk yang berpikir. Freud yang mencurigai kesadaran adalah sesuatu yang terus direpresi oleh hasrat libidinal yang berasal dari ruang ketidaksadaran, sempat menjadi buah bibir dan cemoohan. Hasrat memang sesuatu yang sering disingkirkan dalam pembicaraan filsafat dan pemikiran Barat. Plato menyebutnya sebagai sesuatu yang harus dikontrol ketat oleh akal karena tidak memiliki prinsip untuk mengatur dirinya sendiri&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2" name="_ftnref2" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;. Adagium Descartes Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada) merupakan puncak pernyataan epistimologis pencerahan (aϋfklarung) yang menolak kekuasaan hasrat dan ketidaksadaran (atau juga pseudo-kesadaran) atas manusia yang sadar&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3" name="_ftnref3" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;. Seperti Plato, dalam anggitan Descartes akal merupakan substansi. Subjek cartesian meyakini manusia sebagai yang awas, sadar diri, rasional yang berangkat dari akal murni dan bukan hasrat atau bentuk-bentuk lain dari ketidaksadaran. Konsep ketidaksadaran dalam psikoanalisa menjadi pukulan telak ke inti subjek cartesian. Subjek cartesian yang ditahbiskan sebagai yang rasional dan bersandar pada akal murni dicurigai menyimpan hasrat libidinal dari dalam ruang bawah sadarnya. Hasrat ini tidak lain terlahir pada proses psikodinamis manusia&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4" name="_ftnref4" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt;. Freud saat itu seperti menjanjikan sebuah cara pandang baru untuk melihat ketidaksadaran dan hasrat yang dalam pandangan sebelumnya terus dinyatakan terkontrol oleh akal-rasio manusia yang sadar. Psikoanalisa hadir untuk menyatakan bahwa hasrat yang berdiam dalam ketidaksadaran merupakan kekuatan yang mengontrol manusia yang mentahbiskan diri sebagai yang sadar dengan kekuatan akalnya. Kehadiran psikoanalisa tidak sebatas menghantam pandangan yang telah berkembang tentang psike (psyche) manusia pada ruang psikologi, tapi lebih jauh menghantam rasionalisme yang telah sekian lama diamini oleh para ilmuan dan filsuf.&lt;br /&gt;Penolakan terhadap ide ketidaksadaran Freud tidak hanya muncul dari kelompok rasionalis melainkan juga datang dari para penggiat eksperimentalis (empirisme). Bagaimanapun, sungguh akan cukup sulit membuktikan adanya id (ketidaksadaran) pada manusia secara empirik. Hal ini yang memungkinkan Eysenck dengan begitu tajam menyerang Freud. Penolakan Eysenck atas psikoanalisa sebagai sebuah ilmu dengan alasan karena sifatnya yang tidak behavioristik, berarti ―setidaknya dalam pandangan behavioris ekstrem yang cenderung hanya mengamati sesuatu yang tampak sebagai perilaku― bahwa ketidaksadaran yang diusung oleh psikoanalisa merupakan sesuatu yang tidak tampak dan tidak teruji secara emprik. Sementara orientasi keilmuan umumnya merupakan orientasi pada dunia empiris&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5" name="_ftnref5" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Pada pembacaan lain atas Freud selanjutnya, para pembaca menunjukkan bahwa psikoanalisa Freudian telah ingkar pada janji sebelumnya untuk mengungkap kekuatan dan dorongan ketidaksadaran dalam diri manusia. Adagium Wo Es War, Soll Ich Werden (dimana ada id selalu ego berpatroli) menunjukkan bahwa Freud gagal mewujudkan janji psikoanalisa. Ego yang sadar dalam konsep Freud membuktikan bahwa ketidaksadaran (id) tetap terkontrol dalam pengawasan ego yang sadar. Freud dituduh oleh beberapa pembacanya tengah ikut dalam pemujaan ego cartesian. Di sinilah ambiguitas Freud terungkap ke permukaan.&lt;br /&gt;Terlepas dari berbagai pro dan kontra tersebut, psikoanalisa telah memberikan sumbangan besar bagi berbagai bidang ilmu, termasuk psikologi sendiri yang akhirnya menerima psikoanalisa. Pembacaan atas psikoanalisa Freudian pun telah ikut melahirkan berbagai teori dan pendekatan baru pada berbagai bidang ilmu yang dengan tangan terbuka maupun setengah-setengah menerima kehadirannya. Psikoanalisa kini telah lebih bisa diterima sebagai sebuah cara pandang baru tentang manusia bagi berbagai ilmu, meski masih menyisakan kontroversi. Pembacaan terhadap Freud pun serasa tidak pernah berhenti. Prinsip-prinsip psikoanalisa yang dibangunnya terus menjadi perhatian tidak hanya dari kelompok psikolog atau psikoanalis sendiri. Kritik, pengungkapan dan pembaharuan pandangan terhadap karya-karya Freud terus dilakukan oleh para saintis dan filsuf. Harus diakui bahwa Freud merupakan salah satu inspirator penting dalam perkembangan paradigma ilmu sekarang.&lt;br /&gt;Salah satu pembaca Freud yang tekun adalah Jaques Lacan, seorang psikoanalis asal Perancis. Di tangan Lacan, psikoanalisa Freud berkembang menjadi aliran psikoanalisa baru yang sangat mengagumkan. Dengan semangat “Kembali pada Psikoanalisa”, Lacan memasukkan enersi linguistik struturalisme, beberapa gagasan dari antropologi dan filsafat ke dalam psikoanalisa. Lacan sering dikenal sebagai sintesa Freud dan Saussure dengan sedikit sentuhan Lévi Strauss, Heidegger dan Jaques Derrida. Persentuhan pelbagai pemikiran dan aliran keilmuan inilah yang akhirnya membuat karya Lacan dikenal sebagai pemikiran yang tidak mudah untuk dipelajari. Selain itu, kegemaran Lacan menggunakan idiom-idiom asing dan baru untuk memperkuat psikoanalisa yang dikembangkannya lebih memperumit upaya untuk mendekati pemikirannya&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6" name="_ftnref6" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Seperti penolakan terhadap psikoanalisa Freud pada awal kemunculannya, Lacan juga mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dengan pendahulunya. Penerimaan atas psikoanalisa lacanian di dunia psikologi terasa sangat terlambat. Sementara cultural studies ―cukup sulit untuk menemukan padanan kata ini dalam penterjemahan ke dalam bahasa Indonesia, sosiologi paskamodernisme dan filsafat telah banyak mengambil manfaat dari pemikiran Lacan, dunia psikologi masih sering bungkam, belum mengambil sikap terbuka terhadap aliran psikoanalisa ini.&lt;br /&gt;Tulisan ini lebih merupakan sebuah introduksi seputar psikoanalisa Lacan yang tentu sangat jauh dari memadai untuk memaparkan luas dan rumitnya pemikiran Lacan. Dalam tulisan ini diungkap sekelumit pandangan Lacan tentang ketidaksadaran dan sebuah contoh pembacaan ala lacanian tentang fenomena konsumerisme yang tengah aktual kini. Sebagai introduksi tulisan ini merupakan sebuah ajakan. Seruan untuk membuka pintu, mempersilahkan Lacan secara lebih bebas masuk ke ruang obrolan keseharian psikologi sebagai pemerkaya.&lt;br /&gt;Jaques Lacan: sebuah Pembacaan&lt;br /&gt;Kemunculan psikoanalisa merupakan hantaman kedua bagi kemapanan rasionalisme dan humanisme keilmuan barat yang berdiri di atas fondasi kesadaran subyek. Setelah Nietzsche mencurigai kenginan subyek yang rasional ala cartesian dipenuhi hasrat akan kekuasaan, psikoanalisa menyatakan keterhubungan antara kesadaran dengan ruang ketidaksadaran yang  tidak tertundukkan. Psikoanalisa secara telak memukul inti kekuatan pemikiran Barat dan mempercepat terjadinya krisis ego cogitan.&lt;br /&gt;Freud membangun konsep topografi kepribadian manusia yang terbelah menjadi dua ruang; kesadaran dan ketidaksadaran. Ruang kesadaran adalah ruang yang terapung-apung di atas ruang ketidaksadaran. Pengaruh ruang ketidaksadaran akan selalu mucul secara tidak dinyana dan disadari ―bahkan― oleh kesadaran subyek. Ketidaksadaran merupakan buah dari kompleksitas konflik psikis yang terjadi pada masa perkembangan perversitas polimorfosis bayi. Pada perkembangannya kemudian, Freud sedikit berbelok dari anggitan pertamanya. Berharap dapat mengurangi represi, Freud mendeklarasikan Wo Es War, Soll Ich Werden (dimana Id, disana ada ego) yang berarti kemenangan ego (kesadaran) atas id. Ego yang terdiri dari identitas diri dan kedirian yang rasional akan senantiasa mengantisipasi kemunculan id dan menggantikannya saat muncul ke permukaan. Di titik inilah Freud didera banyak cemoohan dan kritik.&lt;br /&gt;Jaques Lacan merupakan salah satu pembaca Freud yang secara tegas menolak anggitan Freud tentang berkuasanya ego atas id. Lacan merupakan seorang psikoanalis kebangsaan Perancis yang begitu berminat pada ide-ide Freud muda ―Freud yang dianggap masih memiliki tenaga untuk mempertahankan kekuatan ketidaksadaran sebagai faktor pendorong kepribadian. Bagi Lacan, kontrol ego atas id adalah sesuatu yang mustahil. Bagaimanapun, ego merupakan sebuah produk jadi dari id yang terbentuk melalui mekanisme kesalahan mengenali (méconaît) diri di hadapan cermin pada sebuah fase yang disebut fase cermin (statu de miroir). Ego adalah ilusi atau pseudo-identitas&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7" name="_ftnref7" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;. Stadu de miroir merupakan fase yang pada akhirnya menentukan keseluruhan identifikasi dalam diri manusia. Keseluruhan eksistensi manusia, menurut Lacan, mau atau tidak, dipengaruhi dan dikontrol oleh ketidaksadaran&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn8" name="_ftnref8" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt;. Itulah jantung pemikiran Lacan.&lt;br /&gt;Ketidaksadaran terstruktur seperti halnya bahasa. Itulah sisi lain pemikiran Lacan. Ia menekankan arti pentingnya bahasa dalam pelbagai hubungan kesadaran dan ketidaksadaran. Penekanan tersebut merupakan hasil dari pembacaan Lacan atas prinsip-prinsip psikoanalisa freudian dan tidak terlepas pula dari pengaruh aliran surealisme dalam dunia kesenian. Bagi seorang surealis, suatu gambaran simbolik (lambang-tanda) dapat saja merujuk makna yang plural, atau mewakili beberapa makna yang berbeda. Pengertian ini sering direpresentasikan dalam karya-karya surealistik yang memperlambangkan makna tertentu dengan simbol-simbol berbeda. Pada bentuk lainnya, surealisme sering menghadirkan beberapa simbol yang tidak sinkron dalam kesatuan pembentukan makna. Sementara, kesadaran bagi Freud, terstruktur oleh bahasa dan tanda-tanda yang didiami oleh ketidaksadaran&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn9" name="_ftnref9" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt;. Analisa yang dilakukan oleh Freud selama praktik psikoanalisanya menunjukkan bahwa pasien tidak dapat menunjukkan secara langsung problem psikisnya, melainkan dengan memainkan simbol-simbol penuturan bahasa. Penceritaan oleh pasien yang merupakan lambang dalam bahasa harus dianalisa untuk menemukan bentuk trauma sebenarnya. Interpretation of Dream, sebuah karya monumental Freud juga mendemonstrasikan penafsiran lambang tersebut. Mimpi adalah bentuk perlambangan yang diyakini sinkron dan terhubung dengan beberapa kenyataan dalam hidup pasien. Makna mimpi adalah trauma yang kembali atau sebuah pemenuhan atas yang tidak tercukupi ―setidaknya secara psikis. Kembalinya trauma-trauma dan ketidakcukupan tersebut tidak secara langsung bersifat naratif, melainkan dengan membentuk suatu konfigurasi perlambangan. Makna mimpi selalu diwujudkan dalam simbol-simbol, titik. Namun, makna bagi Freud maupun Lacan bersifat tidak tetap dan bergantung pada penggunaan individual dan kultural. Hal ini bertolak belakang dengan Jung yang menyatakan bahwa makna senantiasa bersifat statis.&lt;br /&gt;Berangkat dari pembacaan atas Freud tersebut, Lacan meyakini bahwa psikoanalisa harus dapat menjadi semacam ilmu bahasa dan tanda karena sifatnya yang secara eksklusif mempergunakan bahasa dalam analisisnya. Di sinilah Lacan tidak hanya menarik linguistik ke dalam ruang psikoanalisa, tetapi juga membangun sebuah sintesa psikoanalisa-semiotika.  Dalam kamus psikoanalisa Freudian terdapat pula beberapa contoh kategori penting yang berkaitan dengan operasional bahasa dan lambang dalam keseharian, yakni lelucon,  gejala-gejala, kekeliruan-keliruan hidup sehari-hari dan impian-impian. Kesemua fenomena tersebut terkait dengan permainan bahasa dan bersumber dari ruang bawah sadar.&lt;br /&gt;Lacan menekankan pentingnya pamahaman “fungsi kata” yang dalam kondisi psikoanalitik dikenal dengan istilah treatment. Penjelajahan fungsi kata diyakini dapat membawa kita ke dalam penjelasan bagaimana ketidaksadaran terbentuk dan terus beroperasi. Dalam menjelaskan fungsi kata tersebut Lacan menggunakan istilah subyek&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn10" name="_ftnref10" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; (segala tentang pribadi/aku) dan penanda (signifier) yang ―dalam makna lacanian― berarti kata itu sendiri. Penanda&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn11" name="_ftnref11" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; merupakan perwalian dari subyek untuk berkomunikasi, mengungkapkan diri dan bermimpi. Keduanya (subyek dan penanda) dalam kosa kata lacanian mengandung makna yang beroposisi secara biner (binary opposition). Semboyan Lacan “kembali pada penanda” bermakna ajakan kembali pada pembicaraan tentang ruang ketidaksadaran.&lt;br /&gt;Untuk menjelajahi hubungan antara subyek, tanda dan makna, Lacan banyak terinspirasi semiologi&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn12" name="_ftnref12" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; strukturalis Sassurean, meski dengan melakukan beberapa modifikasi dan penyesuaian. Berbeda dengan Saussure, Lacan hanya berfokuskan pada hubungan di antara penanda-penanda itu sendiri. Bagi Lacan, tidak ada yang dirujuk oleh penanda, atau penanda tidak merujuk pada suatu konsep apapun selain dirinya itu sendiri. Relasi penanda (signifier) merupakan relasi negatif  yang berarti suatu penanda adalah penanda bagi dirinya sendiri bukan pada yang lain. Relasi tersebut juga merupakan relasi yang tidak terhenti. Inilah bentuk operasional ketaksadaran dimana akan selalu terjadi pengulangan, pergeseran dan sirkulasi yang tidak henti dalam sistemnya. Ketidaksadaran adalah bentuk yang tidak memiliki titik pemberhentian, titik. Berangkat dari anggitan relasi negatif  antar penanda, bagi Lacan, menjadi dewasa berarti berupaya menghentikan gerak relasional antar penanda tersebut agar ―setidaknya― relasi tersebut menjadi lebih stabil. Namun sekali lagi kestabilan merupakan bayang-bayang atau pseudo-kestabilan. Ego yang dianggap telah mampu melakukan stabilisasi hubungan relasional antar penanda tetaplah ilusi, buah karya ketidaksadaran, mispersepsi  dalam tahapan cermin saat manusia masih berupa seonggok daging yang bernama bayi ―infant; enfans = belum bersuara&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn13" name="_ftnref13" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt;. Karena proyek pengenalan diri dalam ego menghasilkan sesuatu yang ilutif tentang konsep diri ―ego ideal, maka segala bentuk upaya memberhentikan relasi penanda oleh sistem ilutif tersebut akan hanya menghasilkan ilusi-ilusi baru yang dirasa sebagai kestabilan.&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, Lacan memandang subjek merupakan sesuatu yang senantiasa terbelah dan tidak utuh. Keterbelahan tersebut merupakan hasil dari proses pada fase-fase perkembangan perversitas polimorfosis saat pertama kali bayi mengenal serta mengunakan bahasa ―seperti halnya pada pandangan Freud― yang berkaitan dengan relasi bayi dan ibu.  Dalam psikoanalisa Freudian, seorang bayi mengalami tiga fase perkembangan perversitas polimorfosis, yakni oral, anal dan phalik.  Ketiga fase tersebut merupakan lintasan menuju fase genital yang merupakan fase akhir yang identik dengan fase kedewasaan. Dalam ketiga fase itu pula terjadi berbagai ketegangan psikis seperti kompleks oedipus dan kompleks kastrasi sebagai bentuk formasi penyesuaian serta upaya mengkomunikasikan kebutuhan dan upaya pemenuhannya. Tahap genital adalah tahapan berakhirnya kateksis-kateksis narsistik yang beroperasi pada masa pragenital. Kateksis-kateksis narsistik yang beroperasi pada fase pra-genital berarti manipulasi dan stimulasi individu pada tubuhnya sendiri demi kepuasan tertentu. Sedang pada fase genital hasrat narsistik tersebut mulai mengalir ke arah yang sebenarnya. Di dorong oleh motif-motif altruistik yang bukan semata “cinta diri”, orang dewasa akhirnya mengarahkan cinta pada obyek yang tepat dan sebenarnya, yakni orang lain&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn14" name="_ftnref14" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt;. Lacan memiliki penjelasan lintasan perkembangan perversitas pilimorfosis yang berbeda dengan Freud, ia mempertemukan konsep kebutuhan―permintaan―hasrat (need-demand-desire) dengan lintasan fase Yang Real―Yang Imajiner―Yang simbolik. Pada penjelasan kesemua istilah tersebut bahasa memperoleh tempat yang cukup dominan.&lt;br /&gt;Kebutuhan (need) secara sederhana dapat diartikan sebagai kebutuhan secara fisiologis atau dalam makna lain sebagai kebutuhan fisiologis yang dapat tercukupi. Pada bayi manusia, kebutuhan-kebutuhan fisiologis, melalui peran orang-orang terdekat ―terutama ibu― akan senantiasa dapat tercukupi dengan mudah: saat lapar bayi memperoleh ASI, ketika membutuhkan kehangatan bayi mendapat pelukan, dll. Artinya bayi selalu merasakan sesuatu yang penuh, utuh atau tanpa kekurangan, kehilangan dan kekosongan. Pada fase ini bayi belum mengenal bahasa dan belum dapat membedakan antara diri dengan yang liyan (yang lain): bayi masih merasakan bahwa dirinya dan seluruh yang liyan merupakan satu kesatuan. Bayi bagi Freud dan Lacan adalah manusia ―ekstremnya seonggok daging― yang belum terbentuk menjadi individu atau tanpa pemahaman akan dirinya sebagai manusia yang utuh dan terlepas dari yang lain. Yang berdiam dalam bayi hanyalah kebutuhan dan segala pemenuhannya. Fase kebutuhan (need) ini berdiam dalam Yang Real yang merupakan “fase sebelum pikiran”&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn15" name="_ftnref15" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt;. Bahasa tidak pernah ada di ruang ini karena tidak ada kehilangan, kekurangan dan ketidaan. Yang ada hanya kepenuhan, titik. Masuknya bahasa adalah keterpecahan bayi. Bayi yang awalnya hanyalah seonggok daging dan tidak mengerti apa-apa, seperti mendapat  kutukan, masuk ke dalam dunia yang telah terlebih dahulu dipenuhi oleh bahasa ―atau dalam pengertian yang sama dapat digunakan istilah diskursus (discourse); yang simbolik. Bayi yang tidak mengerti apa-apa tersebut, oleh manusia dewasa, diberi identitas sebagai manusia. Menggunakan bahasa berarti kehilangan segala sifat kepenuhan, inilah titik awal keterpecahan.&lt;br /&gt;Ketika bayi mulai dapat membedakan dirinya dengan yang selain dirinya ―meskipun pada fase awal ini bayi tetaplah belum memiliki konsep tentang yang liyan secara utuh; bayi belum memiliki kemampuan membedakan secara biner antara diri dan liyan― bayi mulai memasuki tahapan baru, yakni permintaan (demand). Istilah permintaan dalam kosa kata Lacanian memang cukup rumit untuk dipahami dan dijelaskan. Permintaan adalah adalah sesuatu yang tidak dapat ―atau tidak mungkin― terpenuhi.   Saat mulai menyadari akan adanya liyan yang terpisah dari dirinya, bayi seperti ingin kembali kepada keutuhan sebelumnya. Bayi ingin segala tentang yang liyan menghilang. Itulah esensi utama dari permintaan; kembali pada keutuhan. Hal tersebut tentulah mustahil, karena perlahan keliyanan semakin menunjukkan diri dihadapan sang bayi. Bayi akhirnya memulai fase Yang Imanjiner. Fase Yang imajiner tetaplah berada pada titik pra-bahasa dan dikendalikan oleh logika visual bayi.&lt;br /&gt;Dalam Yang Imajiner terjadi fase cermin (stadu de miroir).  Bayi suatu ketika akan menyaksikan bayangan dirinya dalam cermin. Bayangan tersebut, oleh bayi, dikonfrontir dengan keberadaan yang lain seperti ibu atau pengasuh lainnya. Bayi akan melihat citra dalam cermin kemudian melihat ke arah yang lain. Saat itulah bayi mulai menyadari bahwa dirinya adalah eksis dan terpisah dari yang lain, bahkan ibu. Itulah Individuasi. Tapi bayi mengira dirinya yang berada dalam cermin adalah benar-benar dirinya. Citra tersebutlah yang akhirnya diakui sebagai “aku” atau ego. Jadi, ego terbentuk dari kesalahan mempersepsi citra cerminal sebagai aku. Citra tersebut dalam bahasa psikoanalisa disebut sebagai ego ideal. Sebagai citra cerminal, ego ideal tidak akan pernah cocok dengan keadaan individu yang sebenarnya. Ego tidak lain adalah konsep imajiner tentang diri yang utuh, sempurna, nir-kekurangan dan tanpa keyakinan adanya kekurangan di dalamnya. Ego atau aku tersebut akan menjadi selalu “liyan&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn16" name="_ftnref16" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt;”, tidak setara dengan ―bahkan bukan―  aku yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Pembentukan citra yang salah pada fase cermin merupakan aleniasi. Aleniasi dalam konsep Lacan selalu melibatkan dua arus berbeda, bayi dan liyan. Bayi adalah yang selalu kalah&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn17" name="_ftnref17" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt;. Alienasi pertama bayi manusia adalah ketika terjadi kesalahan mempersepsi diri yang menempatkannya sebagai yang liyan bagi dirinya sendiri atau terceburnya bayi ke dalam citra yang salah atau ego ideal. Dalam Yang Imajiner bayi terus akan melakukan identifikasi pelbagai Liyan menggunakan citra yang diperoleh dari cermin. Pengenalan Keliyanan (otherness) semakin meneguhkan pangakuan bahwa citra cerminal  adalah “aku”.  Di sinilah, bagi Lacan diri selalu dilihat dari yang liyan.&lt;br /&gt;Ketika bayi semakin dapat melakukan pembedaan dan proyeksi ide-ide tentang Keliyanan, tataran Yang simbolik dimulai. Bersamaan dengan itu terjadi akuisisi bahasa. Yang simbolik adalah keberadaan “aku” dalam struktur bahasa. Keadaan dimana aku dinyatakan melalui bahasa. Tidak seperti alur perkembangan pervesitas polimorfosis freudian yang runtut, Yang Imajiner dan Yang simbolik tidak memiliki batas yang jelas. Keduanya saling tumpah tindih, saling bermunculan dan koeksis. Di dalam tataran yang simbolik, di sanalah hasrat (desire) berdiam.&lt;br /&gt;Perpisahan dari ibu adalah yang mutlak bagi bayi untuk masuk ke dalam sebuah kebudayaan. Namun perpisahan tersebut menyisakan rasa kehilangan kehilangan yang akan terus bersirkulasi. Ibu merupakan obyek kehilangan yang pertama dan utama bagi bayi. Inilah berbeda dari Freud, ayah yang meretakkan bayi dan ibu dinilai Lacan bukanlah sebagai ayah biologis, melainkan ayah simbolik atau hukum atas―nama―ayah (nom-du-pere / name—of—the—father). Ayah simbolik dapat berupa apapun yang menghalangi atau memisahkan bayi dari ibu. Lacan memang sangat terpengaruh oleh Roman Jakobson. Karena itulah ia menyerupakan kondensasi dan pemindahan ala Freudian dengan konsep metafor dan metonimi&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn18" name="_ftnref18" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt;. Untuk itu, sering kali pembacaan atas konsep Lacan harus menggunakan kedua pendekatan linguistik tersebut. Makna ibu dan hubungan dengan ayah penting untuk ditelisik melalui pendekatan metaforis. Kedudukan ibu juga kedudukan yang feminin cenderung menjadi kedudukan Yang Real, sementara ayah akan membangkitkan Yang Simbolik. Bersatunya ibu dan bayi akan memperlambat perkembangan bahasa, yang berarti keterlambatan memasuki tataran Yang simbolik. Ayahlah yang berperan memutuskan  kelekatan  dan penyatuan bayi  dari ibu agar masuk dalam dunia bahasa —Yang Simbolik.  Fungsi metaforis sangat kental dalam alur pemikiran Lacan. Bahkan istilah “cermin” dalam Yang Imajiner juga memiliki fungsi metaforis, yakni “pandangan ibu” yang membuat bayi berkeyakinan bahwa ibu sedang memandang yang lain, yakni bayi itu sendiri. saat itulah bayi mulai merasa adanya keterpisahan ibu dan dirinya.&lt;br /&gt;Hasrat pada dasarnya merupakan keinginan akan kepemilikan identitas. Pada tataran simbolik bayi berkeinginan untuk memiliki identitas lengkap yang disebut “aku”. Ketika tercebur ke dalam dunia bahasa, bayi, mau tidak mau harus tunduk pada aturan sistem penandaan di ruang bahasa. Penanda, intinya beroperasi secara negatif. Sebuah penanda tidak serta merta menunjuk petanda tertentu, melainkan penanda yang lain. Artinya, penanda beroperasi dengan hukum perbedaan. Penanda “ibu” tidak semata menunjukkan adanya ibu —sebagai petanda— melainkan secara berbeda menunjuk adanya ayah. Karena ketundukan pada rotasi dan permainan penandaan inilah, mencapai identitas akan kembali menjadi mustahil. Identitas hanyalah kesemuan yang disebabkan adanya efek penandaan; identitas adalah karya penandan. Keterjebakan dalam bahasa membuat manusia secara tidak sadar masuk dalam lingkaran penanda (circle of signifiers) ini. Konsekuensi logisnya, hasrat tidak dapat menunggangi bahasa, dan bahasalah yang memanipulasi hasrat.&lt;br /&gt;Bentuk lain dari hasrat adalah “keinginan untuk menjadi” sebuah subyek yang utuh, tidak terbelah dan tanpa kekurangan dan penuh dengan pemenuhan. Hasrat ini berarti hasrat kembali pada Yang Real, yang telah menghilang saat akuisisi bahasa. Hasrat untuk kembali pada sesuatu yang tidak mungkin lagi dijelajahi oleh bahasa dan simbol.&lt;br /&gt;Kekurangan (lack) adalah ibu kandung dari hasrat. Secara eksistensial manusia dikendalikan oleh pelbagai rasa kehilangan dan kekurangan. Kehidupan manusia seperti merupakan ajang pencarian pemenuhan akan sesuatu yang kurang. Kekurangan dalam makna yang eksistensial ini tentu tidak akan pernah menjadi penuh atau dapat terpenuhi. Dalam bahasa Lacan, tidak mungkin kembali pada yang Real. Hal ini sangatlah wajar dengan mengingat sumber rasa kekurangan pada manusia. Sumber kekurangan adalah kehilangan “kepenuhan” dalam tataran yang real, sementara didalamnya tidak berdiam bahasa yang mungkin digunakan untuk mengenali  kepenuhan tersebut. Bahasa yang muncul setelahnya, tidak dapat menjangkau ruang Yang Real, sehingga manusia dengan bahasa seperti mengejar “kepenuhan” yang tidak dikenali sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1" name="_ftn1" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Bagi Freud terdapat dua alasan kuat atas penolakan atas cara pandang psikoanalisis, yakni kesulitan menerima pandangan  atas adanya determinisme ketat dan menyeluruh dalam hidup psikis dan ketidaktahuan sebagian besar orang tentang sifat-sifat khusus yang membedakan proses-proses psikis tidak sadar dengan pelbagai proses sadar yang terbiasa dalam kehidupan manusia. Lihat Ceramah Ke lima Freud dalam Psikoanalisis Sigmund Freud. Terj Karl Bertens. Gramedia Pustaka: 2006. Hal  96&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2" name="_ftn2" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Titus, Smith dan Nolan, Persoalan-persoalan Filsafat. Terj HM. Rasjidi. Jakarta. Bulan Bintang: 1984. hal 78&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3" name="_ftn3" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Menghadapi adagium cartesian, Lacan menyatakan “Je ne suis pas, lá où je suis le jouet de ma pensee; je pense à ce que je suis, là où je ne pense pas penser.” (I am not, there where I am the plaything of my tought; I think about what I am, there where I do not think that I am thingking). Subjek Cogito yang sadar bagi Lacan di dorong oleh ruang ketidaksadaran yang dapat saja berkata “aku berpikir” atau “aku..”. Lihat Jaques Lacan. The Language of the Self , the Fuction of Language in Psychoanalisys. Dalam komentar penerjemah oleh Anthoni  Wilden. New York. Delta Book: 1968. hal 183&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4" name="_ftn4" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Cogito merujuk pada ego yang disebut oleh Lacan sebagai “false being”. Lihat Bruce Fink, The Lacanian Subject, Between Language and Jouissance. New Jersey. Priceton University. Hal 42-44.&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5" name="_ftn5" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Jujun S. Suriamantri, Ilmu dalam Perpektif, Sebuah  Kumpulan Karangan Tentang Hakekat  Ilmu, cet ke xvi.  Jakarta. Yayasan Obor Indonesia: 2003. hal 6. Lihat pula Titus, Smith dan Nolan, Persoalan-persoalan Filsafat. Terj HM. Rasjidi. Jakarta. Bulan Bintang: 1984. hal 234.&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6" name="_ftn6" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Hal tersebut dipersulit dengan sikap Lacan yang tidak tertarik menuliskan pemikirannya. Beberapa ceramah ilmiah Lacan baru diterbitkan setelah kematiannya, selebihnya sebatas catatan-catatan tidak resmi dari seminar-seminarnya. Lacan mencela publikasi dengan menyebutnya sebagai poubellication (bahasa perancis), dari kata poubelle yang berarti keranjang sampah. Lihat  Philip Hill, Lacan Untuk Pemula, terj. A. Widyamartaya. Yogyakarta. Kanisius: 2002. hal 7&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7" name="_ftn7" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Lihat Antony Wilden,.. Hal 159-160.&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref8" name="_ftn8" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Bruce Fink,..hal 36-37&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref9" name="_ftn9" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Muhammad Alfayyadl. Derrida,  Cet ke-2 .Yogyakarta, LKiS. 2006. hal 123&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref10" name="_ftn10" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Dalam seminar ke XXIII Lacan menyebutkan bahwa subjek bukanlah seperti yang dikira. Artinya subyek tidak pernah lebih dari sekedar asumsi dalam diri kita. Subjek bukan merupakan sesuatu yang kita sebut sebagai subjek yang sadar seperti yang berkembang dalam filosofi Anglo-Amerika. Lacan menggunakan lambang “S” dengan palang yang melintang ditengahnya ($) untuk menyebut subjek yang menunjukkan bahwa subjek senantiasa dalam kondisi terbelah. Artinya, selalu ada yang menghalangi subyek untuk mencapai apa yang dikehendaki atau menjadi utuh. Lihat Bruce Fink,..hal 35.  Lihat pula Philip hal,..hal 33&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref11" name="_ftn11" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Istilah tanda (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified) kesemuanya merupakan istilah yang terlahir dan berkembang di ranah semiotika. Tanda dalam pandangan strukturalisme Saussurean merupakan entitas psikolgis yang bersisi-dua, terdiri dari unsur penanda (berupa citra atau bunyi) dan petanda (“sesuatu yang ditandai”  atau sebuah konsep).  Kedua elemen tersebut menyatu dan saling bergantung satu sama lain. Kombinasi keduanya (antara penanda dan petanda) inilah yang kemudian menghasilkan sebuah tanda. Penanda merupakan aspek sensoris dari tanda-tanda, yang dalam bahasa lisan berwujud citra bunyi atau citra akustik yang berkaitan dengan konsep (petanda) tertentu. Substansinya senantiasa bersifat material seperti bunyi, objek-objek, tulisan, dll. Sedikit berbeda dengan konsep Saussure tersebut, Lacan, sebagaimana Roland Barthes, menolak anggitan relasi antara penanda dan petanda. Bagi keduanya penanda beroperasi secara bebas. Dalam kosakata Lacan penanda berarti kata atau lambang. Lihat Lihat Kris  Budiman. Kosa Semiotika. Yogyakarta. LKiS, 2006. hal 115 dan 93&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref12" name="_ftn12" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Istilah semiologi merupakan istilah yang digunakan oleh Fendinand De Saussure untuk menunjuk sebuah ilmu umum tentang tanda. Dalam definisi Saussure semiologi merupakan ilmu yang secara khusus mengkaji kehidupan tanda-tanda dalam masyarakat, dengan demikian menjadi sebuah bagian dari psikologi sosial. Namun pada perkembangannya, penggunaan istilah semiologi semakin jarang digunakan, digantikan oleh istilah semiotika yang lebih populer. Istilah ini tetap oleh tokoh-tokoh tertentu di Perancis yang ingin membedakan bentuk pemikiran mereka dengan pemikiran semiotika yang berkembang di Amerika dan Italia. Ibid. hal 107-108&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref13" name="_ftn13" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Lihat penjelasan istilah ini dalam Jhon Lechte. 50 Filsuf Kontemporer, dari Strukturalisme sampai Posmodernitas, terj Gunawan Admiranto. Yogyakarta. Kanisius, 2001. hal 115.&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref14" name="_ftn14" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Calvin, S. Hall dan Gardner Lindzey. Teori-teori Psikodinamik (Klinis), terj. Yustinus. Yogyakarta. Kanisius, 1993. hal 90-96&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref15" name="_ftn15" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Bruce Fink,..hal 25&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref16" name="_ftn16" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Lacan mempergunakan kata liyan (other) dalam berbagai bentuk yang berbeda yang mempersulit pemahaman atas makna kata tersebut. Cara termudah memahami liyan adalah sesuatu yang selain aku. Tapi dalam tahapan cermin liyan dapat menjadi aku. Liyan adalah aku. Citra dalam cermin bagaimanapun adalah selain aku yang diintrodusir sebagai aku. Liyan sebagai aku disebut liyan (dengan huruf Lacan kecil ―other) yang berbeda dengan Liyan (dengan huruf l besar―Other) yang berarti liyan-liyan selain “aku” yang  liyan. Liyan (L―mOther) dapat berarti ibu, ayah atau liyan-liyan lain yang eksis di luar liyan. &lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref17" name="_ftn17" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Bruce Fink,..49-50&lt;br /&gt;&lt;a class="mceItemAnchor" href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref18" name="_ftn18" mce_href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Metafora dalam pandangan Roman Jakobson berarti segala yang mengacu pada penggantian kata yang harfiah dengan kata lain  yang figuratif. Penggantian kata secara metaforis lebih bersifat analogis. Metonimi merupakan pertautan kata per kata. Penggantian metonimik dapat terjadi berdasarkan hubungan asosiatif antara kata yang harfiah dengan penggantinya. Hal-hal yang berhubungan secara logis (sebab akibat-kausalitas), keseluruhan dan bagian, atau yang dapat diketemukan dalam konteksnya yang familiar, kesemuanya membangun hubungan yang metonimik antara satu dengan yang lainnya. Lihat Kris Budiman,..hal 73-74  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-3525292903089250235?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/3525292903089250235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=3525292903089250235' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/3525292903089250235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/3525292903089250235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/06/mengenal-psikoanalisa-lacanian.html' title='Mengenal Psikoanalisa Lacanian'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-861463199992196892</id><published>2008-06-13T01:30:00.001-07:00</published><updated>2008-12-12T06:11:24.787-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Experiences reflection'/><title type='text'>Pedagang Roti Bakar: Nasionalisme Dan Kebutuhan Perut</title><content type='html'>Malam agak pekat. Jarum jam menunjuk angka 12. Tepat tengah malam. Entah lapar atau sekedar nafsu jajan yang menuntun saya mendekati gerobak roti bakar yang hampir tutup. Pedagangnya mulai berkemas pulang. Ketika menlihat saya berhenti, sejenak ia menunda keinginan berkemas, tampaknya. “Masih kok mas” selorohnya.Saya memesan sepotong roti isi coklat kacang kegemaran saya. Sambil menunggu, sebatang saya duduk di belakang penjual roti yang kira-kira berusia 31 tahun itu. Saat membesarkan nyala api kompor, satu hal menarik perhatian saya. Kompor minyak tanah. Ya, kompor yang hampir musnah dilikuidasi oleh kebijkan konvesri minyak ke gas yang diterapkan pemerintah.  Dari pada diam saya mencoba mengajak bicara pedagang yang mulai asyik memoles roti.Saat ditanya soal minyak, dengan sangat emosional pedagang itu menjawab. Seakan tersentil sesuatu yang paling sensitif dalam batinnya. Ia berseloroh panjang lebar tentang sulitnya minyak di pasaran. Dan sekali lagi, sebagai orang kecil, ia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti menumpahkan kekecewaan ia bercerita tentang ketidakpuasan pada keputusan kontroversial pemerintah ini. Ia tumpahkan dengan nada datar, tapi saya yakin penuh emosi. Saya dan pedagang orti tersebut, kita, sama-sama bingung, mengapa di negeri yang dipenuhi tambang minyak ini bisa terjadi kelangkaan dan mahalnya harga minyak. Kenapa di negara kaya ini lebih banyak orang miskin. Mengapa SBY-JK tidak peduli pada korban Lapindo? “Dasar budeg” kata si pedagang.Ia juga berbicara panjang lebar tentang negara. Tentang pemerintahan, Parpol, DPR, para presiden dan lupa tentang nasibnya sendiri. Ia tak tampak marah, tapi intonasi tak bisa sembunyikan sentimen yang begitu kuat. Ia mengaku kecewa dengan nasionalisme para pejabat yang retoris. Nasionalisme podium yang diikuti dengan penjualan aset-aset rakyat. Ia menyebutkan kapal tanker,  Indosat, Freeport, dan contoh-contoh lain dari kehebatan watak bisnis para penguasa.  Ia menyatakan betapa sayangnya tindakan tidak nasionalis tersebut. Meski common sense, saya tetap percaya orang ini. Entah akibat hallo effect  atau hal entah yang menyebabkan saya yakin iniadalah suara rakyat kecil.“Nasionalisme itu kayak apa tho, mas?” ia bertanya, tapi kemudian ia memberi jawaban sendir.Ia menegaskan nasionalisme itu bukan slogan, bukan janji kampanye, bukan alat kebohongan publik di arena politik, tapi kepedulian bahwa kepentingan rakyat banyak di atas kepentingan ekonomi internasional yang semakin mencengkeram. Baginya nasionalisme itu juga mendamaikan agama-agama, meneguhkan persaudaraan antar suku, antar pulau dan mengalahkan kepentingan-kepentingan. Sambil bersendawa pedagang ini berselorh: “rakyat kecil yang lapar bisa menjadi nasionalis, masa yang punggawa negara yang kadung kaya makan uang negara ndak juga bisa?” Ia bercerita tentang warga korban lapindo yang tetap bisa rayakan 17 agustusan, tentang tukang becak yang mau menghias becak dengan merah putih yang harus dibeli  dengan uang makan yang pas-pasan. Ini nasionalisme ala orang miskin.Roti selesai dibungkus. Rp. 7000 kuserahkan. Perbincangan selesai. Aku masih bertanya, “ dimana kuping dan mata penggede negara?” Kenapa pedagang roti bakar lebih paham dar seorang presiden?Banyak kemungkinannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-861463199992196892?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/861463199992196892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=861463199992196892' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/861463199992196892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/861463199992196892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/06/pedagang-roti-bakar-nasionalisme-dan.html' title='Pedagang Roti Bakar: Nasionalisme Dan Kebutuhan Perut'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-5628905573500050481</id><published>2008-06-13T01:29:00.001-07:00</published><updated>2008-12-12T06:11:46.004-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa'/><title type='text'>(tanpa) identitas</title><content type='html'>“Siapa nenek moyang kita?”“pelaut”“siapa nenek moyang kita?”“petani”“Ah, tak kunjung selesai perdebatan ini”&lt;br /&gt;Belanda, Portugis, Inggris tahu kalau negeri ini selalu ribut identitas. Makanya mereka datang membawakan identitas. Inlander.&lt;br /&gt;Negeri barat tahu kita butuh identitas, makanya dipakaikan baju-baju yang berwarna-warni.&lt;br /&gt;Negeri sendiri tahu dirinya butuh identitas.. makanya terus mencari, sampai pelosok, sampai luar negeri, sampai batas entah berantah, sampai terus mencontek.&lt;br /&gt;Aku butuh identitas, kuminta kalian menamaiku bejo, tejo, ular, anjing, bungan, atau apa pun yang kuinginkan. Kau ingin punya identitas, maka kau namai diri dengan nama-nama besar.&lt;br /&gt;Lalu dimana identitas itu sembunyi?&lt;br /&gt;Ia katanya ada dalam pikiran. Tapi kupikir ada dalam keyakinan. Apakah keyakinan ada di luar pikiran? Aku meyakininya.&lt;br /&gt;Lalu dari mana lahir keyakinan? Dari tumpukan buku-buku, TV, anekdot-anekdot kebesaran sebuah peradaban. Kita belajar dari itu. Dari keyakinan orang lain.&lt;br /&gt;Apakah kita tak bisa punya keyakinan sadar sendiri? bisa… tapi tidak bisa. Terlalu sulit, seperti terlalu mudah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-5628905573500050481?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/5628905573500050481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=5628905573500050481' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/5628905573500050481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/5628905573500050481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/06/tanpa-identitas.html' title='(tanpa) identitas'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-4592221370388714249</id><published>2008-06-13T01:27:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T06:12:00.770-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa'/><title type='text'>RUMAH: (tempat tinggal)</title><content type='html'>Aku membuat rumah. Tanpa jendela, tanpa pintu? Dari mana akan masuk?Aku membuat rumah, kesemua dindingnya adalah pintu, juga jendela. Apa tidak kedinginan?Aku mau rumah biasa saja, rumah yang bisa (ditinggali).&lt;br /&gt;Rumahku dulu berbau minyak tanah, sekarang bensin. Dulu berwarna hijau, kini cokelat.Rumahku tak pernah ditinggali sendiri, selalu ada hantu, ia menemaniku dengan mengirim ketakutan, mengirimkan kengerian, dan susasana keseraman.&lt;br /&gt;Tetanggaku tak pernah mau berkunjung ke rumahku. Mereka tahu, hantu, aku dan setan tinggal bersama. Mereka takut mungkin. Mereka takut.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sebuah lemari yang tak bisa dikunci kubiarkan di ruang tamu. Isinya adalah harta-hartaku yang paling berharga. Kubiarkan para pencuri keluar masuk dan mengutil seluruh isi lemari itu. Kubiarkan mereka lewat dengan sopan untuk mencuri. Kubiarkan mereka dengan wajah tenang mengambil segala yang berharga pada diriku.***Rumahku dulu berbau minyak tanah, sekarang bensin. Dulu berwarna hijau kini cokelat.&lt;br /&gt;Rumahku masih ditinggali hantu-hantu juga pencuri. Hantu dan pencuri selalu berganti peran, kadang mencuri kadang menakuti. Para pencuri dirumahku bukanlah pencuri yang suka menakut-nakuti. Karena itu jika ingin menakuti, mereka harus berganti peran dengan para hantu. Mereka harus berganti peran dengan para setan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku belajar meyakini kalau mereka jahat, tapi aku tak bisa.Aku tidak diajarkan berburuk sangka, bahkan pada hantu dan pencuri.. aku diajarkan untuk berbaik sangka, untuk tidak curiga, dan selalu memaafkan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Tapi siapa, yang diluar rumah berteriak “maling”?Bukankah ia sang pelaku?Bukankah ia salah satu penguras isi lemariku?Entahlah, aku tetap sulit berburuk sangka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-4592221370388714249?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/4592221370388714249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=4592221370388714249' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/4592221370388714249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/4592221370388714249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/06/rumah-tempat-tinggal.html' title='RUMAH: (tempat tinggal)'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-4615243631565851590</id><published>2008-06-13T01:26:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T06:12:20.382-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Experiences reflection'/><title type='text'>Menimbang Demokrasi</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia ini, ternyata, tak ada orang Indonesia. Orang Indonesia ternyata belum lahir. Orang Indonesia masih bayangan. Orang Indonesia itu gagasan Idiil. Ia belum menyejarah. Ia belum menjadi fakta sosiologis.&lt;br /&gt;(Ahmad Shobary)&lt;br /&gt;Demokrasi adalah kosa kata harian kita. Sejak kaum terdidik dan kelompok biasa-biasa saja tahu atau setidaknya pernah mendengar istilah ini meski dengan arti dan pemahaman yang berbeda. Demokrasi adalah salah satu pokok persoalan yang kerap jadi perdebatan. Tidak hanya di ruang tata negara, di ruang masyarakat kecil pun istilah ini kerap mengundang perdebatan. Istilah demokrasi merupakan istilah yang integeral. Istilah ini mengandaikan makna yang mencakup sistem dan cara pandang. Karena itulah demokrasi kerap dibicarakan dalam konteks politik kenegaraan sampai persoalan perdebatan dan perbedaan di kampung-kampung.&lt;br /&gt;Dalam eskalasi global, demokrasi dipandang sebagai bentuk paling ideal yang mempertemukan kepentingan seluruh elemen manusia. Lihat saja, hampir seluruh negara membicarakan istilah ini dengan sangat serius. Hanya beberapa negara saja yang tetap konsisten untuk tidak menerima atau bersikap santai-santai saja dengan istilah ini.&lt;br /&gt;Namun demokrasi bukan sama sekali tanpa persoalan. Itu persoalan yang perlu dibicarakan. Apalagi dalam konteks Indonesia.&lt;br /&gt;Persoalan pertama yang penting untuk ditanyakan, benarkah dalam bentuk yang asali dan tradisional bangsa ini tidak berdemokrasi?&lt;br /&gt;Enersi masyarakat dan negara ini banyak tercurah membicarakan demokrasi yang asing. Demokrasi yang berasal dari dunia entah berantah. Dunia yang oleh sebagian besar orang Indonesia belum pernah dikunjungi. Pernahkah kita membicarakan kemungkinan demokrasi dalam konteks Indonesia ini yang tentu lebih faktual dan kontekstual?&lt;br /&gt;Istilah demokrasi saja itu adalah istilah asing. Makanya perlu memilah dan memilih isinya karena berangkat dari akar kebudayaan yang tentu tidak sama. Demokrasi yang sering dibicarakan di ruang-ruang seminar adalah demokrasi yang berbuah dan dibuahkan oleh dunia lain. Basisnya adalah individu. Sementara, ikatan sosiologis manusia Indonesia bersifat kolektif atau kultural. Dengan semangat ini, individu dituntut untuk dapat menyesuaikan diri pada etos kultural yang hidup. Inilah fundamen perbedaan yang pertama mesti dipahami.&lt;br /&gt;Istilah gotong-royong, guyub, mufakat, musyawarah adalah kosa kata demokratis dalam keseharian masyarakat Indonesia. Ini tidak muncul begitu saja, tanpa perjalanan sejarah panjang. Ia lahir dari sejarah bangsa ini sendiri, bukan sejarah bangsa lain. Lahir sebagai sebuah proses panjang yang tidak mudah. Karena itu perlu kiranya unsur-unsur ini dipertahankan. Dengan pelbagai unsur ini, demokrasi sebenarnya telah hidup dan merakyat dalam keseharian masyarakat bangsa ini. Kelemahannya adalah jarang sekali terdapat penulisan atau upaya konseptualisasi demokrasi dari sudut pandang nativisme bangsa Indonesia. Setelah perguruan tinggi dan lembaga-lembaga pendidikan kepincut membicarakan demokrasi asing, siapa lagi yang akan membicarakan demokrasi ala bangsa sendiri ini?&lt;br /&gt;Fakta sejarah memang menyebutkan bahwa feodalisme berkembang dan tumbuh subur di negeri ini. Kerajaan-kerajaan feodalistik memang banyak tumbuh dan berkembang, bahkan sampai pada pengelolaan negara yang feodalistik sekarang. Tapi perlu pula diingat bahwa feodalisme adalah juga bentukan —pada fase tertentu sejarah— yang melibatkan kekuatan kolonialisme. Kolonial membentuk sistem kebudayaan stratifikatif dan diskriminitatif antar golongan. Tapi kesemua fakta tersebut tidak dapat serta merta menunjukkan bahwa tidak ada demokrasi dalam konteks Indonesia tradisonal. Dalam konteks kenegaraan, Orde Baru memang tidak demokratis, tapi tidak serta merta ketumbangannya membuat manusia Indonesia kepincut dan begitu tertarik pada demokrasi dunia antah berantah. Negara, penguasa, pemerintah, legislatif harus berani membuat terobosan menemukan gaya, bentuk dan sistem demokrasi yang mengakar pada kebudayaan sendiri. Hrapan itu harus selalu terjaga.&lt;br /&gt;Persoalan kedua menyangkut soal kecurigaan. Kita perlu mencurigai demokrasi yang berasal dari negeri antah berantah itu. Bukan soal apa-apa, melainkan soal identitas. Demokrasi merupakan bentukan dunia modernisme yang hidup dan langgeng atas dasar keyakinan-keyakinan epistimologis yang kini terbukti tidak sepenuhnya akurat. Universalisme, keyakinan ilmu itu tanpa kepentingan, dan sebuah pandangan dunia yang orientalistik. Jadi perlu tetap terpelihara sebuah kecurigaan yang mampu menempatkan demokrasi dari dunia antah berantah itu secara tepat. Ada apa di balik semua kegencaran demokratisasi di sana sini? Kritik terhadap demokrasi penting untuk tetap dijaga, dan itu merupakan bagian dari demokrasi itu sendiri.&lt;br /&gt;Sesuatu yang patut diperhatikan dalam konteks Indonesia, demokrasi seharusnya dibangun atas pandangan dunia bahwa segala bentuk kebudayaan lokal harus tetap tegak. Tapi inilah yang tidak terjadi. Terdapat sebuah efek dari demokrasi di negeri ini, yang pada akhirnya sangat terbuka, mengabaikan kebudayaan dan nilai-nilai kultural yang telah dengan susah payah dibangun dan dikonstruksi oleh para pendahulu. Demokrasi terapan kita tidak protektif terhadap unsur asing sehingga kebudayaan kita sendiri runtuh. Lihat saja individualisme yang berkembang, bukankah itu basis dari demokrasi dari negeri entah berantah yang masuk ke jantung negeri ini.&lt;br /&gt;Hal lainnya, demokrasi harus dibangun dengan pondasi pandangan dunia bahwa manusia Indonesia harus sejahtera. Tapi ini tidak terjadi. Demokratisasi yang dibangun adalah demokratisasi yang berpihak pada liberalisasi ekonomi. Hasilnya, penduduk di negeri kaya ini hanya sedikit yang sejahtera. Dengan dalih demokrasi mengandaikan sebuah negara membuka diri terhadap negara lain, kedaulatan negeri ini menjadi hampa. Kita tidak bisa lagi mengelola diri sendiri. jika sedikit saja menutup diri, maka imogologi akan terjadi. Stereotifikasi bahwa negeri ini tidak demokratis akan segera ditempelkan.&lt;br /&gt;Liberalisasi ekonomi adalah bentuk kolonialisme baru yang sedikit lebih maju dari bentuk klasik yang ekspansif dan militeristik. Ia beroperasi dengan memasukkan paham-paham keterbukaan agar pasar dapat bekerja tanpa penolakan. Artinya keterbukaan harus dimaknai kembali agar lebih protektif demi kemajuan bangsa sendiri. Bukan sebuah sebuah keterbukaan yang kebablasan.&lt;br /&gt;Lihat saja, aneh tentunya, di negeri kaya minyak ini masyarakat tidak memperoleh hasil dari kekayaannya. Cobalah pemerintah terbuka dengan berapa besar kekayaan tambang emas yang dikeruk oleh Freeport yang tidak sebanding dengan pemasukan negera. Berapa besar kekayaan yang diambil oleh exxon mobil dari pertambangan minyak dan gas? Berapa banyak kekayaan mineral kita dicuri? Semua ini tidak terjadi begitu saja, melainkan berlangsung dengan penjagaan sistemik yang akurat dan bawah sadar.&lt;br /&gt;Demokrasi itu obat sekaligus racun. Tinggal bagaimana menggunakannya.&lt;br /&gt;Wassalam. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-4615243631565851590?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/4615243631565851590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=4615243631565851590' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/4615243631565851590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/4615243631565851590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/06/menimbang-demokrasi.html' title='Menimbang Demokrasi'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-3900913884183227125</id><published>2008-06-13T01:23:00.001-07:00</published><updated>2008-12-12T06:12:37.502-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prosa'/><title type='text'>Sampah</title><content type='html'>Sampah&lt;br /&gt;Siapa yang meletakkan abu rokok di jalanan? Seakan negeri ini asbak.Siapa yang melepaskan asap ke udara? Seakan negeri ini balon asap.Siapa? Siapa?Siapa teriak-teriak?&lt;br /&gt;Aku sibuk menghitung pelaku dan kelakuannya, sesibuk berupaya bangun pagi yang berulang-ulang gagal. Seperti sedang mencari seseorang yang mau ikut sama-sama merasakan hal serupa.Tapi tak ada salahnya. Negeri sudah terlalu banyak menampung sampah. Menampung sesuatu yang dibuang dari negerinya sendiri. Naifnya penduduknya masih percaya, bahwa segala sampah bisa didaur ulang. Semua sampah diyakini bisa dolah lagi menjadi barang berguna. Mungkin ini sisi hebat lain penduduk negeri ini.&lt;br /&gt;Musik SampahAda musik yang kusebut sampah. Musik ini belum tentu tidak enak didengar, bahkan sering kali lebih merdu dari yang bukan sampah. Musik ini terlalu apik untuk batin yang meledak-ledak. Musik yang terlalu manis, sampai manisnya membengkakkan gigi dan gusi. Tapi ingat, sampah menurut kita mungkin berbeda.&lt;br /&gt;Gaya hidup sampahSegala gaya hidup adalah bentuk kebebasan. Betul. Begitu banyak orang berkeinginan. Tapi yang penting sadar. Bukan ikut-ikutan atau sekedar melu-melu, sekedar memecah tren atau menjadi orang lain. Segala sesuatu perlu dicurigai, seperti kecurigaan terhadap tuhan-tuhan. Segala yang berpretensi mengharapkan kita berubah seperti keinginannya harus dipelajari untuk dicurigai, karena berkemungkinan memiliki keinginan menjadikan kita tong sampah. Termasuk penulis dan tulisan ini, perlu dicurigai.Curiga bukan untuk membenci tapi berhati-hati. Memang hati-hati tipis bedanya dengan curiga. Manifestasi efeknya saja yang bisa membuktikan.&lt;br /&gt;Pemikiran SampahWacana yang mengalir dari negeri lain perlu dicurigai sebagai sampah. Hati-hati, mungkin beracun. Di negerinya mungkin tidak berguna lagi, tapi disini menjadi perlu didaur ulang. Karena itu lahir di negeri ini para pemikir yang tak beda dengan pemulung. Mereka memungut sampah untuk dipoles dan dipamerkan di negeri sendiri. Mereka ingin bersikap murah meriah, menggunakan sampah untuk pamer di depan anak negeri sendiri.Relasi pemulung dan yang dipulung dalam hal ini memang menarik. Sampah selalu berharap dipungut. Pemungut juga berharap mendapat semakin banyak sampah.Agar sampah ini bermakna, maka sampah ini perlu mendapat label negeri nun jauh. Ada yang bernama arab, barat, dan entah berantah. Sampah ini memang tidak berbau, tapi racunnya telah terlalu banyak dihisap penduduk negeri ini.Demi khutbah-khutbah atas nama sampah, demi sampah yang didaur ulang menjadi kebenaran, pergilah para pemulung dan tinggallah  saja di negeri asal sampah.&lt;br /&gt;Keyakinan sampahKebenaran, aku tak tahu. Tapi keyakinanku, aku mengerti. Setiap kepala punya keyakinan atas kebenaran. Tak ayal isi kepalaku berbeda dengan isi kepala yang lain. Keyakinanku berbeda dengan keyakinan yang lain.Benarkah sebuah peradaban dapat berubah karena keyakinan yang masuk dari peradaban lain? Hahaha, bisa jadi benar. Tapi apa kepentingan di baliknya? Pernahkah kita berkeyakinan kita harus memahami apa yang ada dibaliknya. Itu soalnya.Jawabannya terbukti banyak, silahkan tafsirkan di kubu mana kita berada. Penduduk negeri ini terlanjur banyak mencoba meyakini kebenaran dalam sudut pandang keyakinan orang dar negeri lain. Haha, makanya, pornografi marak. Keyakinan kita dipaksa yakin bahwa pornografi adalah hak. Hahaha. Makanya kita yakin objektifikasi ala Francis Bacon dan rasionalisasi ala Rene Descartes itu harus benar juga dalam keyakinan kita. Makanya kita belajar yakin bahwa manusia bisa dikwantifikasi, bisa diwakili angka-angka yang mewakili gejala-gejala keumuman yang periperal. Karena itu kita yakin bahwa tuhan itu galak. HahaAda tuhan bernama demokrasi..Ada tuhan bernama feminisme..Ada tuhan bernama universalisme..Ada tuhan bernama mallAda tuhan bernama sepak bolaAda tuhan bernama konsumsiAda tuhan bernama kebenaran tunggal, teologis dan logis.Ada tuhan bernama tak bernamaAda tuhan tak bernama bernama&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku mencoba meyakini bahwa itu kebenaran, tapi tak kunjung yakin. Tak kunjung percaya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Mengapa kukatakan sederet pikiran itu telah menjadi tuhan dengan huruf “t” kecil? Tuhan dengan “T” besar itu tak bisa diungkapkan. Maka kuungkapkan saja segala sesuatu yang berupaya jadi tuhan. Mengapa mereka kusebut mau jadi tuhan? Karena berupaya agar semua menjadi pengikutnya. Ada dunia tuhan yang berharap pikiran-pikiran ini dipercaya sebagai nubuwwat yang begitu saja.Ini soal keyakinan, bukan kebenaran.Ini soal kewajiban mengikuti keyakinan orang lain, bukan meyakini diri sendiri.Ini soal sampah.Ini soal kotak sampah.Ini soal keyakinan.Ini bukan kebenaran.Ini soal hahaha.Tertawalah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-3900913884183227125?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/3900913884183227125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=3900913884183227125' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/3900913884183227125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/3900913884183227125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/06/sampah_13.html' title='Sampah'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-2434616151879444976</id><published>2008-06-13T01:23:00.000-07:00</published><updated>2008-06-13T01:25:48.480-07:00</updated><title type='text'>Sampah</title><content type='html'>Sampah&lt;br /&gt;Siapa yang meletakkan abu rokok di jalanan? Seakan negeri ini asbak.Siapa yang melepaskan asap ke udara? Seakan negeri ini balon asap.Siapa? Siapa?Siapa teriak-teriak?&lt;br /&gt;Aku sibuk menghitung pelaku dan kelakuannya, sesibuk berupaya bangun pagi yang berulang-ulang gagal. Seperti sedang mencari seseorang yang mau ikut sama-sama merasakan hal serupa.Tapi tak ada salahnya. Negeri sudah terlalu banyak menampung sampah. Menampung sesuatu yang dibuang dari negerinya sendiri. Naifnya penduduknya masih percaya, bahwa segala sampah bisa didaur ulang. Semua sampah diyakini bisa dolah lagi menjadi barang berguna. Mungkin ini sisi hebat lain penduduk negeri ini.&lt;br /&gt;Musik SampahAda musik yang kusebut sampah. Musik ini belum tentu tidak enak didengar, bahkan sering kali lebih merdu dari yang bukan sampah. Musik ini terlalu apik untuk batin yang meledak-ledak. Musik yang terlalu manis, sampai manisnya membengkakkan gigi dan gusi. Tapi ingat, sampah menurut kita mungkin berbeda.&lt;br /&gt;Gaya hidup sampahSegala gaya hidup adalah bentuk kebebasan. Betul. Begitu banyak orang berkeinginan. Tapi yang penting sadar. Bukan ikut-ikutan atau sekedar melu-melu, sekedar memecah tren atau menjadi orang lain. Segala sesuatu perlu dicurigai, seperti kecurigaan terhadap tuhan-tuhan. Segala yang berpretensi mengharapkan kita berubah seperti keinginannya harus dipelajari untuk dicurigai, karena berkemungkinan memiliki keinginan menjadikan kita tong sampah. Termasuk penulis dan tulisan ini, perlu dicurigai.Curiga bukan untuk membenci tapi berhati-hati. Memang hati-hati tipis bedanya dengan curiga. Manifestasi efeknya saja yang bisa membuktikan.&lt;br /&gt;Pemikiran SampahWacana yang mengalir dari negeri lain perlu dicurigai sebagai sampah. Hati-hati, mungkin beracun. Di negerinya mungkin tidak berguna lagi, tapi disini menjadi perlu didaur ulang. Karena itu lahir di negeri ini para pemikir yang tak beda dengan pemulung. Mereka memungut sampah untuk dipoles dan dipamerkan di negeri sendiri. Mereka ingin bersikap murah meriah, menggunakan sampah untuk pamer di depan anak negeri sendiri.Relasi pemulung dan yang dipulung dalam hal ini memang menarik. Sampah selalu berharap dipungut. Pemungut juga berharap mendapat semakin banyak sampah.Agar sampah ini bermakna, maka sampah ini perlu mendapat label negeri nun jauh. Ada yang bernama arab, barat, dan entah berantah. Sampah ini memang tidak berbau, tapi racunnya telah terlalu banyak dihisap penduduk negeri ini.Demi khutbah-khutbah atas nama sampah, demi sampah yang didaur ulang menjadi kebenaran, pergilah para pemulung dan tinggallah  saja di negeri asal sampah.&lt;br /&gt;Keyakinan sampahKebenaran, aku tak tahu. Tapi keyakinanku, aku mengerti. Setiap kepala punya keyakinan atas kebenaran. Tak ayal isi kepalaku berbeda dengan isi kepala yang lain. Keyakinanku berbeda dengan keyakinan yang lain.Benarkah sebuah peradaban dapat berubah karena keyakinan yang masuk dari peradaban lain? Hahaha, bisa jadi benar. Tapi apa kepentingan di baliknya? Pernahkah kita berkeyakinan kita harus memahami apa yang ada dibaliknya. Itu soalnya.Jawabannya terbukti banyak, silahkan tafsirkan di kubu mana kita berada. Penduduk negeri ini terlanjur banyak mencoba meyakini kebenaran dalam sudut pandang keyakinan orang dar negeri lain. Haha, makanya, pornografi marak. Keyakinan kita dipaksa yakin bahwa pornografi adalah hak. Hahaha. Makanya kita yakin objektifikasi ala Francis Bacon dan rasionalisasi ala Rene Descartes itu harus benar juga dalam keyakinan kita. Makanya kita belajar yakin bahwa manusia bisa dikwantifikasi, bisa diwakili angka-angka yang mewakili gejala-gejala keumuman yang periperal. Karena itu kita yakin bahwa tuhan itu galak. HahaAda tuhan bernama demokrasi..Ada tuhan bernama feminisme..Ada tuhan bernama universalisme..Ada tuhan bernama mallAda tuhan bernama sepak bolaAda tuhan bernama konsumsiAda tuhan bernama kebenaran tunggal, teologis dan logis.Ada tuhan bernama tak bernamaAda tuhan tak bernama bernama***Aku mencoba meyakini bahwa itu kebenaran, tapi tak kunjung yakin. Tak kunjung percaya.***Mengapa kukatakan sederet pikiran itu telah menjadi tuhan dengan huruf “t” kecil? Tuhan dengan “T” besar itu tak bisa diungkapkan. Maka kuungkapkan saja segala sesuatu yang berupaya jadi tuhan. Mengapa mereka kusebut mau jadi tuhan? Karena berupaya agar semua menjadi pengikutnya. Ada dunia tuhan yang berharap pikiran-pikiran ini dipercaya sebagai nubuwwat yang begitu saja.Ini soal keyakinan, bukan kebenaran.Ini soal kewajiban mengikuti keyakinan orang lain, bukan meyakini diri sendiri.Ini soal sampah.Ini soal kotak sampah.Ini soal keyakinan.Ini bukan kebenaran.Ini soal hahaha.Tertawalah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-2434616151879444976?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/2434616151879444976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=2434616151879444976' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/2434616151879444976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/2434616151879444976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/06/sampah.html' title='Sampah'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-6968770496230932626</id><published>2008-05-09T10:43:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T06:13:11.710-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Film Fitna dan Fenomena Kekerasan Terhadap Ahmadiyah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Belum lama ini ummat Islam kembali dikejutkan dengan kemuculan film Fitna yang dikeluarkan oleh salah satu partai sayap kanan di Belanda. Film karya Wilders ini memang sangat kontroversial. Sejak rencana publikasinya, berbagai penolakan telah terjadi di Belanda. Pemerintah Belanda pun sejak awal telah mengingatkan implikasi negatif peluncuran film tersebut terhadap hubungan ummat Islam dan kelompok beragama lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Sekilas film ini memang menyederhanakan persoalan dan fenomena ummat Islam. Film ini adalah salah satu bentuk kegagalan dunia Barat untuk membaca Islam dari perspektif yang beragam. Tapi pada berbagai sisi lain, sebaiknya ummat Islam mencoba berkaca dan merefleksikan diri tentang isi dalam film tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Misi utama film Fitna adalah menghentikan upaya Islamisasi yang sangat deras terjadi di Eropa. Mungkin istilah islamisasi sendiri tetap kurang tepat untuk digunakan, lebih tepatnya adalah dakwah. Diakui atau tidak, tragedi 11 September telah mengarahkan berbagai mata untuk melihat langsung dalam dunia Islam. Meskipun kejadian 11 September diformulasi dengan tidak seimbang oleh dunia Barat, namun upaya tersebut tentu bukan tanpa efek samping. Efek samping yang paling kentara adalah semakin besarnya keingintahuan masyarakat dunia Barat tentang pelbagai hal yang menyangkut Islam. Stereotip Islam adalah teroris yang berkembang justeru —meminjam istilah ilmu komunikasi— menjadi semacam iklan gratis bagi ummat Islam untuk memancing ketertarikan untuk mengetahui Islam. Berdasarkan toeri peluang pemasaran, semakin besar kesempatan produk dikenal semakin besar pula kemungkinan konsumsi. Itulah yang terjadi pada dakwah ummat Islam. Stereotip yang menyudutkan tidak serta merta membuat posisi ummat Islam tersudut. Sebaliknya memperbesar peluang ummat Islam untuk dikenal luas oleh berbagai kelompok yang berbeda. Itulah efek bilyardnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Film fitna mereprentasikan ketakutan dunia Barat atas fenomena perkembangan Islam yang sangat cepat, terutama di Belanda. Setidaknya, saat ini hampir 10% masyarakat Belanda memeluk agama Islam. Angka yang fantastis tentu di tengah terjangan isu terorisme yang dialamatkan kepada dunia Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Secara isi, tentu film Fitna memiliki beberapa kekeliruan, terlebih pada persoalan generalisasi ummat Islam. Upaya menyatakan bahwa seluruh ummat Islam adalah teroris tentu tidak tepat. Tapi Ummat Islam tidak perlu marah jika dikatakan terdapat potensi terorisme di dunia Islam itu sendiri. Fenomena pembantaian yang terdapat beberapa tayangan Fitna memang terjadi di belahan dunia Islam, jadi haruskah kita mengingkarinya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Tidak mudah memang menjelaskan persoalan hubungan Islam dan dunia Barat. Artinya, dalam sudut pandang Barat Islam masih berada pada posisi yang dilematis; ditempatkan dalam posisi yang subordinat. Tentu tidak mengenakkan. Setidaknya, film Fitna adalah sebuah cermin bagi dunia Islam untuk bercermin tentang pelabagai kenyataan dalam dunia Islam itu sendiri. Ummat Islam boleh marah, tapi harus mawas diri untuk bertanya pada diri sendiri perihal kebenaran yang ditayangkan dalam Film Fitna. Bukankah kebenaran harus diungkap meski pahit akibatnya. Kemarahan ummat Islam pun haruslah konstruktif, dengan berbenah agar segera segala stereotip dan penisbatan yang salah tersebut benar-benar hilang dari dunia Islam. Satu-satunya cara adalah dengan merevitalisasi konsep etika terapan dalam Islam. Secara universal, etika Islam sudah mampu memperagakan bentuk kesalihan yang dapat dijadikan pelajaran bagi kelompok manapun. Tapi secara praksis, kerap terjadi pembelotan atau penyelewengan dari konsep universal tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Pada konteks Indonesia, kekerasan terhadap kelompok Ahmadiyah adalah bentuk pembelotan dari konsep etika universal Islam itu sendiri. Dalam sebuah tabligh akbar organisasi yang getol menamakan diri sebagai  penegak syariat Islam, sungguh disayangkan jika terjadi penghasutan massal. Dalam tabligh akbar tersebut, sang sekjend menyatakan kehalalan darah penganut Ahmadiyah dan mengajak untuk melakukan pembunuhan —lebih tepatnya pembasmian— penganut Ahmadiyah. Sang orator pun menyatakan kesanggupan untuk menanggung resiko dunia dan akhirat. Sungguh disayangkan. Tidak terhenti di situ,  terjadi pembakaran Masjid jamaat Ahmadiyah di Tasikmalaya. Di beberapa daerah jamaat Ahmadiyah pun hidup dalam teror yang tidak mudah untuk dilewati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Hal yang paling ironi dari rentetan fitna dan tragedi Ahmadiyah adalah kesamaan pelaku. Artinya, terdapat kelompok yang begitu kuat menyatakan penolakan terhadap film Fitna justeru mempergakan isi film tersebut. Kelompok yang mati-matian menyatakan kemarahan atas kemunculan film Fitna justeru terlibat aktif dalam memberikan poin kebenaran terhadap isi film tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Secara sederhana, mari kita berpikir. Jika kita ummat Islam menolak isi film Fitna yang menyatakan bahwa ummat Islam memiliki kitab suci yang berisi anjuran kekerasan, kenapa sebaliknya terjadi praktik kekerasan yang diperagakan oleh ummat Islam? Kita yang meyakini bahwa Qur’an adalah sumber kasih sayang semestinya berjuang mati-matian menegakkan prinsip-prinsip kasih sayang yang terdapat dalam ajaran al-Qur’an. Tidak sebaliknya, dengan melanggar pelbagai konsep etis dalam Al-Qur’an.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Jika memang secara teologis Ahmadiyah adalah kelompok yang salah, tentu sudah terdapat dalam al-Qur’an cara untuk mengajak mereka kembali dalam kebenaran, yakni cara yang terbebas dari kekerasan. Bukankah al-Qur’an mengajarkan panduan dakwah yang damai, dengan bijaksana (hikmah), anjuran yang baik (mauidhah hasanah) dan jika memang harus berdebat, kita dituntun untuk berdebat dengan cara yang terbaik.  Tentu cara terbaik tersebut bukanlah kekerasan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Kekerasan bukanlah bentuk atau salah satu bagian dari ajaran Islam. Tapi mungkin saja ummat Islam menjadi bagian dari pelaku kekerasan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Astaghfirullah. Allahu A’lamu bi as-shawab.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-6968770496230932626?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/6968770496230932626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=6968770496230932626' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/6968770496230932626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/6968770496230932626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/05/film-fitna-dan-fenomena-kekerasan.html' title='Film Fitna dan Fenomena Kekerasan Terhadap Ahmadiyah'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-2532701585981058051</id><published>2008-05-09T10:42:00.000-07:00</published><updated>2008-05-09T10:43:21.100-07:00</updated><title type='text'>Pedagang Roti Bakar: Nasionalisme Dan Kebutuhan Perut</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Malam agak pekat. Jarum jam menunjuk angka 12. Tepat tengah malam. Entah lapar atau sekedar nafsu jajan yang menuntun saya mendekati gerobak roti bakar yang hampir tutup. Pedagangnya mulai berkemas pulang. Ketika menlihat saya berhenti, sejenak ia menunda keinginan berkemas, tampaknya. “Masih kok mas” selorohnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Saya memesan sepotong roti isi coklat kacang kegemaran saya. Sambil menunggu, sebatang saya duduk di belakang penjual roti yang kira-kira berusia 31 tahun itu. Saat membesarkan nyala api kompor, satu hal menarik perhatian saya. Kompor minyak tanah. Ya, kompor yang hampir musnah dilikuidasi oleh kebijkan konvesri minyak ke gas yang diterapkan pemerintah.  Dari pada diam saya mencoba mengajak bicara pedagang yang mulai asyik memoles roti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Saat ditanya soal minyak, dengan sangat emosional pedagang itu menjawab. Seakan tersentil sesuatu yang paling sensitif dalam batinnya. Ia berseloroh panjang lebar tentang sulitnya minyak di pasaran. Dan sekali lagi, sebagai orang kecil, ia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti menumpahkan kekecewaan ia bercerita tentang ketidakpuasan pada keputusan kontroversial pemerintah ini. Ia tumpahkan dengan nada datar, tapi saya yakin penuh emosi. Saya dan pedagang orti tersebut, kita, sama-sama bingung, mengapa di negeri yang dipenuhi tambang minyak ini bisa terjadi kelangkaan dan mahalnya harga minyak. Kenapa di negara kaya ini lebih banyak orang miskin. Mengapa SBY-JK tidak peduli pada korban Lapindo? “Dasar budeg” kata si pedagang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Ia juga berbicara panjang lebar tentang negara. Tentang pemerintahan, Parpol, DPR, para presiden dan lupa tentang nasibnya sendiri. Ia tak tampak marah, tapi intonasi tak bisa sembunyikan sentimen yang begitu kuat. Ia mengaku kecewa dengan nasionalisme para pejabat yang retoris. Nasionalisme podium yang diikuti dengan penjualan aset-aset rakyat. Ia menyebutkan kapal tanker,  Indosat, Freeport, dan contoh-contoh lain dari kehebatan watak bisnis para penguasa.  Ia menyatakan betapa sayangnya tindakan tidak nasionalis tersebut. Meski common sense, saya tetap percaya orang ini. Entah akibat hallo effect  atau hal entah yang menyebabkan saya yakin iniadalah suara rakyat kecil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; “Nasionalisme itu kayak apa tho, mas?” ia bertanya, tapi kemudian ia memberi jawaban sendir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Ia menegaskan nasionalisme itu bukan slogan, bukan janji kampanye, bukan alat kebohongan publik di arena politik, tapi kepedulian bahwa kepentingan rakyat banyak di atas kepentingan ekonomi internasional yang semakin mencengkeram. Baginya nasionalisme itu juga mendamaikan agama-agama, meneguhkan persaudaraan antar suku, antar pulau dan mengalahkan kepentingan-kepentingan. Sambil bersendawa pedagang ini berselorh: “rakyat kecil yang lapar bisa menjadi nasionalis, masa yang punggawa negara yang kadung kaya makan uang negara ndak juga bisa?” Ia bercerita tentang warga korban lapindo yang tetap bisa rayakan 17 agustusan, tentang tukang becak yang mau menghias becak dengan merah putih yang harus dibeli  dengan uang makan yang pas-pasan. Ini nasionalisme ala orang miskin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Roti selesai dibungkus. Rp. 7000 kuserahkan. Perbincangan selesai. Aku masih bertanya, “ dimana kuping dan mata penggede negara?” Kenapa pedagang roti bakar lebih paham dar seorang presiden?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Banyak kemungkinannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-2532701585981058051?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/2532701585981058051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=2532701585981058051' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/2532701585981058051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/2532701585981058051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/05/pedagang-roti-bakar-nasionalisme-dan.html' title='Pedagang Roti Bakar: Nasionalisme Dan Kebutuhan Perut'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-2006173826244236620</id><published>2008-05-09T10:40:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T06:13:33.790-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cultural studies'/><title type='text'>Tamasya Di Ruang Maya: Reportase singkat kebudayaan massa</title><content type='html'>&lt;div class="entry-content"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 0);"&gt;The referential world of commodity needs, use value and labor was only historical passageway of radical semiurgy which aims at the liquidation of society and the real, their displacement through structural codes and signs. All the repressive, and reductive strategies of power systems are already present in the internal logic of the sign (baudrillard, 1981: 70)&lt;br /&gt;…..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 0);"&gt; “Ada orang bisa berfikir cepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 0);"&gt; Biasanya para jenius.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 0);"&gt; Ada orang berpikir seumur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 0);"&gt; Hidup dan hasilnya tak ada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 0);"&gt; Orang gila malah tidak pernah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 0);"&gt; berpikir, karena dia sudah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 0);"&gt; tahu itu tidak ada gunanya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 0);"&gt; (Cerpen “Kaya” karya Putu Wijaya. Jakarta 29 Juli 1991)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;Amenangi jaman edan&lt;br /&gt;Ewuh aya ing pambudi&lt;br /&gt;Milu edan nora tahan&lt;br /&gt;Yen tan milu anglakoni&lt;br /&gt;aBoya kaduman melik&lt;br /&gt;Kaliren wekasanipun&lt;br /&gt;Ndilalah karsa Allah&lt;br /&gt;Begja-begjane kang lali&lt;br /&gt;Luwih begja kang eling lawan waspada&lt;br /&gt;(Raden Ngabehi Ranggawarsita: Kalatidha)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setidaknya terdapat dua fenomena penting peubah gerak kebudayaan masyarakat dunia  sejak tahun 1920-an: fenomena kemajuan kapitalisme lanjut; dan kelahiran televisi.  Kemajuan kapitalisme global yang mulai menemukan bentuk pada tahun 1920-an adalah titik terpenting perubahan konfigurasi kebudayaan manusia. Ide produksi sebagai faktor dominan pembentuk pasar kompetitif pada Kapitalisme awal, dalam era kapitalisme lanjut tergantikan oleh modus konsumsi. Konsumsi adalah determinan penting dalam modus operasional kapitalisme lanjut. Tidak sebatas itu, menurut Kellner, konsumsi adalah sebuah mesin penggerak penting yang mengarahkan realitas sosial, budaya dan politik (Kellner, 1994;3). Enersi kapitalisme lanjut tidak terletak pada kemampuan produksi lagi, melainkan kekuatan untuk terus meningkatkan kekuatan dan hasrat konsumsi. Titik. Disinilah postmodernitas dimulai.&lt;br /&gt;Istilah posmodernisme —atau paska modernisme— bersifat ambigu. Di dalamnya terdapat berbagai praktik dan konsep yang tidak kesemuanya sinkron, bahkan terkadang saling bertubrukan, tumpang tindih dan berkelindan. Postmodernisme adalah istilah yang kontreversial, begitu Bambang  Sugiharto menyimpulkan (Sugiharto, 1996: 15). Namun, sebelum melangkah lebih jauh membicarakan posmodernitas, perlu kiranya membedakan istilah postmodernisme dan postmodernitas.&lt;br /&gt;Istilah pertama, postmodernisme, menunjuk kririk-kritik filosofis atas gambaran dunia (weltanschauung), epistimologi dan idiologi-idiologi modern. Istilah ini memang digunakan dengan secara beragam, karena itu pula menjadi sulit untuk memahami istilah ini secara parsial. Istilah “post” di awal kata modernisme sendiri menimbulkan pelbagai perdebatan. Pertanyaannya, apakah istilah “post” merupakan sebuah pemutusan radikal atas prinsip-prinsip modernisme seperti diungkap Lyotard dan Gellner; sekedar koreksi atas prinsip-prinsip landasan dunia modern; proyek modernitas yang belum usai (Habermas); dunia modern yang telah sadar diri (Anthony Giddens); ataukah modernitas yang akhirnya bunuh diri (Baudrillard, Derrida, Foucault)  ? (Sugiharto, 1996:24).&lt;br /&gt;Kelahiran modernisme —tidak sesederhana yang dipahami secara umum sebagai dunia yang dipenuhi oleh kemajuan teknologi— tidak dapat dilepaskan dari perkembangan gerakan humanisme di Italia pada abad ke-14. Gerakan diteruskan oleh semangat Renaisans abad ke-16 dan dimantapkan oleh gerakan pencerahan (enlightment―aufkärung pada abad ke 18. Era pencerahanlah yang kemudian dipercaya sebagai titik tolak kemajuan penemuan manusia. Gema pencerahan berupaya mendobrak otoritas agama yang dogmatis —dalam konteks ini adalah kekuasaan gereja katholik; mengangkat harkat dan martabat manusia; dan meyakinkan adanya otoritas manusia yang mampu menemukan kebenaran sendiri bersandar pada rasio sebagai potensi utama manusia.&lt;br /&gt;Rene Descartes adalah tokoh yang disebut-sebut sebagai peletak utama pondasi kekuatan modernisme. Adagium cogito ergo sum yang masyhur dinilai sebagai nubuwwat Cartesian yang telah menggiring manusia keluar dari labirin kegelapan abad pertengahan. Diktum “aku berpikir maka aku ada” merupakan kata perpisahan manusia modern dari kekuatan metafisis dan transendental, sekaligus pengukuhan kemandirian otoritas kemanusiaan. Adagium Cartesian telah mentahbiskan manusia sebagai otoritas sadar yang berjarak dan kritis terhadap pelbagai kekuatan dan dominasi ilusi dan mitos. Dalam ranah filsafat modernisme Cartesian dikukuhkan oleh dua tokoh penting, yakni Emanuel Kant dan G.W.F. Hegel. Ide-ide Descartes tersebut dimantapkan dengan kebudayaan sains dan kapitalisme. Maka terciptalah dunia modern yang berdiri di atas pondasi-pondasi ego, rasio, obyektivitas, totalitas, ide-ide absolut, oposisi biner dan otoritas.&lt;br /&gt;Postmodernisme secara sederhana dapat berarti pembelotan atau perpisahan dari unsur-unsur fondasional modernisme. Penggunaan istilah postmodernisme bukanlah sesuatu yang baru. Dalam catatan Ihhab Hasan, seorang tokoh yang memproklamirkan diri sebagai pembicara terkemuka postmodernisme, Istilah postmodernisme digunakan pertama kali oleh Frederico de Onis pada tahun 1930 dalam karya Antologia De La Poesia A Hispanoamericana untuk menunjukkan reaksi yang muncul dari dalam modernisme (Sugiharto, 1996:24).&lt;br /&gt;Istilah posmodernisme akhirnya digunakan di pelbagai ruang yang berbeda. Di ruang arsitektur Charles Jenks menjadi penggiat pengguna istilah ini dengan meluncurkan The Language Of Postmodern Architecture. Dalam dunia seni muncullah nama Andy Warhol dengan chicken soup can painting dan ready made art dengan pispot sebagai ikon oleh Marcel Duchamp. Dalam kritik sastra mucullah Susan Sontag dan Julia Kristeva dengan intertekstualitas. Pierre Bordieu dengan konsep habitus dalam dunia sosiologi-antropologi. Dan yang paling santer terdengar dari dunia filsafat, Jean Francois Lyotard, dengan reportase penggunaan komputer di Queebec  yang masyhur dengan judul A Postmodern Condition: A Report Of Knowledge. Selain itu masih ada pula Derrida dengan kritik gramatologi dan dekonstruksi yang menghantui filsafat masa kini, serta Michel Foucault dengan arkeologi pengetahuan (archeology of knowledge).&lt;br /&gt;Beberapa alasan menjadi penting untuk diketahui guna menelusuri genealogi kelahiran postmodernisme. Diakui atau tidak, di tengah pelbagai kemajuan, modernisme telah gagal mewujudkan beberapa cita-cita penting pencerahan. Kehebatan ilmu pengetahuan yang berbalik arah meruntuhkan kemanusiaan dan menciptakan pelbagai patologi adalah sumber utamanya. Modernisme oleh kelompok  postmodernis dituduh telah gagal mewujudkan cita-cita perbaikan kehidupan manusia. Gagalnya cita-cita saintifisme modernisme yang bertujuan memecahkan persoalan manusia, dan sebaliknya justeru membawa implikasi negatif berupa beragam patologi adalah sebab lainnya. Gugatan lainnya berkaitan visi aksiologis dimana pengetahuan modern dinilai telah ditunggangi oleh pelbagai kepentingan kekuasaan dan ekonomi dan politik. Artinya, pengetahuan modern tidak dapat melepaskan diri dari penyalahgunaan demi kekuasaan dan penaklukan. Dan yang terpenting adalah kontradiksi antara pelbagai fakta dan teori-teori pondasi modernisme.&lt;br /&gt;Menurut Bambang Sugiharto, setidaknya ada tiga kategori besar corak para pemikir postmodern (Sugiharto, 1996:30). Pertama, adalah kelompok yang berkecenderungan mengembalikan susana dan visi kemodernan ke arah pra-modern. Penggiat kelompok ini umumnya muncul dari kelompok fisika yang bersemboyan “holisme” serta kelompok fisikawan yang mengaitkan fenomena fisika dengan fenomena mistiko-mistis.&lt;br /&gt;Kedua,   adalah para penggiat yang terkait erat dengan kesusasteraan dan banyak berhubungan dengan linguistika. Gagasan kelompok ini adalah menghantam sisi pandangan dunia (weltanschauung―worldview) dunia modern dengan melemparkannya pada nihilisme. Memang kelompok ini awalnya tidak mengarahkan kritik terhadap pandangan dunia menuju kenihilan atau nihilisme, namun tujuan tersebut berbelok dari upaya pencegahan kemunculan totaliterisme  menuju nihilisme. Kelompok ini diwakili oleh Jaques Derrida, Vatimo dan Michel Foucault).&lt;br /&gt;Ketiga, adalah kelompok revivalis yang berkeinginan untuk memperbaiki pelbagai asumsi-asumsi kemodernan yang dinilai tidak lagi sesuai dan harus mengalami perbaikan. Upaya kelompok ini lebih dapat dikategorikan sebagai upaya untuk memberikan kritik imanen  terhadap modernisme untuk mengatasi pelbagaiimplikasi negatifnya.&lt;br /&gt;Di lain sisi, istilah yang memang sangat mirip ―postmodernitas― memiliki makna yang jauh berbeda dengan postmodernisme di ruang diskursus keilmuan. Postmodernitas menunjuk kondisi sosio-kultural masyarakat sebagai efek perkembangan kapitalisme dan saintifisme modern. Postmodernitas lebih menunjuk ke arah persoalan antropologis manusia sebagai efek dari perkembangan pelbagai teknologi, mekanisasi dan kapitalisasi konsumsi. Namun, bagaiamaanapun terdapat hubungan yang tidak dapat dipisahkan antar kedua istilah tersebut.&lt;br /&gt;Seperti disampaikan di muka, sejak era tahun 1920an, perkembangan kapitalisme lanjut telah mampu menjadi salah satu penentu perubahan kebudayaan manusia. Kedua, perkembangan teknologi informasi, khususnya televisi telah berhasil memberikan efek bilyard yang cukup kuat dan mengakar dalam pemembentukan pola dan kesan kebudayaan yang berkembang massif di tengah masyarakat. Perubahan enersi kapitalisme dari modus produksi menjadi keinginan untuk memaksimalkan konsumsi telah memberi efek tidak sederhana pada ruang kultural manusia. Sejauh ini, kekuatan kapitalisme lanjut tersebut dinilai telah berhasil dengan cukup baik, buktinya adalah terbentuknya masyarakat yang kerap disebut sebagai masyarakat konsumer. Sangat memungkinkan untuk memberikan penjelasan atas perubahan sporadis secara genealogis.&lt;br /&gt;Kekuatan kapitalisme yang didukung oleh teknologi massal setidaknya telah meruntuhkan pelbagai asumsi dan pondasi pandangan-pandangan tradisional di ruang antropologi dan sosiologi. Masyarakat yang dipercaya berkembang secara linier, akhirnya secara terbuka mengalami ledakan kebudayaan dengan menanggalkan segala linieritas yang dulunya dipercaya sebagai modus perkembangan kebudayaan manusia. Konsumsi yang pada era sebelumnya merupakan relasi kebutuhan dan pemenuhan, akhirnya direduksi menjadi sebuah mode, bukan pemenuhan kebutuhan semata. Dalam sirkulasi mayarakat konsumer, konsumsi adalah aktifitas inti kehidupan sosiologis.&lt;br /&gt;Menurut Baudrillard, salah seorang pewarta postmodernisme, Marxisme dengan konsep linieritas perubahan masyarakat telah kehilangan kebenarannya. Kebutuhan dan pemenuhan, nilai guna dan nilai tukar sudah bukan lagi determinan arus persentuhan ekonomi sebagaimana dipercaya oleh Karl Marx. Sangat dipengaruhi oleh semiotika Rolland Barthes dalam The System Of Fashion (1967) ―lebih tepatnya terpengaruh oleh pesona semiotika, Baudrillard mempercayai adanya perubahan  mode of production menjadi mode of consumption. Semangat kapitalisme berubah menjadi semangat untuk meledakkan konsumsi. Modus konsumsi  inilah yang  akhirnya merubah seluruh aspek kehidupan menjadi obyek konsumsi yang berupa komoditi. Bahkan, Tak ada batas antara yang sakral dan profan, karena keduanya  ikut menjadi objek konsumsi.&lt;br /&gt;Perkembangan pola konsumsi pada masyarakat postmodern tidak lepas dari peran serta media yang begitu massif memperdengarkan dan mewartakan produk. Secara ekstrem bahkan, meminjam istilah Guy Debord, Baudrillard menyatakan bahwa masyarakat konsumsi juga merupakan masyarakat tontonan (society of spactacle). Tontonan adalah bentuk doktrinasi konsumsi yang menyeruak ke tengah jantung masyarakat. Dalam konsep masyarakat tontonan, nilai-guna dan nilai-tukar, sebagaimana ditegaskan oleh Marx,  telah kehilangn kesakralan dan kebenarannya. Nilai-tukar (exchange value) dan nilai guna (used value) telah berubah menjadi nilai tanda (sign value) dan nilai simbolik (simbolic value).&lt;br /&gt;Menurut Baudrillard, fungsi komoditas tidak lagi ditentukan dengan adanya nilai guna atau nilai tukar semata, melainkan juga ditentukan oleh nilai-nilai simbol dan tanda yang dilekatkan pada komoditas-komoditas tersebut. Tema-tema gaya hidup, kelas, kemewahan, adalah bentuk idiologi tanda dan simbol konsumsi yang dimasukkan ke dalam komoditas. Walhasil, komoditas atau obyek-obyek konsumsi menjelma menjadi sebuah sistem klasifikasi masyarakat, status, prestise dan pola tingkah laku masyarakat.&lt;br /&gt;Pernyataan Baudrillard sekilas memang bersifat dan tampak hiperbolis. Pernyataan bahwa inti dari konsumsi adalah bentuk penandaan dan pencitraan tidak bermaksud mengenyampingkan adanya fungsi kebutuhan dalam diri manusia. Baudrillard hanya ingin menyatakan bahwa pemilihan obyek konsumsi, kebutuhan dan  kenikmatan biologis sudah bukan lagi satu-satunya penentu yang menggerakkan, melainkan terpengaruh oleh sebuah sistem yang memberikan citra dan tanda yang merangsang terjadinya pola konsumsi yang sporadik. Konsumsi juga berarti peraihan prestise, status dan identitas.&lt;br /&gt;Dalam pandangan Guy Debord, jika Karl Marx menyatakan prinsip ada (being) telah direduksi menjadi kepemilikan (having) ―atau perilaku yang mengarah untuk memiliki objek-objek atau komoditas-komoditas― maka konsep kepemilikan kini telah tergantikan oleh konsep penampakan (appearing). Dengan demikian objek-objek konsumsi tidak semata lagi ingin dimiliki karena tuntutan kebutuhan biologis, melainkan lebih didorong oleh keinginan-keinginan meraih citra. Bagi Baudrillard ini berarti kelahiran nilai simbolis (sybolic value) dan nilai tanda (sign value).&lt;br /&gt;Salah satu yang paling menarik dari pemikirtan Baudrillard adalah pandangan tentang topologi perkembangan masyarakat. Karl Marx meyakini bahwa masyarakat akan berkembang melalui tiga lintasan, yakni masyarakat primitif―feodal, masyarakat kapitalis dan masyarakat komunis. Masyarakat primitif merupakan konstruksi masyarakat yang berlangsung dari zaman Yunani sampai dengan terjadinya Renaissans. Dalam konstruksi masyarakat ini belum terdapat pembagian kelas kerja, atau pembagian kelas berdasarkan mekanisme ekonomi-produksi. Masyarakat Kapitalis terbentuk seiring dengan lahirnya konsep tentang kepemilikan atau hak milik. Masyarakat kapitalis terbagi menjadi kelas pekerja (buruh) dan  kelas pemilik modal. Sedangkan masyarakat komunis, bagi Marx, merupakan konstruksi masyarakat yang paling ideal. Dalam fase ini tidak lagi terdapat pembagian kelas, yang ada hanyalah kesetaraan. Namun, dalam pandangan Baudrillard periodisasi masyarakat tidaklah speeti yang diyakini oleh Marx. Bagi Baudrillard, periodisasi perkebangan masyarakat adalah lintasan (trajectory) masyarakat primitif, masyarakat hierarkis dan masyarakat massa. Pada titik inilah Baudrillard berpisah dari pemikiran Marx.&lt;br /&gt;Masyarakat pritimitif, dalam pandangan Baudrillard, merupakan konstruksi masyarakat yang tidak mengenal penandaan atau tanda. Objek dikelola secara murni berdasarkan fungsi-fungsi alamiahnya. Pada masyarakat Masyarakat hierarkis lahirlah tanda-tanda yang beroperasi dengan lingkup dan cakupan yang sempit. Tanda mulai menggantikan fungsi guna atau fungsi murni dari objek-objek. Tanda yang pertama kali berkembang adalah nilai tukar. Sementara pada masyarakat massa, tanda usdah tidak dapat dikendalikan oleh otoritas masyarakat. Tanda menjadi sangat dominan sehingga obyek tidak dapat lagi menjadi sesuatu yang murni. Di sinilah letak kebudayaan massa atau kebudayaan populer.&lt;br /&gt;Kebudayaan massa adalah sebuah jawaban bagi sebuah masyarakat yang hidup dalam pelbagai simbol dan tanda-tanda yang saling bertubrukan. Kebudayaan massa hadir dengan membawa etos dan format baru kehidupan. Dalam kebudayaan massa, sesuatu yang bersifat dalam menjadi tidak penting, dikalahkan dengan penampilan dan penampakan yangmuncul dipermukaan. Era kebudayaan massa adalah era pemujaan atas nilai-nilai penampakan, perayaan kebebasan (emansipasi-liberal), kenikmatan tanpa kekhusyukan, permainan, kedangkalan, kemeriahan dan kesenangan yang penuh bujuk rayu (seduction). Dengan demikian, sangatlah pantas jika masyarakat konsumer disandingkan dengan keberadaan kebudayaan massa sebagai sebuah prototipe legitimasi kultural atas perilaku konsumsi.&lt;br /&gt;Budaya massa secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah kebudayaan yang cair dan tak memiliki sekat pembatas klasikal bagi penikmat. Ia ―meminjam istilah Richard Rorty― bersifat something goes, atau seba boleh atau boleh-boleh saja. Istilah massa bersifat berlawanan atau bersifat oposisi biner dengan istilah budaya aristokrasi atu budaya kelas tinggi seperti model kebudayaan musik barok pada khazanah musik klasik Eropa.&lt;br /&gt;Jejak kebudayaan massa sebanrnya telah ada sejak masih bercokol kuatnya budaya aristokrat. Dalam sejarah Yunani, kita mengenal perhelatan Olimpiade yang merupakan sebuah pesta rakyat yang juga dinikmati dan dihadiri oleh para penguasa aristokrat zaman itu. Padapandangan lain, merujuk Leo Lowhental yang dikutip Dominic Strinati, kebudayaan massa dapat dilacak keberadannya sejak era sirkus pada masa Romawi kuno. Sirkus merupakan sebuah bentuk kebudayaan plural yang terdiri dari permainan, pesta rakyat dan olahraga yang secara bebas dapat dinikmati oleh siapapun (Dominic, 1995. bandingkan dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia berjudul popular culture. Jejak. 2007).&lt;br /&gt;Namun pada perkembangannya, politik ekonomi kapitalisme telah mengadopsi sistem pembiakan budaya massa sebagai upaya guna memasifkan kampanye penerimaan komoditas ekonomi tertentu. Dengan menciptakan modus standarisasi dan   dan penyeragaman selera atau rasa, mekanisme pembuatan produk akhirnya terarah langsung menuju sebuah model kemassalan kebudayaan dalam kerangka konsumsi.&lt;br /&gt;Mungkin kita dulu tidak mengenal merk atau  ikon-ikon perdagangan seperti Nike, Kentucky Fried Chicken, McDonald, Pizza Hut, dan sebagainya. Dengan penyeragaman rasa akhirnya kita mengenal dan secara bebas menerima merek-merek tersebut sebagian bagian yang ―seakan-akan― alamiah ada dalam kebudayaan kita. Pernahkah kita mengamati sebuah fenomena jilbab? Selepas peluncuran film Ayat-ayat Cinta  masyarakat berjilbab dihebohkan dengan trend jilbab ala zaskia Adya Mecca.&lt;br /&gt;Budaya massa awalnya adalah budaya rendahan ―tepatnya budaya rakyat atau folkculture― yang berposisi lawan sebagai lawan kata budaya tinggi para aristokrat. Namun, menurut catatan McDonald, kebudayaan tersebut akhirnya dipolitisir sebagai media penyeragaman atau meledakkan kebudayaan tinggi sehingga tak lagi ada sekat dan batas yang dapat membedakan. Contohnya, pada kasus cara berpakaian, dalam budaya massa tidak ada perbedaan klasikal bagi pengguna Jeans, baik orang miskin atau kaya, selama mampu memiliki tetap akan boleh menggunakan.&lt;br /&gt;Demokrasi merupakan instrument penting merebaknya budaya massa. Demokrasi setidaknya menjadi perangkat yang menghancurkan tembok pemisah antara kebudayaan kelas tinggi dengan kebudayaan kelas bawah. Hancurnya hierarki tradisional melalui kekuatan demokrasi telah menegakkan dan mengukuhkan kekuatan budaya massa secara lebih kuat. Hal ini juga sangat terkait dengan epistimologi universal dari dunia Barat.&lt;br /&gt;Dalam ukuran politisasi kebudayaan kapitalistik, dunia boleh saja berubah demi tercapainya target-target ekonomi tertentu. Dengan modal tersebut, diciptakanlah upaya-upaya untuk membangun sebuah keseragaman kebudayaan ―meski sedikit gegabah tetap harus saya sebut sebagai globalisasi― yang memungkinkan diterimanya keseragaman produk di belahan dunia yang berbeda. Sebagai upaya mempermudah masuknya produk, maka diciptakan pelbagai etos kebudayaan yang bersandarkan pada asas-asas perayaan atas hal-hal yang dangkal, sepele, sentimental dan penuh kemeriahan. Hedonisme adalah prinsip utamanya. Kehadiran budaya massa juga menimbulkan penolakan pada sakralitas dan keluhuran yang memang sulit untuk dipikirkan. Ciri lain dari budaya massa adalah miskinnya makna dalam setiap ruang interaksi yang dibangun, seperti fenomena cafe, diskotik, dan mall.&lt;br /&gt;Untuk membangun keseragaman kebudayaan demi massifnya idiologi ekonomi, maka pelbagai upaya dilakukan oleh kelompok kapitalis. Sebut saja dengan memasifkan demokrasi, menciptakan pendidikan bernuansa global, stereotipikasi regional, dan penanaman citra-citra pada produk.&lt;br /&gt;Pembentukan citra dankesan atas situasi dan produk tertentu tidak terlepas dari kekuatan teknologi informasi yang berkembang dengan sangat pesat. Televisi dan  internet adalah yang paling utama. The satanic box (TV) merupakan alat liturgy terpenting dalam perayaan doa-doa kemeriahan  budaya massa. Dengannya, pelbagai pencitraan dan kampanye idiologis ditampailkan secara massif agar perlahan dapat diterima sebagai sesuatu yang natural. Dunia televisi bagi Baudrillard merupakan sebuah dunia dimana segala yang real dan yang palsu melebur menjadi sebuah keyakinan dan keniscayaan. Televisi merupakan ruang bertumpuknya pelbagai simbol, tanda, impian dan citra yang secara gradual dilesakkan ke dalam pikiran para penontonnya. Istilah masyarakat tontonan (spectacle of society) merupakan istilah yang menunjuk mayoritas diam para penikmat televisi yang dengan tanpa daya kritis apapun menerima pelbagai suguhan di dalamnya.&lt;br /&gt;Dengan dukungan teknologi tersebut kampanye pembumian citra berlangsung. Mari kita telaah dari contoh yang sederhana. Iklan.&lt;br /&gt;Iklan merupakan perangkat penting agitasi pembentukan budaya massa. Semangat iklan bukan hanya semangat memperkenalkan produk tetapi lebih merupakan semangat untuk memasukkan idiologi mengkonsumsi baghi para pemirsanya. Iklan Lux tampil dengan model Dian Sastro Wardoyo; Iklan rokok tampil dengan segala macam kegagahan laki-laki; dan iklan mobil menampakkan bentuk dan kesan sebagai sesuatu yang berbau Eropa. Mari berpikir sedikit kritis, benarkah semua citra yang terbangun tersebut?&lt;br /&gt;Keberadaan Dian Sastreo sebagai bintang iklan bukanlah sebuah ketidaksengajaan, namun lebih merupakan propaganda semiotis. Ia merupakan penanda dari petanda yang berupa nilai-nilai yang ingin ditanamkan oleh produsen produk sabun tersebut. Dengan memunculkan Dian sastro sebagi aktor penanda, akan terbangun mindset bahwa cantik adalah seperti Dian Sastro dan dia menggunakan sabun LUX. Masih adakah yang dapat dipercayai dari iklan?&lt;br /&gt;Iklan merupakan sebuah retorika citra dalam istilah Barthes. Merujuk Barthes segala prinsip-prinsip penandaan dalam iklan yang berupa kecantikan, kehalusan, kehormatan merupakan sebuah glamorisasi. Galamorisasi adalah pelepasan suatu objek dari konteksnya. Glamorisasi membuat ―masih menggunakan contoh iklan Dian Sastro― kesan cantik akan terlekat di luar konteks yang sebenarnya dan bersifat dependen pada produk-produk tertentu. Seakan-akan setiap orang membeli lux agar menjadi seperti dian Sastro Wadoyo. Pada contoh lain, pembelian Mercedes Benz cenderung bukan lagi merupakan persoalan kebutuhan kedaraan tapi penikmatan atas nilai dan tanda prestise yang menempel pada kendaraan tersebut.&lt;br /&gt;Kesamaan atau keseragaman model dan etos adalah corak terpenting dalam kebudayaan massa. Keseragaman tersebut dapat kita temui pada fashion, kendaraan, kuliner, gaya hidup, hobby dan berbagai bentuk keseragaman lain yang sangat ditunjang oleh konstruksi kebudayaan massal. Peniruan pada dasarnya merupakan sifat alamiah manusia. Manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan imitasi atas nilai dan bentu-bentuk yang dipercaya atau dirasakan mempunyai kecocokan. Namun, pada konteks budaya massa, peniruan yang mengarah pada keseragaman yang dibentuk secara terperinci dan sistematis oleh sebuah otoritas politik ekonomi. Inilah yang mengkhawatirkan.&lt;br /&gt;Simulasi,  adalah istilah yang digunakan oleh Baudrillard untuk menunjuk proses kreasi imitasi atas realitas yang hampir menyerupai realitas sebenarnya. Simulasi beroperasi dengan meniadakan  referensi, kebenaran, dan realitas, serta mengedepankan penampakan sebagai prinsip ontologis. Dengan simulasi, orang akan terjebak masuk ke dalam suatu ruang yang dirasa seakan nyata meskipun sesungguhnya merupakan kesemuan. Pelbagai perbedaan antara yang asli (real―benar-benar ada) dan yang fantasi menjadi sangat tipis melalui prinsip-prinsip simulasi tersebut. Dalam televisi, sinetron contohnya, realitas dicipta menggunakan teknologi. Efek tidak langsung dari pencitraan tersebut bersifat psikologis. secara psikologis, penonton akan terjerat dalam kurungan emosi dan kognisi yang menimbulkan kesadaran seakan-akan realitas dalam sinetron adalah yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Smack Down, contoh lainnya, adalah sebuah olahraga gulat yang  dipenuhi oleh pencitraan dan simulasi. Smack Down bukanlah sebuah gulat yang sebenarnya, melainkan sebuah citra akan bentuk olahraga gulat. Tehnik pencitraan televisi atau teknologi memungkinkan munculnya penilaian bahwa para pegulat Smack Down sunguh-sungguh tengah saling bertarung dan mengalahkan. Walhasil, banyak diketemukan kasus peniruan yang bukan hanya dilakukan oleh anak-anak, bahkanoleh orang dewasa yang secara kognitif dipercaya  telah lebih mapan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lacan Dan Hasrat Mengkonsumsi&lt;br /&gt;Membaca fenomena kebudayaan massa menggunakan psikoanalisa sungguh mengasyikkan. Setidaknya kita menemukan sebuah prototipe otomatisasi perilaku dalam individu yang bergerak dari ruang bawah sadar. Namun pembacaan atas fenomena kebudayaan massa dalam tulisan ini akan mencoba menggunakan model psikoanalisa Lacanian yang mungkin kurang masyhur di kalangan akademisi psikologi di Indonesia. Hal ini mungkin juga tidak jauh berbeda dengan nasib pengembangan psikoanalisa ala zizek dan Fanon, keduanya justeru mendapat tempat terhormat pada diskursus filsafat dan ilmu-ilmu sosial.&lt;br /&gt;Sebagai catatan awal, kepercayaan pertama yang dibangun oleh modernisme adalah kerpercayaan atas mandirinya manusia yang memiliki kesadaran. Cogito ergo sum adalah patokannya. Manusia dipercaya sebagai mahluk yang berkuasa terhadap segala bentuk fantasi, imajinasi, khayal yang terus membayangi kekuatan rasionalitasnya. Freud Muda telah menguji tesis tersebut. Freud dengan topologi kesadaran-ketidaksaran menghantam pemikiran tersebut. Ego-cogitan dicurigai oleh Freud dikendalikan oleh ketidaksadaran yang merupakan produk perkembangan perversitas polimorfosis bayi manusia. Namun serangan Freud tidak bertahan lama. Kemunculan konsep ego menampakkan watak paradoks dari pemikiran Freud. Ego akhirnya dipercaya mampu selalu menundukkan id ―sebagai kekuatan ketidaksadaran. Disinilah Freud dinilai ikut merayakan ego Cartesian.&lt;br /&gt;Jaques Lacan justeru meragukan kemajuan pemikiran yang dicapai oleh Freud tersebut. Baginya tidak mungkin ego adalah yang sepenuhnya sadar. Ego adalah pseudo kesadaran yang lahir dari proses kesalahan membangun konsep diri pada fase cerminal. Bagi Lacan, adalah sesuatu yang bernama hasrat (desire) yang tidak tertundukkan dalam perjalanan hidup manusia. Hasrat adalah salah satu bentuk lain dari ketidaksadaran dalam konsepsi Freud muda meskipun tidak seutuhnya sama.&lt;br /&gt;Penting untuk mengingat bahwa fase cerminal telah mencipta konsep diri atau ego pada manusia. Tetapi ego tersebut tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi sempurna. Karena ke-aku-an dinilai akan terus berjalan dengan ke-lian-nan. Kesadaran akan aku adalah kesadaran akan yang liyan. Aku sebagai hasil fase cerminal tetaplah bukan sesuatu yang sempurna sebagai “aku’, pseudo-aku atau ego ideal, tepatnya. Aku yang muncul melalui proses pengenalan melalui cermin tetaplah kesalahan persepsi atas makna diri. Sebagai catatan lainnya, manusia berproses sepenuhnya untuk kembali pada fase Yang Real. Sebuah fase yang tanpa kekurangan. Keinginan kembali pada fase tersebut merupakan salah satu asal-usul hasrat.&lt;br /&gt;Pada konsep perilaku selanjutnya, manusia selalu menggunakan konsep diri yang salah tersebut sebagai piranti berperilaku dan berhubungan dengan dunia liyan ―selain aku. Artinya, ego yang dipercaya sadar sebenarnya masih menyimpan hasrat ketidaksadaran. Intinya, Manusia senantiasa berperilaku guna mencapai kesempurnaan yang hilang seiring lepasnya fase Yang Real.&lt;br /&gt;Untuk menemukan konsep diri, sebenarnya manusia kerap mengulangi fase cerminal yang terdapat dalam fase Yang Imajiner. Manusia sering melakukan konfrontasi atau pengecekan konsep diri dengan keberadaan liyan dalam Liyan-liyan aktual. Cermin yang bermakna metaforis dapat memiliki arti segala sesuatu yang digunakan seseorang untuk meyakinkan keberadaan dirinya, atau keberadaan konsep tentang dirinya. Cermin itu dapat berupa orang lain, tayangan bergambar, ketokohan, ibu, atau pelbagai hal lainnya. Keberadaan cermin memang sangat penting agar seseorang menyadari bahwa dirinya eksis.&lt;br /&gt;Fungsi cermin adalah media penyetaraan konsep diri. Artinya, seseorang melihat dirinya melalui liyan. Proses konsfrontasi atau pengecekan tersebut setidaknya memberikan efek terbentuknya konsep diri yang dipengaruhi oleh bentuk dan skema liyan yang menjadi cermin.&lt;br /&gt;Pada budaya massa, iklan, televisi, bintang, mall, dan berbagai perangkat politik ekonomi lainnya merupakan cermin yang ―dirasa maupun tidak― digunakan untuk mengkonfrontir atau memastikan konsep tentang diri. Ketika seorang perempuan melihat Dian Sastro yang cantik, ia akan mencoba melakukan konfrontasi konseptual dirinya dan Dian Sastro. Jika dirasa terdapat kekurangan dalam dirinya, maka hasrat akan mendorong terbentuknya perilaku guna pencapaian kepenuhan konsep diri tersebut, dalam konteks ini adalah dengan konsumsi. Konsumsi artinya buukan semata untuk memenuhi diri dengan kebutuhanakan sabun, tapi juga sebagai upaya pemenuhan konsep diri yang dirasa kurang, yakni keinginan menjadi seperti Dian sastro sebagai hasil dari mekanisme cerminal.&lt;br /&gt;Lalu mengapa kebudayaan masa berkembang sebegitu cepat?&lt;br /&gt;Kembali pada dasar konsep bahwa seseorang merupakan cermin atau liyan bagi ego-ego yang lain. Interaksi secara otomatis telah menciptakan sirkulasi cerminal: orang-orang saling menjadikan yang lain sebagai cermin untuk mengutakan konsep egonya. Jadi, ketika ketidakmiripan terhadap bayangan cermin dirasakan, seseorang akan berupaya melakukan pemenuhan secara otomatis.  Model pemenuhan ini tidak membutuhkan bahasa, karena hasrat tidak dapat ditunggangi oleh bahasa ―setidaknya menurut konsepsi Lacan. Ketika Mall menjadi sebuah cermin, maka ketidaksesuaian dengan konsep mall tersebut akan segera diupayakan untuk terpenuhi oleh ego seseorang.&lt;br /&gt;Kebudayaan massa dalam konteks ini, merupakan sebuah cermin yang menuntut seseorang untuk terus melakukan evaluasi dan konfrontasi ego-idealnya terhadap model-model dan bentuk yang sesuai. Dengan pencermatan yang sedemikian rupa, keyakinan Lacan bahwa manusia yang sesungguhnya benar-benar tidak sadar dapat diperluas pengertiannya, menjadi kemungkinan adanya ketidaksadaran massal yang disebabkan oleh sistem penandaan yang berseliweran dengan tanpa titik pemberhentian.&lt;br /&gt;Catatan penting untuk psikoanalisa Lacan adalah sifatnya yang telah lepas dari konsep biologis; hasrat telah melampaui sesuatu yang biologis. Meskipun secara biologis kebutuhan telah terpenuhi, namun hasrat untuk menyempurnakan konsep diri tetap tidak terhenti. Hasrat peniruan adalah hasrat agar sesuai dengan suatu kelompok atau orang lain sehingga dirinya dapat memperoleh penghargaan atau pengakuan atas eksistensi.&lt;br /&gt;Dalam pembacaan Lacanian, yang liyan adalah adalah penanda bagi liyan-liyan yang lain, inilah yang menyebabkan terbentuknya sirkulasi penandaan. Menjadi sadar, setidaknya, berarti mengurangi atau sedikit menghentikan sirkulasi penandaan antar liyan-liyan. Dengan demikian, menjadi sadar pada era konsumerisme berarti berupaya menghentikan efek penandaan yang mempengaruhi konsep aku-ego pada diri masing-masing individu. Menjadi sadar berarti mengupayakan terhentinya efek penandan oleh liyan-liyan yang diciptakan secara sistematis dalam ruang kebudayaan massal agar tidak menjadi faktor pemengaruh pada ego. Namun menurut Lacan, uapaya tersebut tidak akan pernah mencapai kesempurnaan. Perhentian satu sistem penandaan akan menimbulkan efek timbulnya sirkulasi penandaan lainnya. Kesulitan lainnya ―menurut Lacan― adalah bahwa hasrat tidak dapat dibincangkan dalam mekanisme kebahasaan, sehingga kemunculannya selalu bersifat tiba-tiba dan tidak dinyana.&lt;br /&gt;Manusia, sungguh-sungguh tidak sadar. Titik. Menurut Lacan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Glosarium&lt;br /&gt;Nihilisme     : sikap atau pandangan yang menolak nilai-nilai kebenaran moral, dan melihatnya dalam posisi yang berada di titik nol, artinya pada titik yang tidak memiliki polarisasi nilai&lt;br /&gt;Semiotika : ilmu tentang tanda-tanda serta penggunaannya dalam masyarakat&lt;br /&gt;Tanda : unsur dasar semiotika dan komunikasi, yaitu segala  yang mengandung makna, yang memiliki dua unsur, penanda (bentuk) dan petanda (makna).&lt;br /&gt;Budaya massa    : kategori kebudayan yang diciptakan untuk massa yang luas, Adorno memandangnya sebagai kebudayaan yang menghasilkan selera massal atau rendah&lt;br /&gt;Citra : sesuatu yang tampak oleh mata namun tidak memiliki eksistensi substansial&lt;br /&gt;Fase cermin :  fase penting perkembangan bayi dalam psikoanalisa Lacanian, saat bayi pertama kali mengenal dirinya melalui cermin. Namun yang dilihatnya tidak lebih dari sekedar citraan, representasi semu atau ego palsu dari dirinya yang sesungguhnya&lt;br /&gt;Idiologi : sebuah sitem kepercayaan dan sistem nilai serta representasinya dalam berbagai media dan tindakan sosial&lt;br /&gt;Konsumerisme: manipulasi tingkah laku para konsumen melalui berbagai aspek komunikasi pemasaran&lt;br /&gt;Masyarakat tontonan: masyarakat yang pelbagai aspek hidupnya dipenuhi dengan tontonan yang kemudian dijadikan referensi dan patokan dalam hidupnya&lt;br /&gt;Oposisi biner :  prinsip pertentangan antara istilah yang berseberangan dalam istilah strukturalisme, yang satu memiliki makna yang lebih superior tinimbang yang lain, seperti baik-buruk, lemah-kuat, dll.&lt;br /&gt;Habitus : struktur kognitif yang menghubungkan individu dengan realitas sosial. Istilah ini muncul dalam sosiologi Pierre Bordieu&lt;br /&gt;Penampakan (Appearing) : kualitas objek yang secara langsung dapat ditangkap oleh instuisi, untuk membedakan yang berada dalam jangkauan intuisi dengan sesuatu yang berada di luar jangkauan intuisi&lt;br /&gt;Hasrat/desire :  istilah dalam psikoanalisa lacanian sebuah mekanisme psikis berupa gejolak rangsangan terhadap objek atau pengalaman yang menjajnjikan kepuasan, yang selalu berupa sesuatu yang berbeda, sesuatu yang telah hilang ketika manusia menjadi dewasa, yaknikepuasan bersatu dengan ibu.&lt;br /&gt;Intertekstualitas : kesaling terhubungannya satu teks dengan teks yang lain atau teks-teks sebelumnya, dalam bentuk persilangan kutipan dan ungkapan-ungkapannnya. Satu teks dengan yang lain bersifat saling mengisi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-2006173826244236620?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/2006173826244236620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=2006173826244236620' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/2006173826244236620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/2006173826244236620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/05/tamasya-di-ruang-maya-reportase-singkat.html' title='Tamasya Di Ruang Maya: Reportase singkat kebudayaan massa'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-3849689040262051887</id><published>2008-04-28T01:33:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T06:13:58.363-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection of Kang Jan'/><title type='text'>(1) Sesat dan tak sesat</title><content type='html'>Muhammad Irsyadul Ibad, Sy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Kang Jan begitu suram sore itu. Matanya menunjukkan kalau di kepala pria berusia 40 tahunan itu sedang ada masalah yang berat. Pelayanan angkringan pun menjadi kurang dari apa adanya, tanpa senyum dan sapaan manis yang ramah ke setiap pembeli seperti biasanya. Teh jahe, es teh, jeruk panas, es tape semua ikut menjadi korban. Kesemua diaduk dengan tanpa perasaan. Ceker, sayap dan kepala ayam, tempe goreng dan bakwan pun tak luput, dibakar dengan setengah hati. Penuh arang dan gosong yang tak wajar. Angkringan kang Jan sangat janggal malam itu. Sepinya, seperti kuburan. Penyebabnya cuma satu, sang pemilik tak kunjung angkat bicara selain saat menghitung jumlah belanjaan pelanggan.&lt;br /&gt;Galagat tak beres kang Jan ditangkap jeli oleh Mamat. Maklum ia pelanggan bertahun-tahun empunya angkringan itu. Tak ada makan malam Mamat tanpa ceker bakaran Kang Jan. Tapi malam itu Mamat tak mendapat ceker bakar, tapi arang ceker. Teh jahe pun kemanisan, padahal kang Jan pasti tahu selera pelanggan satu ini; tidak suka pada rasa yang berlebihan entah itu terlalu manis, pahit, pedas, asin. Sedikit saja minuman kemanisan segera pasti Mamat melempar protes. Malam itu teh bukan lagi kemanisan, tapi terlalu manis. Tapi Mamat menahan diri, ia takut kalau protesnya atas sajian Kang Jan malam itu memperkeruh suasanan angkringan yang sudah tidak nikmat. Ia mengalah.&lt;br /&gt;Diamnya Kang Jan adalah teka teki bagi Mamat. Sungguh tak biasa, ia merasa. Kejanggalan yang paling janggal. Ada manusia yang biasanya berceloteh tak henti, malam ini dikelilingi lengang yang sangat.&lt;br /&gt;“Ada apa kang?” Mamat membuka percakapan&lt;br /&gt;“Dari tadi mukanya ditekuk saja, ndak biasanya”&lt;br /&gt;“Tuhan apa sudah punya wakil setelah kanjeng nabi ya?” timpal kang Jan ketus.&lt;br /&gt;Penuh kebingungan Mamat bertanya, “ada apa sih?”&lt;br /&gt;Kang Jan masih tersenyum pahit, sepahit arang ceker yang masuk ke liang mulut Mamat.&lt;br /&gt;“sik, sik, ada apa ini kang? Pertama, saya dari tadi disuguhi wajah berkerut, ayam gosong, dan teh yang keterlaluan manisnya, ada apa? Terus tiba-tiba pake tanya apa Tuhan sudah punya wakil selain kanjeng para nabi? bingung aku” timpal Mamat.&lt;br /&gt;“Kau tahu, beberapa waktu ini, banyak orang yang mudah menuduh orang sesat? Entah itu personal, kelompok atau kumpulan gerombolan. Kata-kata kafir menjadi lagam yang semakin sering diperdengarkan untuk menunjuk hidung orang yang berbeda pendapat. Apa mereka tahu, bahwa mereka benar-benar lurus dan yang dituduh adalah sungguh sesat? Banyak orang yang berani mengambil hak Tuhan untuk memutuskan persoalan kebenaran” tukas kang Jan&lt;br /&gt;“Terus Tuhan seperti dimiliki sendiri, dengan cara pandang yang tunggal. Kita tahu ada prinsip-prinsip ketuhanan yang kita peroleh secara sam’iyyat, paling itu sumber acuan pembicaraan ketuhanan kita? Selebihnya adalah tafsir atas perkara-perkara sam’iyyat itu. Tapi mengapa perbedaan yang ecek-ecek selalu memicu pengkafiran? Orang bertasawwuf dituduh zindiq, bertahlil dituduh kurafat, tidak qunut dianggap musuh, tidak ziarah dianggap bebal batin? Bukankah hal-hal khusus itu, kesemuanya muncul dari keumuman hukum Tuhan?”&lt;br /&gt;Mamat masih diam. Sesekali meludah membuang pahit ceker ayam gosong yang lenempel di lidahnya.&lt;br /&gt;“Ada orang berbeda cara pandang hadistnya, berbeda fiqihnya, berbeda ilmu kalamnya, berbeda aliran keagamaannya tapi saya yakin mereka tetap percaya Tuhan yang sama. Tuhan juga saya yakin tidak peduli apakah hambanya NU, Persis, Perti atau Muhammadiyah. Apalagi partainya. Saya yakin Tuhan masih menyimpan rahasia-rahasianya, nah yang namanya NU, Muhammadiyah, Perti, Persis itu hanya salah satu gang sempit menuju kesana. Menuju rahasia-rahasia itu. Tuhan hanya akan menghitung kebaikan yang dilakukan seseorang. Bukan organisasi, kelompok, mazhab, aliran, dan apalah nama-nama untuk menyebut semua perbedaan itu” Menggebu-gebu Kang Jan berseloroh.&lt;br /&gt;“terus kenapa kang ?” tanya Mamat&lt;br /&gt;“Toh mereka tidak saling berantem to selama ini?” tambahnya&lt;br /&gt;“La itu masalahnya, kini semakin banyak orang yang merasa punya hak meluruskan cara beragama orang lain dengan kekerasan, dengan pedang, dengan menggrebek, dengan…ah, aku bingung terlalu banyak cara tidak manusiawi itu”&lt;br /&gt;“Masalahnya?” Mamat terus memancing&lt;br /&gt;“Masalahnya adalah sikap yang tidak toleran itu. Sikap yang menyatakan diri paling benar dan yang liyan adalah salah. Sebagai yang benar berhak memberangus yang tidak benar. Yang tidak benar harus tidak boleh ada. Itu. La wong kanjeng Nabi Muhammad saja tidak bersikap seperti itu untuk berbagai perbedaan. Waktu ada sahabat yang seorang pedagang bertanya apakah pekerjaan paling utama, rasul menjawab ya berdagang. La waktu petani datang dibilang bertani. Ini bukan sikap plin-plan nabi, tapi sikap yang mengajarkan isi lebih penting dari pada kulit. Inti bekerja adalah cari nafkah halal yang bisa saja lewat dagang, tani atau jadi buruh.” Tukas kang Jan&lt;br /&gt;“lo, kok merembet kemana-mana? Sampai soal itu lagi” Mamat terus memancing.&lt;br /&gt;“waduh, la wong perasaan saya itu yang mondok di pesantren, kuliah dan mengahapal Qur’an itu sampean, la malah kok ndak tahu. Coba berapa banyak ayat Qur’an yang bercerita secara spesifik tentang kejadian tertentu? Sedikit to? Yang banyak itu yang masih umum. Untuk hal-hal yang umum itu kita butuh menafsirkan. La penafsiran setiap wong itu berbeda-beda. Untuk kehati-hatian makanya kita dianjurkan untuk belajar Qur’an sama yang lebih pandai. Persolannya, orang-orang yang sama-sama membaca Qur’an yang sama itu sekarang mulai saling tuduh siapa yang salah dan mengaku paling benar dalam penafsiran masing-masing. Padahal yang diperdebatkan adalah hal-hal yang berasal dari penafisiran yang beragam tadi. Mbok yo jangan tuduh orang salah apalagi ngafirke meski beda pendapat. Nabi saja banyak menimpali perbedaan para sahabat dengan senyuman” Timpal kang Jan geram.&lt;br /&gt;“begini kang,” timpal Mamat&lt;br /&gt;“Sik aku urung mari” potong kang Jan&lt;br /&gt;“Penyakit terparah orang pandai itu adalah kesombongan, ingat itu. Makanya hati-hati mencari guru. Carilah orang pintar yang tidak sombong. Kenapa ada ulama yang tidak bisa bertasamuh, memelihara toleransi? Aku curiga itu berasal dari kesombongan. Dia merasa derajat keilmuannya lebih tinggi, kualitas penafsirannya lebih baik, kedekatannya dengan Tuhan lebih dari yang lain, dan perasan lebih, lebih, lebih di atas yang lain. Ilmu itu bisa saja jadi penghalang bertemu Tuhan kalau sudah terkontaminasi kesombongan.” Kang Jan meneruskan ceramah panjang lebarnya.&lt;br /&gt;“terus kita harus bagaimana, Kang?” Timpal Mamat.&lt;br /&gt;“Sederhana, menjaga akhlaq. Kita harus sadar, apapun perbedaannya akhlaq harus dikedepankan, bukan ilmunya dulu. Dulu Imam Syafi’I ketika bertamu kerumah Imam Maliki, dia rela tidak berqunut untuk menghormati gurunya itu. Persoalannya sudah bukan qunut, tapi cara menyampaikan Qunut. Apapun perbedaan fiqih, kalam, mantiq dan keyakinan yang terjadi, ahklaq yang harus dikemukakan. Ilmu saat itu boleh dinomorduakan. Toh Kanjeng Nabi itu diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Itu yang utama. Berarti syariah pun harus berjalan di bawah naungan akhlaq. Ulama harus mau meneriakkan akhlaq selain berteriak fiqih, tauhid dan apa saja hal-hal lain tentang agama. Penghakiman itu hak prerogratif Tuhan, karena Dia yang Maha Adil. Sementara keadilan manusia itu relatif, tak sempurna dan condong pada suka atau tidak suka. Tuhan sudah ingatkan kita agar jangan menjadikan kebencian sebagai penyebab ketidakadilan sikap kita terhadap siapapun”&lt;br /&gt;“Semudah itukah kata Akhlaq, Kang?” potong Mamat.&lt;br /&gt;“Ya ndak mudah. Bagaimana dapat dikatakan mudah? Dulu kanjeng nabi pernah diludahi setiap hendak ke masjid. Tapi saat orang yang meludahi sakit, kanjeng Nabi adalah orang menjenguk lebih dahulu sebelum kerabat dan sahabat pelaku peludahan datang. Yang kayak gitu untuk orang seperti kita ya ndak mudah. Memaafkan, mau mengerti, merendahkan diri, menjaga sikap, ya apa saja yang bersangkutan dengan akhlaq hasanah ya ndak mudah. Tapi harus kita pelajari. Kita punya contoh Agung, Kanjeng Nabi langsung. Ambil prinsip-prinsip akhlaq dari beliau!” tambah Kang Jan.&lt;br /&gt;Mamat menahan senyum. Matanya lirak-lirik ke sekitar kursinya. Kang Jan mulai merasa ada yang tak beres.&lt;br /&gt;“Jadi kita sepakat nih kang untuk memulai dari diri sendiri mempergunakan prinsip-prinsip akhlaq tadi?” tanya Mamat memancing.&lt;br /&gt;“Ya, kapan lagi?” jawab kang Jan tegas.&lt;br /&gt;“Kalau gitu, saya pinjam buku catatan hutang, makan malam hari ini digabungkan dengan hutang kemarin. Saya lagi belum kiriman, belum punya duit sampai lusa.” Mamat meminta dengan wajah cengar-cengir.&lt;br /&gt;Kang Jan Teringat semua celotehannya tadi. Tersenyum simpul ia mengambil buku hutang dar dalam laci gerobak lalu mengulurkannya sambil menahan tawa. Sirna sudah raut tak sedap dari muka kang Jan. Ia mengerti sedang mendapat pelajaran dari pelanggan setianya satu itu.&lt;br /&gt;Jalanan mulai lengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krapyak, 22 Januari 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-3849689040262051887?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/3849689040262051887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=3849689040262051887' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/3849689040262051887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/3849689040262051887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/04/1-sesat-dan-tak-sesat.html' title='(1) Sesat dan tak sesat'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-3483949093177789094</id><published>2008-04-28T01:30:00.002-07:00</published><updated>2008-12-12T06:14:23.923-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikoanalisis'/><title type='text'>Mengenal Psikoanalisa Lacanian</title><content type='html'>Muhammad Irsyadul Ibad, Sy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep ketidaksadaran mengetuk-ngetuk pintu psikologi meminta izin masuk. Sementara filsafat dan sastra telah lama bergelut dengannya, namun ilmu pengetahuan tidak tahu&lt;br /&gt;kegunaannya.&lt;br /&gt;(Freud)1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikoanalisa merupakan salah satu aliran besar dalam sejarah ilmu pengetahuan manusia. Layaknya aliran besar lainnya, marxisme contohnya, psikoanalisa telah merambah berbagai sektor keilmuan seperti sastra, sosiologi, filsafat dan kesenian. Psikoanalisa awalnya identik dengan nama pendirinya, Sigmund Freud, sehingga penggunaan istilah psikoanalisa dan psikoanalisa Freud mulanya memiliki arti yang sama. Bahkan beberapa murid Freud yang beralih dari ajaran gurunya memilih untuk meninggalkan istilah psikoanalisa, seperti Carl Gustav Jung yang mememilih menggunakan nama psikologi analitis (analytical psychology) dan Alfred Adler dengan istilah psikologi individual (individual psychology). Seiring meluasnya penerimaan psikoanalisa dalam ruang keilmuan yang beragam, istilah tersebut akhirnya tidak hanya identik dengan Freud sebagai pendiri2.&lt;br /&gt;Kelahiran sendiri psikoanalisa tidak lepas dari berbagai penolakan dan penerimaan. Kalimat testimonial Freud di awal artikel ini mengindikasikan penolakan yang kuat terhadap psikoanalisa, bahkan oleh psikologi yang sebenarnya memiliki kesamaan kajian dengan psikoanalisa ―psike manusia. Bahkan Eysenck, seorang psikolog behavioris di London yang berasal dari Jerman, menganggap sangat tidak mungkin memberikan predikat ilmiah bagi psikoanalisa karena tidak bersifat behavioristik.3 Penerimaan serta penolakan dapat dipahami sebagai perbedaan pendapat akibat peliknya pembacaan atas kompleksitas manusia. Pembacaan atas manusia memang tidak pernah akan berakhir. Sejak perkembangan filsafat pada zaman Yunani kuno sampai era paska-modern (post-modern) pembicaraan tentang manusia masih selalu menyisakan ruang perdebatan. Manusia dapat dianalogikan sebagai teka-teki silang yang terdiri dari beberapa kotak kosong yang menyusunnya. Setiap deret kotak dapat diisi oleh pelbagai nama dan teori guna menjawab pertanyaan seputar manusia. Tapi teka-teki silang itu tidak pernah selesai dikerjakan, selalu menyisakan pertanyaan.&lt;br /&gt;Soal adanya ketidaksadaran adalah yang paling kontroversial dari Freud. Sejak pertama kali diutarakan, penolakan untuk konsep yang asing di tengah kepercayaan kemandirian manusia sebagai mahluk yang sadar ini terus bergulir&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;4. Penolakan tersebut dapat dimaklumi tentunya, karena sangat terkait konstruksi epistimologis keilmuan modern yang bercokol kuat pada benak para saintis dan filsuf di era kelahiran psikoanalisa. Ketidaksadaran adalah kemustahilan di tengah keyakinan akan penuhnya kesadaran manusia sebagai mahluk yang berpikir. Freud yang mencurigai kesadaran adalah sesuatu yang terus direpresi oleh hasrat libidinal yang berasal dari ruang ketidaksadaran, sempat menjadi buah bibir dan cemoohan. Hasrat memang sesuatu yang sering disingkirkan dalam pembicaraan filsafat dan pemikiran Barat. Plato menyebutnya sebagai sesuatu yang harus dikontrol ketat oleh akal karena tidak memiliki prinsip untuk mengatur dirinya sendiri&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;. Adagium Descartes Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada) merupakan puncak pernyataan epistimologis pencerahan (aϋfklarung) yang menolak kekuasaan hasrat dan ketidaksadaran (atau juga pseudo-kesadaran) atas manusia yang sadar&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;. Seperti Plato, dalam anggitan Descartes akal merupakan substansi. Subjek cartesian meyakini manusia sebagai yang awas, sadar diri, rasional yang berangkat dari akal murni dan bukan hasrat atau bentuk-bentuk lain dari ketidaksadaran. Konsep ketidaksadaran dalam psikoanalisa menjadi pukulan telak ke inti subjek cartesian. Subjek cartesian yang ditahbiskan sebagai yang rasional dan bersandar pada akal murni dicurigai menyimpan hasrat libidinal dari dalam ruang bawah sadarnya. Hasrat ini tidak lain terlahir pada proses psikodinamis manusia&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;. Freud saat itu seperti menjanjikan sebuah cara pandang baru untuk melihat ketidaksadaran dan hasrat yang dalam pandangan sebelumnya terus dinyatakan terkontrol oleh akal-rasio manusia yang sadar. Psikoanalisa hadir untuk menyatakan bahwa hasrat yang berdiam dalam ketidaksadaran merupakan kekuatan yang mengontrol manusia yang mentahbiskan diri sebagai yang sadar dengan kekuatan akalnya. Kehadiran psikoanalisa tidak sebatas menghantam pandangan yang telah berkembang tentang psike (psyche) manusia pada ruang psikologi, tapi lebih jauh menghantam rasionalisme yang telah sekian lama diamini oleh para ilmuan dan filsuf.&lt;br /&gt;Penolakan terhadap ide ketidaksadaran Freud tidak hanya muncul dari kelompok rasionalis melainkan juga datang dari para penggiat eksperimentalis (empirisme). Bagaimanapun, sungguh akan cukup sulit membuktikan adanya id (ketidaksadaran) pada manusia secara empirik. Hal ini yang memungkinkan Eysenck dengan begitu tajam menyerang Freud. Penolakan Eysenck atas psikoanalisa sebagai sebuah ilmu dengan alasan karena sifatnya yang tidak behavioristik, berarti ―setidaknya dalam pandangan behavioris ekstrem yang cenderung hanya mengamati sesuatu yang tampak sebagai perilaku― bahwa ketidaksadaran yang diusung oleh psikoanalisa merupakan sesuatu yang tidak tampak dan tidak teruji secara emprik. Sementara orientasi keilmuan umumnya merupakan orientasi pada dunia empiris&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Pada pembacaan lain atas Freud selanjutnya, para pembaca menunjukkan bahwa psikoanalisa Freudian telah ingkar pada janji sebelumnya untuk mengungkap kekuatan dan dorongan ketidaksadaran dalam diri manusia. Adagium Wo Es War, Soll Ich Werden (dimana ada id selalu ego berpatroli) menunjukkan bahwa Freud gagal mewujudkan janji psikoanalisa. Ego yang sadar dalam konsep Freud membuktikan bahwa ketidaksadaran (id) tetap terkontrol dalam pengawasan ego yang sadar. Freud dituduh oleh beberapa pembacanya tengah ikut dalam pemujaan ego cartesian. Di sinilah ambiguitas Freud terungkap ke permukaan.&lt;br /&gt;Terlepas dari berbagai pro dan kontra tersebut, psikoanalisa telah memberikan sumbangan besar bagi berbagai bidang ilmu, termasuk psikologi sendiri yang akhirnya menerima psikoanalisa. Pembacaan atas psikoanalisa Freudian pun telah ikut melahirkan berbagai teori dan pendekatan baru pada berbagai bidang ilmu yang dengan tangan terbuka maupun setengah-setengah menerima kehadirannya. Psikoanalisa kini telah lebih bisa diterima sebagai sebuah cara pandang baru tentang manusia bagi berbagai ilmu, meski masih menyisakan kontroversi. Pembacaan terhadap Freud pun serasa tidak pernah berhenti. Prinsip-prinsip psikoanalisa yang dibangunnya terus menjadi perhatian tidak hanya dari kelompok psikolog atau psikoanalis sendiri. Kritik, pengungkapan dan pembaharuan pandangan terhadap karya-karya Freud terus dilakukan oleh para saintis dan filsuf. Harus diakui bahwa Freud merupakan salah satu inspirator penting dalam perkembangan paradigma ilmu sekarang.&lt;br /&gt;Salah satu pembaca Freud yang tekun adalah Jaques Lacan, seorang psikoanalis asal Perancis. Di tangan Lacan, psikoanalisa Freud berkembang menjadi aliran psikoanalisa baru yang sangat mengagumkan. Dengan semangat “Kembali pada Psikoanalisa”, Lacan memasukkan enersi linguistik struturalisme, beberapa gagasan dari antropologi dan filsafat ke dalam psikoanalisa. Lacan sering dikenal sebagai sintesa Freud dan Saussure dengan sedikit sentuhan Lévi Strauss, Heidegger dan Jaques Derrida. Persentuhan pelbagai pemikiran dan aliran keilmuan inilah yang akhirnya membuat karya Lacan dikenal sebagai pemikiran yang tidak mudah untuk dipelajari. Selain itu, kegemaran Lacan menggunakan idiom-idiom asing dan baru untuk memperkuat psikoanalisa yang dikembangkannya lebih memperumit upaya untuk mendekati pemikirannya&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Seperti penolakan terhadap psikoanalisa Freud pada awal kemunculannya, Lacan juga mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dengan pendahulunya. Penerimaan atas psikoanalisa lacanian di dunia psikologi terasa sangat terlambat. Sementara cultural studies ―cukup sulit untuk menemukan padanan kata ini dalam penterjemahan ke dalam bahasa Indonesia, sosiologi paskamodernisme dan filsafat telah banyak mengambil manfaat dari pemikiran Lacan, dunia psikologi masih sering bungkam, belum mengambil sikap terbuka terhadap aliran psikoanalisa ini. &lt;br /&gt;Tulisan ini lebih merupakan sebuah introduksi seputar psikoanalisa Lacan yang tentu sangat jauh dari memadai untuk memaparkan luas dan rumitnya pemikiran Lacan. Dalam tulisan ini diungkap sekelumit pandangan Lacan tentang ketidaksadaran dan sebuah contoh pembacaan ala lacanian tentang fenomena konsumerisme yang tengah aktual kini. Sebagai introduksi tulisan ini merupakan sebuah ajakan. Seruan untuk membuka pintu, mempersilahkan Lacan secara lebih bebas masuk ke ruang obrolan keseharian psikologi sebagai pemerkaya.&lt;br /&gt;Jaques Lacan: sebuah Pembacaan&lt;br /&gt;Kemunculan psikoanalisa merupakan hantaman kedua bagi kemapanan rasionalisme dan humanisme keilmuan barat yang berdiri di atas fondasi kesadaran subyek. Setelah Nietzsche mencurigai kenginan subyek yang rasional ala cartesian dipenuhi hasrat akan kekuasaan, psikoanalisa menyatakan keterhubungan antara kesadaran dengan ruang ketidaksadaran yang  tidak tertundukkan. Psikoanalisa secara telak memukul inti kekuatan pemikiran Barat dan mempercepat terjadinya krisis ego cogitan.&lt;br /&gt; Freud membangun konsep topografi kepribadian manusia yang terbelah menjadi dua ruang; kesadaran dan ketidaksadaran. Ruang kesadaran adalah ruang yang terapung-apung di atas ruang ketidaksadaran. Pengaruh ruang ketidaksadaran akan selalu mucul secara tidak dinyana dan disadari ―bahkan― oleh kesadaran subyek. Ketidaksadaran merupakan buah dari kompleksitas konflik psikis yang terjadi pada masa perkembangan perversitas polimorfosis bayi. Pada perkembangannya kemudian, Freud sedikit berbelok dari anggitan pertamanya. Berharap dapat mengurangi represi, Freud mendeklarasikan Wo Es War, Soll Ich Werden (dimana Id, disana ada ego) yang berarti kemenangan ego (kesadaran) atas id. Ego yang terdiri dari identitas diri dan kedirian yang rasional akan senantiasa mengantisipasi kemunculan id dan menggantikannya saat muncul ke permukaan. Di titik inilah Freud didera banyak cemoohan dan kritik.&lt;br /&gt;Jaques Lacan merupakan salah satu pembaca Freud yang secara tegas menolak anggitan Freud tentang berkuasanya ego atas id. Lacan merupakan seorang psikoanalis kebangsaan Perancis yang begitu berminat pada ide-ide Freud muda ―Freud yang dianggap masih memiliki tenaga untuk mempertahankan kekuatan ketidaksadaran sebagai faktor pendorong kepribadian. Bagi Lacan, kontrol ego atas id adalah sesuatu yang mustahil. Bagaimanapun, ego merupakan sebuah produk jadi dari id yang terbentuk melalui mekanisme kesalahan mengenali (méconaît) diri di hadapan cermin pada sebuah fase yang disebut fase cermin (statu de miroir). Ego adalah ilusi atau pseudo-identitas&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;. Stadu de miroir merupakan fase yang pada akhirnya menentukan keseluruhan identifikasi dalam diri manusia. Keseluruhan eksistensi manusia, menurut Lacan, mau atau tidak, dipengaruhi dan dikontrol oleh ketidaksadaran&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;. Itulah jantung pemikiran Lacan.&lt;br /&gt;Ketidaksadaran terstruktur seperti halnya bahasa. Itulah sisi lain pemikiran Lacan. Ia menekankan arti pentingnya bahasa dalam pelbagai hubungan kesadaran dan ketidaksadaran. Penekanan tersebut merupakan hasil dari pembacaan Lacan atas prinsip-prinsip psikoanalisa freudian dan tidak terlepas pula dari pengaruh aliran surealisme dalam dunia kesenian. Bagi seorang surealis, suatu gambaran simbolik (lambang-tanda) dapat saja merujuk makna yang plural, atau mewakili beberapa makna yang berbeda. Pengertian ini sering direpresentasikan dalam karya-karya surealistik yang memperlambangkan makna tertentu dengan simbol-simbol berbeda. Pada bentuk lainnya, surealisme sering menghadirkan beberapa simbol yang tidak sinkron dalam kesatuan pembentukan makna. Sementara, kesadaran bagi Freud, terstruktur oleh bahasa dan tanda-tanda yang didiami oleh ketidaksadaran&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;. Analisa yang dilakukan oleh Freud selama praktik psikoanalisanya menunjukkan bahwa pasien tidak dapat menunjukkan secara langsung problem psikisnya, melainkan dengan memainkan simbol-simbol penuturan bahasa. Penceritaan oleh pasien yang merupakan lambang dalam bahasa harus dianalisa untuk menemukan bentuk trauma sebenarnya. Interpretation of Dream, sebuah karya monumental Freud juga mendemonstrasikan penafsiran lambang tersebut. Mimpi adalah bentuk perlambangan yang diyakini sinkron dan terhubung dengan beberapa kenyataan dalam hidup pasien. Makna mimpi adalah trauma yang kembali atau sebuah pemenuhan atas yang tidak tercukupi ―setidaknya secara psikis. Kembalinya trauma-trauma dan ketidakcukupan tersebut tidak secara langsung bersifat naratif, melainkan dengan membentuk suatu konfigurasi perlambangan. Makna mimpi selalu diwujudkan dalam simbol-simbol, titik. Namun, makna bagi Freud maupun Lacan bersifat tidak tetap dan bergantung pada penggunaan individual dan kultural. Hal ini bertolak belakang dengan Jung yang menyatakan bahwa makna senantiasa bersifat statis.&lt;br /&gt;Berangkat dari pembacaan atas Freud tersebut, Lacan meyakini bahwa psikoanalisa harus dapat menjadi semacam ilmu bahasa dan tanda karena sifatnya yang secara eksklusif mempergunakan bahasa dalam analisisnya. Di sinilah Lacan tidak hanya menarik linguistik ke dalam ruang psikoanalisa, tetapi juga membangun sebuah sintesa psikoanalisa-semiotika.  Dalam kamus psikoanalisa Freudian terdapat pula beberapa contoh kategori penting yang berkaitan dengan operasional bahasa dan lambang dalam keseharian, yakni lelucon,  gejala-gejala, kekeliruan-keliruan hidup sehari-hari dan impian-impian. Kesemua fenomena tersebut terkait dengan permainan bahasa dan bersumber dari ruang bawah sadar. &lt;br /&gt;Lacan menekankan pentingnya pamahaman “fungsi kata” yang dalam kondisi psikoanalitik dikenal dengan istilah treatment. Penjelajahan fungsi kata diyakini dapat membawa kita ke dalam penjelasan bagaimana ketidaksadaran terbentuk dan terus beroperasi. Dalam menjelaskan fungsi kata tersebut Lacan menggunakan istilah subyek&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; (segala tentang pribadi/aku) dan penanda (signifier) yang ―dalam makna lacanian― berarti kata itu sendiri. Penanda&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt; merupakan perwalian dari subyek untuk berkomunikasi, mengungkapkan diri dan bermimpi. Keduanya (subyek dan penanda) dalam kosa kata lacanian mengandung makna yang beroposisi secara biner (binary opposition). Semboyan Lacan “kembali pada penanda” bermakna ajakan kembali pada pembicaraan tentang ruang ketidaksadaran.&lt;br /&gt;Untuk menjelajahi hubungan antara subyek, tanda dan makna, Lacan banyak terinspirasi semiologi&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; strukturalis Sassurean, meski dengan melakukan beberapa modifikasi dan penyesuaian. Berbeda dengan Saussure, Lacan hanya berfokuskan pada hubungan di antara penanda-penanda itu sendiri. Bagi Lacan, tidak ada yang dirujuk oleh penanda, atau penanda tidak merujuk pada suatu konsep apapun selain dirinya itu sendiri. Relasi penanda (signifier) merupakan relasi negatif  yang berarti suatu penanda adalah penanda bagi dirinya sendiri bukan pada yang lain. Relasi tersebut juga merupakan relasi yang tidak terhenti. Inilah bentuk operasional ketaksadaran dimana akan selalu terjadi pengulangan, pergeseran dan sirkulasi yang tidak henti dalam sistemnya. Ketidaksadaran adalah bentuk yang tidak memiliki titik pemberhentian, titik. Berangkat dari anggitan relasi negatif  antar penanda, bagi Lacan, menjadi dewasa berarti berupaya menghentikan gerak relasional antar penanda tersebut agar ―setidaknya― relasi tersebut menjadi lebih stabil. Namun sekali lagi kestabilan merupakan bayang-bayang atau pseudo-kestabilan. Ego yang dianggap telah mampu melakukan stabilisasi hubungan relasional antar penanda tetaplah ilusi, buah karya ketidaksadaran, mispersepsi  dalam tahapan cermin saat manusia masih berupa seonggok daging yang bernama bayi ―infant; enfans = belum bersuara&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;. Karena proyek pengenalan diri dalam ego menghasilkan sesuatu yang ilutif tentang konsep diri ―ego ideal, maka segala bentuk upaya memberhentikan relasi penanda oleh sistem ilutif tersebut akan hanya menghasilkan ilusi-ilusi baru yang dirasa sebagai kestabilan.&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, Lacan memandang subjek merupakan sesuatu yang senantiasa terbelah dan tidak utuh. Keterbelahan tersebut merupakan hasil dari proses pada fase-fase perkembangan perversitas polimorfosis saat pertama kali bayi mengenal serta mengunakan bahasa ―seperti halnya pada pandangan Freud― yang berkaitan dengan relasi bayi dan ibu.  Dalam psikoanalisa Freudian, seorang bayi mengalami tiga fase perkembangan perversitas polimorfosis, yakni oral, anal dan phalik.  Ketiga fase tersebut merupakan lintasan menuju fase genital yang merupakan fase akhir yang identik dengan fase kedewasaan. Dalam ketiga fase itu pula terjadi berbagai ketegangan psikis seperti kompleks oedipus dan kompleks kastrasi sebagai bentuk formasi penyesuaian serta upaya mengkomunikasikan kebutuhan dan upaya pemenuhannya. Tahap genital adalah tahapan berakhirnya kateksis-kateksis narsistik yang beroperasi pada masa pragenital. Kateksis-kateksis narsistik yang beroperasi pada fase pra-genital berarti manipulasi dan stimulasi individu pada tubuhnya sendiri demi kepuasan tertentu. Sedang pada fase genital hasrat narsistik tersebut mulai mengalir ke arah yang sebenarnya. Di dorong oleh motif-motif altruistik yang bukan semata “cinta diri”, orang dewasa akhirnya mengarahkan cinta pada obyek yang tepat dan sebenarnya, yakni orang lain&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;. Lacan memiliki penjelasan lintasan perkembangan perversitas pilimorfosis yang berbeda dengan Freud, ia mempertemukan konsep kebutuhan―permintaan―hasrat (need-demand-desire) dengan lintasan fase Yang Real―Yang Imajiner―Yang simbolik. Pada penjelasan kesemua istilah tersebut bahasa memperoleh tempat yang cukup dominan.&lt;br /&gt;Kebutuhan (need) secara sederhana dapat diartikan sebagai kebutuhan secara fisiologis atau dalam makna lain sebagai kebutuhan fisiologis yang dapat tercukupi. Pada bayi manusia, kebutuhan-kebutuhan fisiologis, melalui peran orang-orang terdekat ―terutama ibu― akan senantiasa dapat tercukupi dengan mudah: saat lapar bayi memperoleh ASI, ketika membutuhkan kehangatan bayi mendapat pelukan, dll. Artinya bayi selalu merasakan sesuatu yang penuh, utuh atau tanpa kekurangan, kehilangan dan kekosongan. Pada fase ini bayi belum mengenal bahasa dan belum dapat membedakan antara diri dengan yang liyan (yang lain): bayi masih merasakan bahwa dirinya dan seluruh yang liyan merupakan satu kesatuan. Bayi bagi Freud dan Lacan adalah manusia ―ekstremnya seonggok daging― yang belum terbentuk menjadi individu atau tanpa pemahaman akan dirinya sebagai manusia yang utuh dan terlepas dari yang lain. Yang berdiam dalam bayi hanyalah kebutuhan dan segala pemenuhannya. Fase kebutuhan (need) ini berdiam dalam Yang Real yang merupakan “fase sebelum pikiran”&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt;. Bahasa tidak pernah ada di ruang ini karena tidak ada kehilangan, kekurangan dan ketidaan. Yang ada hanya kepenuhan, titik. Masuknya bahasa adalah keterpecahan bayi. Bayi yang awalnya hanyalah seonggok daging dan tidak mengerti apa-apa, seperti mendapat  kutukan, masuk ke dalam dunia yang telah terlebih dahulu dipenuhi oleh bahasa ―atau dalam pengertian yang sama dapat digunakan istilah diskursus (discourse); yang simbolik. Bayi yang tidak mengerti apa-apa tersebut, oleh manusia dewasa, diberi identitas sebagai manusia. Menggunakan bahasa berarti kehilangan segala sifat kepenuhan, inilah titik awal keterpecahan.&lt;br /&gt;Ketika bayi mulai dapat membedakan dirinya dengan yang selain dirinya ―meskipun pada fase awal ini bayi tetaplah belum memiliki konsep tentang yang liyan secara utuh; bayi belum memiliki kemampuan membedakan secara biner antara diri dan liyan― bayi mulai memasuki tahapan baru, yakni permintaan (demand). Istilah permintaan dalam kosa kata Lacanian memang cukup rumit untuk dipahami dan dijelaskan. Permintaan adalah adalah sesuatu yang tidak dapat ―atau tidak mungkin― terpenuhi.   Saat mulai menyadari akan adanya liyan yang terpisah dari dirinya, bayi seperti ingin kembali kepada keutuhan sebelumnya. Bayi ingin segala tentang yang liyan menghilang. Itulah esensi utama dari permintaan; kembali pada keutuhan. Hal tersebut tentulah mustahil, karena perlahan keliyanan semakin menunjukkan diri dihadapan sang bayi. Bayi akhirnya memulai fase Yang Imanjiner. Fase Yang imajiner tetaplah berada pada titik pra-bahasa dan dikendalikan oleh logika visual bayi.&lt;br /&gt;Dalam Yang Imajiner terjadi fase cermin (stadu de miroir).  Bayi suatu ketika akan menyaksikan bayangan dirinya dalam cermin. Bayangan tersebut, oleh bayi, dikonfrontir dengan keberadaan yang lain seperti ibu atau pengasuh lainnya. Bayi akan melihat citra dalam cermin kemudian melihat ke arah yang lain. Saat itulah bayi mulai menyadari bahwa dirinya adalah eksis dan terpisah dari yang lain, bahkan ibu. Itulah Individuasi. Tapi bayi mengira dirinya yang berada dalam cermin adalah benar-benar dirinya. Citra tersebutlah yang akhirnya diakui sebagai “aku” atau ego. Jadi, ego terbentuk dari kesalahan mempersepsi citra cerminal sebagai aku. Citra tersebut dalam bahasa psikoanalisa disebut sebagai ego ideal. Sebagai citra cerminal, ego ideal tidak akan pernah cocok dengan keadaan individu yang sebenarnya. Ego tidak lain adalah konsep imajiner tentang diri yang utuh, sempurna, nir-kekurangan dan tanpa keyakinan adanya kekurangan di dalamnya. Ego atau aku tersebut akan menjadi selalu “liyan&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt;”, tidak setara dengan ―bahkan bukan―  aku yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Pembentukan citra yang salah pada fase cermin merupakan aleniasi. Aleniasi dalam konsep Lacan selalu melibatkan dua arus berbeda, bayi dan liyan. Bayi adalah yang selalu kalah&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;. Alienasi pertama bayi manusia adalah ketika terjadi kesalahan mempersepsi diri yang menempatkannya sebagai yang liyan bagi dirinya sendiri atau terceburnya bayi ke dalam citra yang salah atau ego ideal. Dalam Yang Imajiner bayi terus akan melakukan identifikasi pelbagai Liyan menggunakan citra yang diperoleh dari cermin. Pengenalan Keliyanan (otherness) semakin meneguhkan pangakuan bahwa citra cerminal  adalah “aku”.  Di sinilah, bagi Lacan diri selalu dilihat dari yang liyan.&lt;br /&gt;Ketika bayi semakin dapat melakukan pembedaan dan proyeksi ide-ide tentang Keliyanan, tataran Yang simbolik dimulai. Bersamaan dengan itu terjadi akuisisi bahasa. Yang simbolik adalah keberadaan “aku” dalam struktur bahasa. Keadaan dimana aku dinyatakan melalui bahasa. Tidak seperti alur perkembangan pervesitas polimorfosis freudian yang runtut, Yang Imajiner dan Yang simbolik tidak memiliki batas yang jelas. Keduanya saling tumpah tindih, saling bermunculan dan koeksis. Di dalam tataran yang simbolik, di sanalah hasrat (desire) berdiam.&lt;br /&gt;Perpisahan dari ibu adalah yang mutlak bagi bayi untuk masuk ke dalam sebuah kebudayaan. Namun perpisahan tersebut menyisakan rasa kehilangan kehilangan yang akan terus bersirkulasi. Ibu merupakan obyek kehilangan yang pertama dan utama bagi bayi. Inilah berbeda dari Freud, ayah yang meretakkan bayi dan ibu dinilai Lacan bukanlah sebagai ayah biologis, melainkan ayah simbolik atau hukum atas―nama―ayah (nom-du-pere / name—of—the—father). Ayah simbolik dapat berupa apapun yang menghalangi atau memisahkan bayi dari ibu. Lacan memang sangat terpengaruh oleh Roman Jakobson. Karena itulah ia menyerupakan kondensasi dan pemindahan ala Freudian dengan konsep metafor dan metonimi&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt;. Untuk itu, sering kali pembacaan atas konsep Lacan harus menggunakan kedua pendekatan linguistik tersebut. Makna ibu dan hubungan dengan ayah penting untuk ditelisik melalui pendekatan metaforis. Kedudukan ibu juga kedudukan yang feminin cenderung menjadi kedudukan Yang Real, sementara ayah akan membangkitkan Yang Simbolik. Bersatunya ibu dan bayi akan memperlambat perkembangan bahasa, yang berarti keterlambatan memasuki tataran Yang simbolik. Ayahlah yang berperan memutuskan  kelekatan  dan penyatuan bayi  dari ibu agar masuk dalam dunia bahasa —Yang Simbolik.  Fungsi metaforis sangat kental dalam alur pemikiran Lacan. Bahkan istilah “cermin” dalam Yang Imajiner juga memiliki fungsi metaforis, yakni “pandangan ibu” yang membuat bayi berkeyakinan bahwa ibu sedang memandang yang lain, yakni bayi itu sendiri. saat itulah bayi mulai merasa adanya keterpisahan ibu dan dirinya.&lt;br /&gt;Hasrat pada dasarnya merupakan keinginan akan kepemilikan identitas. Pada tataran simbolik bayi berkeinginan untuk memiliki identitas lengkap yang disebut “aku”. Ketika tercebur ke dalam dunia bahasa, bayi, mau tidak mau harus tunduk pada aturan sistem penandaan di ruang bahasa. Penanda, intinya beroperasi secara negatif. Sebuah penanda tidak serta merta menunjuk petanda tertentu, melainkan penanda yang lain. Artinya, penanda beroperasi dengan hukum perbedaan. Penanda “ibu” tidak semata menunjukkan adanya ibu —sebagai petanda— melainkan secara berbeda menunjuk adanya ayah. Karena ketundukan pada rotasi dan permainan penandaan inilah, mencapai identitas akan kembali menjadi mustahil. Identitas hanyalah kesemuan yang disebabkan adanya efek penandaan; identitas adalah karya penandan. Keterjebakan dalam bahasa membuat manusia secara tidak sadar masuk dalam lingkaran penanda (circle of signifiers) ini. Konsekuensi logisnya, hasrat tidak dapat menunggangi bahasa, dan bahasalah yang memanipulasi hasrat.&lt;br /&gt;Bentuk lain dari hasrat adalah “keinginan untuk menjadi” sebuah subyek yang utuh, tidak terbelah dan tanpa kekurangan dan penuh dengan pemenuhan. Hasrat ini berarti hasrat kembali pada Yang Real, yang telah menghilang saat akuisisi bahasa. Hasrat untuk kembali pada sesuatu yang tidak mungkin lagi dijelajahi oleh bahasa dan simbol.&lt;br /&gt;Kekurangan (lack) adalah ibu kandung dari hasrat. Secara eksistensial manusia dikendalikan oleh pelbagai rasa kehilangan dan kekurangan. Kehidupan manusia seperti merupakan ajang pencarian pemenuhan akan sesuatu yang kurang. Kekurangan dalam makna yang eksistensial ini tentu tidak akan pernah menjadi penuh atau dapat terpenuhi. Dalam bahasa Lacan, tidak mungkin kembali pada yang Real. Hal ini sangatlah wajar dengan mengingat sumber rasa kekurangan pada manusia. Sumber kekurangan adalah kehilangan “kepenuhan” dalam tataran yang real, sementara didalamnya tidak berdiam bahasa yang mungkin digunakan untuk mengenali  kepenuhan tersebut. Bahasa yang muncul setelahnya, tidak dapat menjangkau ruang Yang Real, sehingga manusia dengan bahasa seperti mengejar “kepenuhan” yang tidak dikenali sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Bagi Freud terdapat dua alasan kuat atas penolakan atas cara pandang psikoanalisis, yakni kesulitan menerima pandangan  atas adanya determinisme ketat dan menyeluruh dalam hidup psikis dan ketidaktahuan sebagian besar orang tentang sifat-sifat khusus yang membedakan proses-proses psikis tidak sadar dengan pelbagai proses sadar yang terbiasa dalam kehidupan manusia. Lihat Ceramah Ke lima Freud dalam Psikoanalisis Sigmund Freud. Terj Karl Bertens. Gramedia Pustaka: 2006. Hal  96&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Titus, Smith dan Nolan, Persoalan-persoalan Filsafat. Terj HM. Rasjidi. Jakarta. Bulan Bintang: 1984. hal 78&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Menghadapi adagium cartesian, Lacan menyatakan “Je ne suis pas, lá où je suis le jouet de ma pensee; je pense à ce que je suis, là où je ne pense pas penser.” (I am not, there where I am the plaything of my tought; I think about what I am, there where I do not think that I am thingking). Subjek Cogito yang sadar bagi Lacan di dorong oleh ruang ketidaksadaran yang dapat saja berkata “aku berpikir” atau “aku..”. Lihat Jaques Lacan. The Language of the Self , the Fuction of Language in Psychoanalisys. Dalam komentar penerjemah oleh Anthoni  Wilden. New York. Delta Book: 1968. hal 183&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Cogito merujuk pada ego yang disebut oleh Lacan sebagai “false being”. Lihat Bruce Fink, The Lacanian Subject, Between Language and Jouissance. New Jersey. Priceton University. Hal 42-44.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Jujun S. Suriamantri, Ilmu dalam Perpektif, Sebuah  Kumpulan Karangan Tentang Hakekat  Ilmu, cet ke xvi.  Jakarta. Yayasan Obor Indonesia: 2003. hal 6. Lihat pula Titus, Smith dan Nolan, Persoalan-persoalan Filsafat. Terj HM. Rasjidi. Jakarta. Bulan Bintang: 1984. hal 234.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Hal tersebut dipersulit dengan sikap Lacan yang tidak tertarik menuliskan pemikirannya. Beberapa ceramah ilmiah Lacan baru diterbitkan setelah kematiannya, selebihnya sebatas catatan-catatan tidak resmi dari seminar-seminarnya. Lacan mencela publikasi dengan menyebutnya sebagai poubellication (bahasa perancis), dari kata poubelle yang berarti keranjang sampah. Lihat  Philip Hill, Lacan Untuk Pemula, terj. A. Widyamartaya. Yogyakarta. Kanisius: 2002. hal 7&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Lihat Antony Wilden,.. Hal 159-160.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Bruce Fink,..hal 36-37&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Muhammad Alfayyadl. Derrida,  Cet ke-2 .Yogyakarta, LKiS. 2006. hal 123&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Dalam seminar ke XXIII Lacan menyebutkan bahwa subjek bukanlah seperti yang dikira. Artinya subyek tidak pernah lebih dari sekedar asumsi dalam diri kita. Subjek bukan merupakan sesuatu yang kita sebut sebagai subjek yang sadar seperti yang berkembang dalam filosofi Anglo-Amerika. Lacan menggunakan lambang “S” dengan palang yang melintang ditengahnya ($) untuk menyebut subjek yang menunjukkan bahwa subjek senantiasa dalam kondisi terbelah. Artinya, selalu ada yang menghalangi subyek untuk mencapai apa yang dikehendaki atau menjadi utuh. Lihat Bruce Fink,..hal 35.  Lihat pula Philip hal,..hal 33&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Istilah tanda (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified) kesemuanya merupakan istilah yang terlahir dan berkembang di ranah semiotika. Tanda dalam pandangan strukturalisme Saussurean merupakan entitas psikolgis yang bersisi-dua, terdiri dari unsur penanda (berupa citra atau bunyi) dan petanda (“sesuatu yang ditandai”  atau sebuah konsep).  Kedua elemen tersebut menyatu dan saling bergantung satu sama lain. Kombinasi keduanya (antara penanda dan petanda) inilah yang kemudian menghasilkan sebuah tanda. Penanda merupakan aspek sensoris dari tanda-tanda, yang dalam bahasa lisan berwujud citra bunyi atau citra akustik yang berkaitan dengan konsep (petanda) tertentu. Substansinya senantiasa bersifat material seperti bunyi, objek-objek, tulisan, dll. Sedikit berbeda dengan konsep Saussure tersebut, Lacan, sebagaimana Roland Barthes, menolak anggitan relasi antara penanda dan petanda. Bagi keduanya penanda beroperasi secara bebas. Dalam kosakata Lacan penanda berarti kata atau lambang. Lihat Lihat Kris  Budiman. Kosa Semiotika. Yogyakarta. LKiS, 2006. hal 115 dan 93&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Istilah semiologi merupakan istilah yang digunakan oleh Fendinand De Saussure untuk menunjuk sebuah ilmu umum tentang tanda. Dalam definisi Saussure semiologi merupakan ilmu yang secara khusus mengkaji kehidupan tanda-tanda dalam masyarakat, dengan demikian menjadi sebuah bagian dari psikologi sosial. Namun pada perkembangannya, penggunaan istilah semiologi semakin jarang digunakan, digantikan oleh istilah semiotika yang lebih populer. Istilah ini tetap oleh tokoh-tokoh tertentu di Perancis yang ingin membedakan bentuk pemikiran mereka dengan pemikiran semiotika yang berkembang di Amerika dan Italia. Ibid. hal 107-108&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Lihat penjelasan istilah ini dalam Jhon Lechte. 50 Filsuf Kontemporer, dari Strukturalisme sampai Posmodernitas, terj Gunawan Admiranto. Yogyakarta. Kanisius, 2001. hal 115. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Calvin, S. Hall dan Gardner Lindzey. Teori-teori Psikodinamik (Klinis), terj. Yustinus. Yogyakarta. Kanisius, 1993. hal 90-96&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Bruce Fink,..hal 25&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Lacan mempergunakan kata liyan (other) dalam berbagai bentuk yang berbeda yang mempersulit pemahaman atas makna kata tersebut. Cara termudah memahami liyan adalah sesuatu yang selain aku. Tapi dalam tahapan cermin liyan dapat menjadi aku. Liyan adalah aku. Citra dalam cermin bagaimanapun adalah selain aku yang diintrodusir sebagai aku. Liyan sebagai aku disebut liyan (dengan huruf Lacan kecil ―other) yang berbeda dengan Liyan (dengan huruf l besar―Other) yang berarti liyan-liyan selain “aku” yang  liyan. Liyan (L―mOther) dapat berarti ibu, ayah atau liyan-liyan lain yang eksis di luar liyan.  &lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Bruce Fink,..49-50&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Metafora dalam pandangan Roman Jakobson berarti segala yang mengacu pada penggantian kata yang harfiah dengan kata lain  yang figuratif. Penggantian kata secara metaforis lebih bersifat analogis. Metonimi merupakan pertautan kata per kata. Penggantian metonimik dapat terjadi berdasarkan hubungan asosiatif antara kata yang harfiah dengan penggantinya. Hal-hal yang berhubungan secara logis (sebab akibat-kausalitas), keseluruhan dan bagian, atau yang dapat diketemukan dalam konteksnya yang familiar, kesemuanya membangun hubungan yang metonimik antara satu dengan yang lainnya. Lihat Kris Budiman,..hal 73-74&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-3483949093177789094?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/3483949093177789094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=3483949093177789094' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/3483949093177789094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/3483949093177789094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/04/mengenal-psikoanalisa-lacanian.html' title='Mengenal Psikoanalisa Lacanian'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-1706625016878156270</id><published>2008-04-28T01:30:00.001-07:00</published><updated>2008-12-12T06:14:40.066-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Lelaki berkepala Anjing</title><content type='html'>Oleh : Muhammad Irsyadul Ibad, Sy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutahu namanya sebelum gempa merusak hampir setengah kotaku. Tapi setelah kejadian itu ia menjadi semakin terkenal. Seperti goncangan gempa yang sekejap menghapus rumah-rumah dari peta satelit, seperti itu ia menjadi sangat terkenal. Para penduduk kampung tempat ia tinggal dan kampung sekitarnya sangat mengidolakan lelaki berusia 40 tahunan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali aku bertemu dengannya ketika ia menjadi penceramah di malam penutupan pelatihan organisasiku di kampus. Saat itu ratusan mata perserta pelatihan dan penduduk tempat kegiatan tertuju padanya. Tak terkecuali aku. Ia tampil sangat atraktif sambil membawakan pesan-pesan agama. Bagiku, mungkin juga bagi sebagian penduduk ini adalah gaya baru pengajian. Penceramah tidak hanya duduk menghadap buku “contekan” materi pengajian, lebih dari itu, ia mampu berakting cukup baik. Sesekali berdiri dari kursi mendekati para pendengar dan membawakan cerita-cerita yang menggelitik. Aku yang jenuh dengan kebanyakan gaya pengajian ikut terhipnotis dan enggan melewtkan pengajian satu itu. Bahkan ketika perutku terasa sakit karena menahan kencing tetap kupaksakan tak beranjak sedikitpun dari kursi. Pikirku, kencing bisa nanti kulakukan, tapi pengajian ini belum tentu nanti dapat kusaksikan.&lt;br /&gt;Pengajian itu memberi kesan dalam kepadaku. Sampai ketika aku bertemu seorang kawan yang memintanya menjadi penceramah acara itu, tak kulewatkan kesempatan bertanya kepadanya. Aku sangat ingin tahu tentang orang itu. Kekagumanku tak terbendung sampai kulewatkan malam mendengar kisahnya dari kawanku yang penuh gairah bercerita.&lt;br /&gt;Dari kawan itu kutahu ia biasa dipanggil abah. Wah, gelar yang tak asing di telingaku. Panggilan yang ditujukan kepada orang yang dituakan dan dianggap alim beragama. Bukan main. Kekagumanku bertambah. Apalagi setelah kawanku bercerita tentang kemampuannya membaca pikiran orang lain. “Hati-hati jika kau ke sana sementara hatimu tidak bersih, aku khawatir segala keburukanmu pasti akan terkuak” tegasnya begitu bersemangat. “Jangan pula kau mencoba berniat buruk apapun, jika itu kau lakukan biasanya ia akan memintamu pergi”&lt;br /&gt;Kawanku itu juga bercerita tentang kesalihan Abah. Katanya, Abah adalah orang yang rajin bersembahyang tahajjud serta ibadah sunnah lainnya. Ibadah wajibnya pun sangatlah tertib. Ia tidak pernah mau menerima barang-abarang syubhat. Ia rajin berpuasa dan rajin memberi ceramah di masyarakat bahkan sampai ke pelosok kampung. Ia adalah panutan yang baik. Menurut kawanku satu ini pula, bahwa Abah adalah tokoh yang pantas untuk menjadi contoh di saat banyak pimpinan agama tergiur oleh gemerlap dunia. Abah sangat sabar, pandai berbicara dan jujur. Bahkan istrinya pun sering bercerita kepada kawanku tentang kejujuran Abah sejak masa mudanya.&lt;br /&gt;Berbagai cerita itu kupercaya begitu saja. Bagaimanapun aku belum pernah berbicara langsung kepadanya. Mendengar ceramahnya saat acara penutupan kegiatan pelatihan organisasi itu adalah pertama kali aku mendengar suaranya, setelah itu entah kapan lagi. Aku tak tahu. Tapi aku benar-benar merasa harus mempercayai kawanku. Ia selama ini dikenal dekat dengan Abah, bahkan dapat disebut sebagai orang terdekatnya. Selain itu, performa Abah dan gaya bahasa saat membawakan ceramah benar-benar menyulapku. Jika mengingat cara ia membaca ayat-ayat kitab suci dengan begitu fasih dan merdu membuatku tak memiliki pilihan lain selain mempercayai kawanku itu.&lt;br /&gt;Kekagumanku semakin tak terkendali mulai saat itu. Tapi setiap kali bepikir untuk menemuinya, selalu saja aku merasa tidak percaya diri. Aku merasa seperti orang kotor yang bergelimang dosa. Aku takut jika nanti keburukan-keburukan masa laluku terkuak sementara aku belum siap untuk menyadarinya diketahui orang lain. Akhirnya kuputuskan untuk mengidolakannya dari kejauhan. Dari cerita teman-temanku yang semakin banyak menjadi oranng dekatnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Enam bulan setelah pengajian abah yang kukagumi itu. Suatu malam, setelah jenuh mengerjakan tumpukan tugas kuliah, kukunjungi warung angkringan&lt;a class="sdfootnoteanc" title="sdfootnote1anc" href="http://kabartersiar.wordpress.com/category/cerpen/#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt; langganan yang tak jauh dari tepat tinggalku. Aku memang biasa ke tempat ini, apalagi jika sedang menghadapi masalah pelik yang tak bisa kuputuskan dengan tergesa-gesa. Memang pedagang nasi kucing&lt;a class="sdfootnoteanc" title="sdfootnote2anc" href="http://kabartersiar.wordpress.com/category/cerpen/#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"&gt;2&lt;/a&gt; ini tidak bisa secara langsung memberi solusi untuk masalah-masalahku. Aku hanya suka pada keramahan dan kata-kata bijak yang sering terlontar darinya.&lt;br /&gt;Seperti biasa, obrolan kami sangat hangat. Ditemani tembang-tembang Jawa dari radio butut, kureguk teh jahe dari cangkir kaleng yang tampak sudah saatnya diganti. Malam itu, Mang Karim –begitu biasanya aku memanggil tukang angkringan ini- bercerita kepadaku tentang arti kesederhanaan. Baginya, hidup seadanya seperti yang ia jalani jauh lebih baik tinimbang hidup berlimpah harta dari hasil kejahatan apapun. “Mas, Barang titik iku lek halal luwih apik timbangane barang karom sing akeh” ia menceramahiku. “sejatine, mangan ayam karom iku pada karo mangan belatung. ora berkah mas. Lan wong sing mangan barang karom iku, biasane sirahe dadi endas kirik”&lt;br /&gt;Aku hanya tertawa mendengar kalimat terakhir Mang Karim. Kukira ia pasti bercanda. Bagaimana mungkin seseorang di dunia nyata bisa berkepala anjing. Mustahil. Itu hanya akan terjadi di film-film misteri yang bercerita siluman atau mutan. Tapi cerita lelaki sebaya kakekku ini tidak berhenti di sana. Inilah yang paling kusuka dari Mang Karim, ia selalu punya sesuatu yang belum pernah kudengar. Kali ini Mang Karim meyakinkanku tentang hakikat perbuatan manusia. Segala kebajikan akan kembali kepada setiap pelakunya, begitupun kejahatan. Mungkin tiap orang bisa menyembunyikan keburukan perangainya tapi Tuhan mboten sare, Ia akan membalas sesuai ukuran perbuatan manusia. Katanya, manusia itu hanya bisa menilai kelakuan segala yang tampak, jadi setiap orang berkemungkinan bersandiwara agar dinilai baik oleh orang lain. Di balik segala kelakuan, ada kesejatian tersembunyi. Nah, kesejatian itulah, menurut Mang Karim, yang harus dijaga agar tidak terjerumus pada kesejatian yang tidak dikehendaki Tuhan.&lt;br /&gt;Sebetulnya aku bingung mendengar cerita Mang Karim malam ini. Cerita kesejatian hidup ini pertama kali kudengar darinya. bagiku selama ini, mengerjakan ibadah adalah melepas segala kewajiban agama dan aku tak pernah peduli atas kesejatian apapun. Jika aku sudah beribadah, logisnya, aku akan menerima ganjaran pahala dan memiliki kemungkinan besar menempati firdaus hadiah dari Tuhan. Tapi Mang Karim membentakku saat kuutarakan hal ini semua. Katanya, belumlah tentu yang tampak baik adalah kebaikan. bisa jadi sesuatu yang kita anggap baik sebenarnya adalah keburukan, kejahatan atau jenis-jenis yang sebenarnya tidak dikehendaki Tuhan.&lt;br /&gt;Berbagai pertanyaan masih mengganjal di kepalaku. Jangan-jangan, aku mulai mencurigai, segala pekerjaan beragamaku selama ini adalah sia-sia. Sudahlah, Kuputuskan beranjak dari angkringan itu sebelum kepalaku bertambah pusing karena jejalan cerita Mang Karim. Ya, aku meraa tidak siap mendengar perkataan Mang Karim yang satu ini.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sehari setelah gempa meluluhkan kotaku, aku mendaftarkan diri menjadi relawan kemanusiaan di sebuah posko yang tak jauh dari kontrakanku. Menangani korban bencana alam adalah pengalaman pertama. Mungkin itulah yang membuatku sangat bersemangat mengerjakan hampir segala pekerjaan yang ditugaskan pimpinan posko kepadaku. Tak tanggung-tangung, mulai menjadi supir, pengangkat barang, pemandu tamu bahkan tugas-tugas kesekretariatan kulakukan dengan bersemangat. Kupikir inilah saat yang tepat mengabdikan diriku untuk orang lain yang membutuhkan pertolongan. Kalau tidak sekarang kapan lagi kudapat kesempatan seperti ini.&lt;br /&gt;Seminggu pertama setelah gempa adalah yang tersulit, bagiku juga bagi rekan-rekan kerjaku di posko. Kami harus mengirimkan barang-barang bantuan para donatur kepada para korban yang terletak di daerah pelosok dan tempat-tempat terisolir. Dalam kondisi yang tidak menentu kami harus memasuki kampung-kampung yang luluh lantah. Bahan makanan, obat-obatan dan tenda harus segera sampai di tangan penduduk yang kehilangan rumah mereka. Sementara di tengah jalan, sebelum sampai di kampung tujuan terkadang kami harus menghadapi hadangan masyarakat di jalan utama menuju tujuan yang juga meminta bantuan. Kami harus maklum, kondisi seperti ini membuat setiap orang harus berpikir tentang dirinya atau orang-orang terdekatnya. Kondisi yang sangat manusiawi tentunya.&lt;br /&gt;Di pelosok-pelosok kampung, kulihat mata-mata yang penuh ketegangan. Mata yang mengalami luka dalam yang mungkin sulit terobati. Ibu-ibu yang kehilangan anak mereka, para penduduk yang kehilangan rumah dan anak-anak yang kebingungan mencari naungan dan perlindungan. Tapi kulihat cahaya ketegaran di mata mereka. Mereka yang terbiasa menghadapi kehidupan sederhana tidak akan terlalu terpuruk akibat kejadian ini. Mata mereka memancarkan sinar harapan yang jauh menembus waktu dan berani bersitatap dengan kejadian tak terduga yang mereka hadapi. Berbeda dengan mata-mata yang sering kulihat di televisi. Mata limbung yang penuh sandiwara menjanjikan berbagai hal. Mata yang bersembunyi di balik cara berbicara.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dalam sebuah kesempatan aku bertemu dengan kawan lamaku di sebuah forum lembaga-lembaga donor. Ia mengingatkan pada sosok Abah yang dulu diceritakannya. Kabarnya saat ini ia bergabung dengan posko Abah untuk membantu korban bencana alam. Ceritanya tentang Abah masih seperti dulu, menyentuh langit-langit kamar dan keluar ventilasi mencari ruang tertinggi di udara. Aku seperti mendengar cerita superhero yang datang ketika orang-orang membutuhkan.&lt;br /&gt;Kekagumanku yang belum hilang entang sosok Abah membuatku setia mendengarkan setiap cerita tentangnya. Segala kebaikan Abah yang dulu kudengar dari mulut yang sama, bertambah dengan cerita Abah mencukupi segala kebutuhan pengungsi korban bencana. Abah, menurut temanku, saat ini benar-benar menghabiskan waktunya menemani korban bencana alam. Ia membuat tenda belajar anak-anak, menyalurkan bahan makanan dan obat-obatan dan setia mendampingi masyarakat menagih janji-janji pemerintah untuk para korban. “Abah memang orang yang hidup untuk orang lain” tukas kawanku tegas.&lt;br /&gt;Saat ini Abah di mataku benar-benar menjadi sosok ideal yang kucari. Segala ketidakpercayaan diri untuk bertemu yang dulu sering muncul saat kuberpikir menemuinya, berganti dengan gebu keinginan berguru padanya. Inilah sosok yang kubutuhkan, pikirku. Aku mereka-reka waktu yang tepat untuk dapat menemuinya dan menyatakan keinginanku berguru. Segala sangsi dan ketidakpercayaan diri kubuang jauh-jauh. Aku hanya punya satu kepentingan kepada Abah saat ini. Berguru.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Tiga minggu berlalu. Sosok ideal Abah masih menggantung di kepalaku. Aku seperi dikejar-kejar hutang untuk menmui idolaku ini. Sampai ketika aku mendapat kepercayaan pimpinan posko untuk menangani program pendampingan anak-anak, aku berniat tak membuang peluang ini untuk menjalin kerjasama dengan komunitas Abah. Pimpinan posko yang memberiku kesempatan malaksanakan program bekerjasama dengan lembaga lokal atau organisasi di kampung tertentu, membuka peluangku untuk dekat dengan Abah. Pikirku aku bisa lebih mengenal Abah jika berada di dekatnya.&lt;br /&gt;Kuhubungi ponsel kawanku dan menyampaikan keinginan bekerjasama dengan komunitas yang dipimpin oleh Abah. Tak salah memang, ternyata ia orang yang dipercaya Abah untuk menangani operasional lapangan. Jalan semakin mudah, aku menduga. Setdaknya aku memiliki jalan langsung untuk lebih intim dengan Abah. kawanku menyarankan untuk langsung mendatangi posko utama Abah.&lt;br /&gt;Seperti laki-laki yang menunggu jawaban perempuan yang dicintai, hatiku berdebar membayangkan pertemuanku dengan Abah. Aku salang tingkah. Takut dan cemas bercampur menyadari sebentar lagi aku akan menemui seorang laki-laki suci. Beberapa kali kucoba menenangkan pikiranku. Kutarik nafasku dalam-dalam. Kuhabiskan sebotol air mineral sebelum menyalakan mesin motorku. Aku berharap bisa tenang setelah itu.&lt;br /&gt;Kupacu sepeda motorku pelan karena ketegangan masih menyelimuti pikiranku. Uh, ternyata menemui orang suci memang lebih berat dari menyatakan cinta kepada seorang wanita. Dan peluh membungkus tubuhku yang sebenarnya gigil.&lt;br /&gt;Seratus meter sebelum belokan masuk ke gang sempit sudah kulihat spanduk bertuliskan nama komunitas itu. Jantungku memacu darah lebih kencang. Mataku berkunang-kunang. Ketegangan semakin merata di tubuhku. Ketakutan hebat yang belum pernah kurasa. Ada keinginan berbalik arah dan mengurungkan niat menemui Abah. Tapi segera kutepis niat itu, kapan lagi aku berkesempatan menemuinya. Dan ini menyangkut program posko yang menjadi tanggung jawabku.&lt;br /&gt;Lima belas meter sebelum halaman rumah putih mungil itu kulihat suasana cukup ramai. Anak-anak muda seusiaku duduk di teras rumah dan tampak asyik membicarakan sesuatu. Ada yang sambil bermain gitar, memegang buku, adapula yang sibuk memelototi mesin kalkulator. Di sana-sini kulihat tumpukan kardus dan karung. Dapat kupastikan bahwa itu semua adalah bantuan yang akan disalurkan oleh posko ini. Kawanku melambaikan tangan, menyambutku saat melihat aku muncul dari ujung gang. Tapi manakah di antara orang-orang yang duduk di teras itu yang dipanggil Abah?&lt;br /&gt;Sang kawan mempersilahkanku duduk dan memperkenalkan kepada teman-temannya. Sambutan hangat kuterima dengan senyum balasan yang tak kalah hangat. Aku harus menyembunyikan ketegangan yang mengendap dalam pikiran. Setengah berbisik, kutanyakan kepada kawan itu di manakah gerangan Abah yang kukagumi itu. Ia tersenyum, berdiri kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.&lt;br /&gt;Jantungku semakin berdebar. Keringat tak terbendung mengucur dari pori-pori kulitku yang hitam. Kudengar suara terompah menuju teras dari dalam rumah. Aku semakin salah tingkah saat kulihat kawanku muncul dari pintu bersama seorang laki-laki.&lt;br /&gt;“Bang, ini Abah” ujar kawanku&lt;br /&gt;Tubuhku gigil tak terkendali. Ketakutan lebih besar lebih besar dari sebelumnya kurasakan. Perutku mulas dan tiba-tiba migran menyentak di kepala bagian belakang. Aku tak kuat. Berdiri lalu berlari ke arah sepeda motorku. Mata-mata di teras memandangku heran. Aku tak peduli. Kunyalakan mesin motorku dan memacunya secepat mungkin. Aku sudah tak peduli pada semua yang duduk di teras rumah Abah. Sempat kudengar suara kawanku memanggil. Aku sudah tak peduli.&lt;br /&gt;Sepeti kesetanan kupacu motor sangat cepat. Ketakutan itu tak bisa kendapkan bigitu saja. Tiba-tiba seorang yang menggendong bayi menyeberang jalan. Tubuhku lemas. Tak berkutik menghadapi sesuatu yang sungguh tak kunyana ini, kubanting stang motorku ke sisi jalan. Tersadar, pohon asam jawa ada lurus di depanku. Sudah tak waktu untuk menghindar. Brakk. Suara keras terdengar. Aku tak lagi sadarkan diri.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Saat mataku terbuka kusadari aku berada di kasur empuk rumah sakit. Kakiku patah dan kepalaku berbalut perban. Teman-temanku berdiri mengitari ranjang. Sekonyong-konyong apa yang baru saja terjadi kembali dalam ingatanku. Tubuhku kembali gemetar.&lt;br /&gt;“Aku Tak kuat lagi,” teriakku.&lt;br /&gt;Suasana hening sejenak. Tubuhku yangterus meronta memaksa temanku memeganginya. Gerakku mereda.&lt;br /&gt;“Ada apa mas?” pacarku mendekatkan telinga ke bibirku berharap akan mendapat penjelasan.&lt;br /&gt;“Laki-laki suci itu, laki-laki suci itu berkepala anjing” bisikku gemetar.&lt;br /&gt;Semua terdiam. Tubuhku masih gemetar meski tak meronta lagi. Dari jendela kaca, kulihat Mang Karim tersenyum kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 10 Agustus 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Syubhat, sesuatu yang diragukan status kehalalan atau keharamannya&lt;br /&gt;Angkringan: Warung Nasi bergerobak khas Yogyakarta yang biasanya hanya ada di malam hari&lt;br /&gt;Nasi kucing: sebutan untuk nasi dalam bungkusan kecil yang berlauk sambal atau samabl goreng yang merupakan ciri khas angkringan&lt;br /&gt;Barang titik iku lek halal luwih apik timbangane barang karom sing akeh: harta sedikit yang halal itu dari pada harta tumpukan harta yang haram&lt;br /&gt;sejatine, mangan ayam karom iku pada karo mangan belatung. ora berkah mas. Lan wong sing mangan barang karom iku, biasane sirahe dadi endas kirik: seungguhnya, makan daiging ayam yang haram itu sama dengan makan belatung, dan orang yang memakan barang haram biasanya berkepala anjing.&lt;br /&gt;Gusti Mboten sare: Tuhan tidak tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" title="sdfootnote1sym" href="http://kabartersiar.wordpress.com/category/cerpen/#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym"&gt;1&lt;/a&gt; Angkringan, warung nasi bergerobak khas Yogya yang bisasanya hanya ada di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;a class="sdfootnotesym" title="sdfootnote2sym" href="http://kabartersiar.wordpress.com/category/cerpen/#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym"&gt;2&lt;/a&gt; Nasi Kucing, nasi dalam bungkusan kecil dengan harga murah berlauk sambal atau sambal goreng kering yang menjadi sajian khas angkringan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-1706625016878156270?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/1706625016878156270/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=1706625016878156270' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/1706625016878156270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/1706625016878156270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/04/lelaki-berkepala-anjing.html' title='Lelaki berkepala Anjing'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-4414935599215206555</id><published>2008-04-28T01:26:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T06:14:55.609-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Experiences reflection'/><title type='text'>Mengenang Kang Zaenal Arifin Thoha</title><content type='html'>Genap satu tahun Kang Zaenal Afin Thoha menemui sang Khalik. Genap satu tahun pula sekian banyak orang dari berbagai latar belakang berbeda kehilangan satu tokoh penting yang cukup menjadi panutan. Kalangan pesantren, santri, penulis dan penyair mungkin adalah beberapa kelompok yang paling merasakan kehilangan atas keberangkatan Kang Zaenal menemui sang Khalik. Tapi saya yakin masih masih lebih banyak yang merasakan kehilangan beliau tinimbang jumlah yang diperkirakan dengan kategori sederhana tersebut.&lt;br /&gt;Saya secara pribadi mungkin hanya beberapa kali saja bertemu dengan Kang Zaenal. Namun saya lebih banyak tahu tentang beliau dari beberapa santrinya. Saya juga mendengar cerita tantang Tokoh satu ini dari beberapa teman yang secara intens maupun kadang-kadang bertemu dengan Kang Zaenal. Selebihnya, tulisan Kang Zaenal adalah cara lain untuk memahaminya. Tapi sekali lagi potrait dalam tulisan dan cerita —saya yakin— tidak cukup untuk menggambarkan seorang Zaenal Arifin Thoha.&lt;br /&gt;Pertemuan pertama dengan sosok satu ini saya rasakan sangat berkesan. Setidaknya ada beberapa alasan. Pertama, saya adalah orang yang pernah menjadi notulen untuk sebuah diskusi yang dibimbing oleh Kang Zaenal. Diskusi itu singkatnya berbicara tentang kesenian. Sebagai notulen tentu saya berkewajiban mencatat keseluruhan proses dan pembicaraan Kang Zaenal dalam diskusi tersebut. Saat itulah pertama saya mengenal Kang Zaenal. Catatan terpenting saya atas pembicaraan Kang Zaenal adalah arti penting penghayatan dalam proses berkesenian. Penghayatan dalam kosa kata Kang Zaenal memunculkan kemungkinan adanya spiritualitas dalam permenungan seni. Di sisi inilah saya menangkap keinginan untuk menyatakan seni sebagai sebuah proses spiritual dan menuju yang spiritual. Ini justeru bertolak belakang dengan banyak pendapat ulama umumnya tentang kesenian. Bagi sebagaian ulama kesenian sering bermakna negatif sebagai sebuah malahy atau persoalan yang cederung menimbulkan kelalaian. Berbeda dengan mereka, Kang Zaenal menegaskan seni memiliki misi suci untuk menemukan diri dan yang spiritual dalam kontempelasinya. Kedua, saya merasa banyak harus belajar dari prinsip-prinsip pendidikan yang diajarkan oleh Kang Zaenal. Bagi para santri mungkin sudah tidak asing bahwa Kang Zaenal menganjurkan mereka untuk terlepas dari pembiayaan orang tua. Kang Zaenal di sini sedang menerapkan sebuah pendidikan yang utuh saya kira. Pendidikan tentang hidup. Hidup yang harus dinyatakan dan diperjuangkan, tidak sekedar dijadikan permbicaraan. Kang Zaenal mengajarkan arti penting kemandirian dalam sebuah arena pendidikan. Di tengah kecenderungan berbeda pada dunia pendidikan kita yang membuat para mahasiswa sangat tergantung pada dosen-dosen mereka dan murid-murid kepada guru-guru, Kang Zaenal mengajarkan kemandirian sebagai sesuatu yang harus dipelajari. Kang Zaenal seperti tengah mengajarkan para pencari ilmu untuk dapat melepaskan diri dari ketergantungan-ketergantungan yang sering membuat orang lupa akan tanggung jawab yang sebenarnya dimiliki oleh individu masing-masing. Ketiga, saya menangkap adanya spirit untuk mengajarkan arti tanggung jawab melalui sebuah pendekatan yang sehari-hari. Pendekatan reflektif dalam bahasa mudah untuk dikunyah dan dipahami. Bagi Kang Zaenal tanggung jawab harus ditegakkan bahkan dari batasan yang paling kecil yakni diri masing-masing.&lt;br /&gt;Kang Zaenal dapat diibaratkan sebuah buku. Mungkin kini kita tidak sedang memegang buku itu lagi. Tapi kita masih memiliki beberapa catatan kecil tentang keteladanan beliau. Catatan itulah yang masih sering harus dibuka-buka kembali. Kita butuh semangat untuk mempelajarai catatan-catatan terserak tersebut untuk menemukan mutiara-mutiara hidup yang mungkin belum sempat ditemukan dalam penyelaman kedalaman buku yang berjudul Zaenal Arifin Thoha. Selamat Jalan. Istirahlah. Tuhan Mengasihi. Amin.&lt;br /&gt;Ditulis sebagai permintaan maaf atas ketidakhadiran dalam ruwatan satu tahu mendiang almarhum Zaenal Arifin Thoha.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-4414935599215206555?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/4414935599215206555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=4414935599215206555' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/4414935599215206555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/4414935599215206555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/04/mengenang-kang-zaenal-arifin-thoha.html' title='Mengenang Kang Zaenal Arifin Thoha'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-1378373992178408909</id><published>2008-04-28T01:25:00.001-07:00</published><updated>2008-12-12T06:15:32.036-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Experiences reflection'/><title type='text'>Benarkah Segala Penafsiran Kita?</title><content type='html'>Muhammad Irsyadul Ibad, Sy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bicara cinta&lt;br /&gt;Atas nama Tuhannya&lt;br /&gt;Sambil menyiksa&lt;br /&gt;Membunuh berdasarkan keyakinan mereka&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Iwan Fals, Cinta dinyanyikan dalam album Kentata Revolvere)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu setelah dikejutkan rentetan aksi terorisme yang menelan ribuan korban, kita dibuat begitu merasa keheranan dengan sikap para pelaku yang tidak mengisyaratkan sedikitpun bentuk penyesalan. Katanya, mereka telah melakukan sebuah tuntunan agama untuk membela kepentingannya. Sesuatu yang harus dijawab kemudian, benarkah agama memberi jalan untuk kebenaran yang menelan korban? Benarkah kebenaran harus selalu menelan korban?&lt;br /&gt;Mungkin bagi beberapa orang, aksi terorisme merupakan sebuah jalan untuk berjihad. Di lain sisi, lain bagi segenap kelurga korban tak berdosa, entah bagaimana harus memberi penilaian terhadap sesuatu yang disebut sebagai perjuangan agama tersebut. Di antara para korban beberapa di antaranya hanyalah pengais rizki yang tidak terkait apapun dengan sasaran aksi teror. Entah siapa yang berada dalam posisi syahid, mereka yang menjadi korban atau yang rela mengorbankan diri membunuh mereka.&lt;br /&gt;Mencoba mengurai benang kusut, istilah syahid dan jihad yang digunakan sebagai alasan aksi terorisme merupakan sebuah penafsiran. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menemukan pelbagai penafsiran lain yang beragam tentang aspek-aspek hidup kita. Satu penafisran lebih sering menampakkan wajah berbeda dengan yang lain, manakah di antara sekian banyak penafsiran yang dapat diterima sebagai kebenaran?&lt;br /&gt;Pada Zaman khalifah Abu Bakar, Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah, seorang sahabat yang disebut-sebut oleh Nabi sebagai salah seorang penghuni surga. Setelah membunuhnya, Khalid bin Walid menikahi Istri Nuwairah yang terkenal sangat cantk. Saat itu, Umar bin Khattab r.a meminta khalifah untuk menjatuhkan rajam kepada Khalid karena dinilai telah melakukan perzinahan, mengingat dia menikahi istri Nuwairah pada masa iddahnya. Bagi Abu Bakar, Khalid bin Walid tidak perlu mendapatkan hukuman. Kesalahan Khalid hanyalah dalam menta’wil ayat al-Qur’an sehingga baginya ayat yang menjelaskan perihal iddah tidak berlaku pada saat peperangan terjadi. Bagi Abu Bakar Khalid telah berupaya mentakwil dan salah. Ta’walla wa akhta’a. Selain itu, Abu Bakar juga menilai pembunuhan Malik bin Nuwairah juga merupakan upaya ta’wil yang dilakukan oleh Khalid bin Walid. Ia beranggapan bahwa orang-orang yang menolak untuk membayar zakat kepada Abu Bakar adalah kafir, sementara salahkah jika Malik ternyata membagikan zakatnya kepada orang-orang di sekitarnya, tidak kepada Abu Bakar?&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Pada persoalan lain, Syaikh Nuh Al-Hanafi pernah mengeluarkan fatwa tentang kafirnya kaum Syi’ah, adanya kewajiban untuk memerangi golongan ini, penghalalan pembunuhan terhadap mereka dan menawan anak-anak serta wanita-wanita dari golongan Syi’ah. Bahkan fatwa ini berlaku bagi kaum Syi’ah yang telah atau sudah bertaubat. Persoalan kafir atau tidaknya seseorang adalah persoalan yang seharusnya disikapi dengan sangat hati-hati, dan lebih baik menundanya (arja’a) sampai pada mahkamah penghakiman akbar.&lt;br /&gt;Pada kasus pertama, persoalan ta’wil seperti menjadi sangat remeh, kesalahan ta’wil yang menelan korban begitu saja dapat dilepaskan dari jerat hukum ketika menganggap sang pelaku memiliki hak untuk melakukannya (ta’wil). Pada yang kedua, ta’wil terhadap ayat dan hadist menjadi satu-satunya penentu yang berhak untuk menentukan bolah tidaknya ta’wil-ta’wil lain untuk hidup. Benarkah setiap orang telah kehilangan hak menta’wil, atau dapatkah dibenarkan jika satu ta’wil akhirnya menjadi sebuah alasan untuk mematikan ta’wil lainnya? Dalam konteks keduanya, terlebih pada segala yang bersifat furu’iyyah, penafsiran bersifat relatif dan beragam sehingga satu penafsiran tidak boleh menyebutkan diri sebagai yang paling benar.&lt;br /&gt;Dua hal penting harusnya dipisahkan dalam konteks penafsiran kitab suci, pertama, teks suci al-Qur’an yang bersifat pasti dan kedua penafsiran yang bersifat relatif dan terbuka (bi ar-ra’yi). Keduanya bisa saja disandingkan, tapi tafsir tidak mungkin dinisbatkan sebagai ayat itu sendiri. Sebagai konsekuensi, tafsir tidak dapat dimutlakkan sebagai sebuah kebenaran yang setara dengan nash itu sendiri. Sesuatu yang tidak mutlak tidak mungkin digunakan sebagai acuan penghakiman tafsir-tarsir lainnya. Ingatlah kita pada sejarah Imam Malik yang mendapatkan otoritas fiqh dari penguasa dan meminta kepada penguasa untuk tidak menjadikan fiqh madzhabnya sebagi satu-satunya fiqih yang mendapat legalitas negara, karena di berbagai tempat masih terdapat perbedaan pendapat seputar persoalan-persoalan fiqhiyyah. Imam Malik menyadari bahwa segala model fiqh lain yang berbeda dengannya memiliki hak yang sama untuk diakui sebagi sebuah kebenaran dan memilki hak yang sama untuk dianut.&lt;br /&gt;Penunggalan kebenaran atas tafsir tertentu, dalam sejarah ummat Islam, telah banyak menelan korban. Persinggungan Mu’tazilah dan kelompok teologis lain contohnya. Dalam konteks Indonesia, pembantaian kelompok wujudiah yang terjadi pada masa pemerintahana Shofiyatuddin yang disetujui oleh amir spiritual Nuruddin ar-Raniry adalah contoh lainnya. Pertumpahan darah demi mempertahankan tafsir adalah ironi sejarah Ummat Islam yang pasti akan selalu diingat dan dicatat dalam sejarah.&lt;br /&gt;Pertanyaannya, haruskah korban jatuh lagi untuk mempertahankan kebenaran tafsir tertentu pada zaman ini? Jawabannya, tentu tidak perlu. Tapi secara empirik, upaya pembenaran tafsir kelompok tertentu atas kelompok lainnya terus menggelinding bagai bola salju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkafiran dan kebebasan untuk berbeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan penafsiran di kalangan ummat islam terkadang mencapai titik yang sangat memalukan, yakni tindakan pengkafiran. Sejak sejarah awal perkembangan Islam paska Rasulullah SAW, gejala ini terus menjadi fenomena yang tidak pernah berhenti. Sebut saja fenomena kelompok Khawarij, wabisme, dan kemunculan lembaga-lembaga yang secara sporadis mengatasnamakan kebenaran Islam di Indonesia. Benarkah perbedaan menimbulkan efek kekafiran? Belum tentu. Dalam sudut pandang manusia sebagai produsen tafsir itu dapat saja terjadi. Tapi, siapakah di antara manusia yang mengerti secara absolut apa yang dimaksud dan dikehendaki Allah SWT tentang pengertian sesuatu? Ummat Islam sangat terpengaruh pada sebuah hadist masyhur yang menyatakan keterbelahan ummat Islam menjadi 73 kelompok, dengan hanya 1 yang selamat, yakni ahlus sunnah wal jamaah. Akhirnya semua kelompok berupaya untuk menjadi yang satu tersebut, apapun caranya. Menegasi, mengkafirkan dan menyerang terkadang cukup untuk meyakinkan bahwa kelompok tertentu adalah satu kelompok yang selamat seperti diterangkan dalam hadist tersebut. Benarkah?&lt;br /&gt;Mungkin sebagian besar ummat Islam perlu untuk mengikuti salah satu ajaran kelompok murji’ah, yakni menunda segala justifikasi kebenaran agama sampai waktu segalanya dihadapkan pada Allah. Penundaan sampai waktu Allah akan menjadi hakim satu-satunya untuk menyelesaikan segala persoalan manusia.&lt;br /&gt;Selain itu perlu rasanya diingat bahwa misi pengutusan Rasulullah SAW teragkum dalam kalimat “liutammima makārim al-ahklāq” atau misi penyempurnaan ahklaq dan karakter manusia. Artinya, segala perbedaan seyogyanya dikembalikan pada akhlaq. Segala perbedaan, baik fiqih, teologi, tasawwuf, filsafat keagamaan, dan ritual, kesemuanya harus disikapi menggunakan koridor dan kerangka etika. Akhlaq haruslah menjadi yang dikedepankan. Demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Teks lagu ini merupakan puisi WS Rendra dinyanyikan oleh Iwan Fals bersama Kantata&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kabartersiar.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Lihat Jalaluddin Rahmat, Ijtihad dalam sorotan. Bandung: Mizan, 1988, halm 173-174. Lihat Pula A. Syarifuddin Al-Musawi, Isu-Isu Penting Ihktilaf Sunnah Syi’ah. Bandung: Mizan, 1991. hal 69-70.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-1378373992178408909?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/1378373992178408909/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=1378373992178408909' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/1378373992178408909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/1378373992178408909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/04/benarkah-segala-penafsiran-kita.html' title='Benarkah Segala Penafsiran Kita?'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-8568920716235958572</id><published>2008-04-28T01:23:00.001-07:00</published><updated>2008-12-12T06:15:53.737-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection of Kang Jan'/><title type='text'>O Ramadhan</title><content type='html'>Muhammad Irsyadul Ibad, Sy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kalau ada seorang peneliti yang mau menilik, berapa kali kata surga disebutkan oleh rata-rata seorang mubaligh selama bulan ramadhan dalam ceramahnya, mungkin hasilnya akan sangat mengagumkan. Surga adalah salah satu kata yang paling banyak disebut selain neraka, pahala, ganjaran, lailatul Qadar, fakir miskin. Tapi berapa banyak ulama-mubaligh yang mau bicara krisis sosial-budaya dari perspektif yang manusiawi tidak perlu melibatkan istilah-istilah langit yang memang melangit? Entahlah, ramadhan memang arena kenduren akbar yang menyediakan segala fasilitas. Tapi seperti kenduren lain, selepasnya para peserta hanya akan kembali meringkuk dalam lelap tidur. Hanya sekedar arena bagi-bagi kotak berkat. Ramadhan itu semakin seperti balon yang menghadang laju kereta, ketika tabrakan suaranya banter, setelah itu sepi dan meninggalkan sampah.&lt;br /&gt;Tak habis pikir Kang Jan dengan fenomena ramadhan yang semakin binal. Dulu ramadhan adalah arena akbar berlomba mengerti hidup tanpa peduli pada siapa yang menjadi pemenang. Kemenangan adalah milik masing-masing, bukan sesuatu yang perlu digembar-gemborkan dalam iklan, slogan, siaran TV atau kalimat-kalimat yang bertebaran mulai dari istana negara sampai istana kemiskinan yang dipelihara negara supaya tetap ada. Kemenangan dirayakan dengan berani meminta maaf dengan benar-benar kepada sesama manusia tanpa selipan niat-niat kapitalistik. Sekarang ramadhan menjadi arena mengenal berapa banyak artis yang tiba-tiba berjilbab, bersongkok sambil berceloteh kesalihan dengan niat akan kembali menampilkan paha mulus setelahnya. Ramadhan juga telah menjadi pasar raya orang-orang lupa. Arena para pemusik berkarya sesuai dengan pemintaan pasar. Tak perlu heran kalau pengajian kini telah kalah dengan acara lawak menjelang sahur dan berbuka televisi versi ramadhan, suara tadarus mati kutu ketika berhadapan dengan suara konser musik religi, ya keutuhan ramadhan telah kalah dengan segala yang klise. Astaghfirullah.&lt;br /&gt;Sejak awal ramadhan kang Jan diselimuti kegelisahan. Ia bertanya-tanya di hati, ramadhan itu urusan langit atau urusan bumi? Bolak-balik ia membuka kitab-kitab fiqih, mencari dalam selipan-selipan petuah sufi, membaca kitab-kitab tua yang berisi istilah-istilah ilmu kalam yang njelimet. Semakin ia mencari, semakin banter kegelisahannya.&lt;br /&gt;Apa yang menggoda para artis, kang Jan berpikir, untuk menutup pantatnya pada ramadhan? Apapula yang menggoda musisi untuk menulis syair-syair cengeng seakan agama telah selesai urusannya dengan kecengengan yang sebenarnya manusiawi itu? Kang Jan seakan masih ingat, seorang artis yang tahun lalu berjilbab saat ramadhan, berperan sebagai seorang yang shalihah dalam sebuah sinetron, berbicara terus menerus tentang agama, akhirnya setelah ramadhan kembali merayakan ketelanjangan. Seorang artis lain yang berkopiah, mampang di TV, mendampingi pengajian dengan wajah gantengnya setelah ramdhan kembali “cium-ciuman” dan “peluk-pelukan” dalam sinetron lain setelah ramadhan. Benarkah ramadhan telah kehilangan kemampuan mengajarkan yang benar-benar dan bukan klise? Bukankah semangat ramdhan adalah semangat memerangi klise?&lt;br /&gt;Kang Jan seperti dihinggapi kegelisahan yang memang baru kali ini ia resapi dengan lebih dalam. Mungkin karena itu dia gelisah. Andai dia tidak berpikir maka dia tidak perlu pusing dan gelisah. Tapi bagi kang Jan berpikir adalah cara untuk hidup. Sebuah perangkat yang menjamin manusia tetap menjadi manusia. Ia tidak peduli dianggap gila, edan, jadul (jaman dulu) atau istilah-istilah yang dipersiapkan orang-orang untuk dirinya yang susah menerima kagalauan dan ketidak teraturan kebudayaan ini.&lt;br /&gt;Ramadhan tak ada bedanya dengan pesta pengumbar nafsu model baru yang di gelar di dunia gemerlapan (dugem). Penuh kecabulan. Perayaan slogan kemenangan bukan ramadhan sebenarnya. Yang sebenarnya ada di langit, di hati dan dalam diri yang mau peduli pada keramadhanan yang sejati.&lt;br /&gt;Tapi kalau ramadhan untuk Tuhan saja, untuk apa? Meskipun Tuhan menyatakan puasa adalah untukNya dan Dia yang akan memberi ganjaran atasnya, bukankah Tuhan tidak butuh dipuasai, disembah, dipuji? Berarti, kang Jan mulai menyimpulkan, ramadhan itu memang sejatinya untuk bumi, manusia dan segala yang ada di dalam jangkauan kemanusiaan dan kealaman. Puasa untuk manusia. Tapi mengapa manusia tak banyak berubah setelah berpuasa?&lt;br /&gt;Kang Jan teringat masa-masa di pesantren dulu. Suatu ketika, sebulan setelah idul fitri tahun yang entah, saat sowan ke hadapan kiayinya di pesantren kang Jan ditanyai oleh sanga kiayi. “Jan, saat puasa berapa kali khataman al-Qur’an?” “Empat kali Kiayi,” jawab kang Jan. “Sekarang, sebulan setelah puasa sudah berapa juz sudah kau baca?” Kang Jan ingat, saat itu dia tak berani menjawab. Ia baru sadar bahwa tadarus, puasa, shalat tarawih hanya sebuah cara menciptakan jalan menuju Tuhan. Jalan sebenarnya bukan pada puasa, tapi hati bersih yang tercipta melalui proses berpuasa dan beribadah selama puasa.&lt;br /&gt;Kang Jan merasa kepuasaannya yang dululah kepuasaan kini. Puasa yang terikat pada ramadhan yang hanya sebulan. Puasa yang sempit. Puasa transaksional dengan Tuhan karena memang saat ramadhan dijanjkan pahala yang berlipat ganda. Kepuasaan karena ego kemanusiaan yang ingin semata selamat sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;Puasa kini bukan puasa yang membuka mata batin untuk belajar tentang arti lapar yang sesungguhnya, arti bersedekah yang langgeng dan bukan transaksi kepada Tuhan, arti cinta, arti, arti, arti…….&lt;br /&gt;Manusia modern memang manusia bebal batin, pikir kang Jan. manusia artifisial yang bangga akan sesuatu yang tampak, bukan isi. Jadi wajar kalo agama mudah berselingkuh dengan kapital, pengusaha, politik, kekuasaan dan kesemena-menaan. Agama manusia modern bukan agama yang dulu, tapi agama ritual. Agama yang dengan segala tenaga mencoba menuhankan ritual. Bukan menuhankan Tuhan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;“Walah, manusia modern memang manusia jahil rasa. Buta kepekaan. Tuli kehalusan. Penuh ketundukan pada hasrat-hasrat yang berseliweran. Mereka beragama televisi, berkeyakinan produk ekonomi, berpakaian klise-klise, penyembah kesenangan, hamba para mall dan……………”&lt;br /&gt;Kang Jan tak kuat lagi, diambilnya sajadah. Mengambil wudhu, lalu tidur di atas sajadahnya. Ia sungguh telah merasa gagal berpuasa.&lt;br /&gt;Ramadhan 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-8568920716235958572?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/8568920716235958572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=8568920716235958572' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/8568920716235958572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/8568920716235958572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/04/o-ramadhan.html' title='O Ramadhan'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-7545311107294138003</id><published>2008-04-17T04:22:00.001-07:00</published><updated>2008-12-12T06:16:20.752-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Poem/puisi'/><title type='text'>Kereta 1</title><content type='html'>Di lorong kereta ekonomi yang sepi&lt;br /&gt;keramaian adalah kemelaratan&lt;br /&gt;pedagang asongan dan pengemis yang hilir mudik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepian kian pekat&lt;br /&gt;kala masa lalu&lt;br /&gt;bertamu membawa lanskap lawas&lt;br /&gt;dulu yang mengendap&lt;br /&gt;di dasar secangkir kopi&lt;br /&gt;seharga 2000 perak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopi adalah penjaga kenangan&lt;br /&gt;dari kejadian yang sangat mudah dilupakan&lt;br /&gt;: rasa pahitnya&lt;br /&gt;yang mengundang ketagihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sepanjang rel perjalanan ini wajahmu tertatah&lt;br /&gt;duduk manis di samping pengemis yang terjangkit kusta&lt;br /&gt;para pedagang dan tiupan peluit&lt;br /&gt;memanggil-manggil aku untuk kembali&lt;br /&gt;mengulang setiap detik awan yang memerah&lt;br /&gt;membaca dirimu&lt;br /&gt;mengulang perjalanan dalam kereta&lt;br /&gt;seperti menghirup kopi pahit&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-7545311107294138003?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/7545311107294138003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=7545311107294138003' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/7545311107294138003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/7545311107294138003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/04/kereta-1.html' title='Kereta 1'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-4826160829097949325</id><published>2008-04-17T04:10:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T06:16:51.347-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Poem/puisi'/><title type='text'>Ekstase Rindu</title><content type='html'>Ekstase Rindu&lt;br /&gt;kau seperti menjelma udara, menghilang dari peta, menelisip dalam keghaiban yang mengelilingi&lt;br /&gt;ingatanku pada sebuah pagi; bergelayut di sulur waktu; menanggalkan gerimis;&lt;br /&gt;membiarkan doa-doa basi sebelum sampai di pintu langit yang tertutup&lt;br /&gt;bisakah kau berhenti sejenak memberiku misteri, mencipta tekateki:&lt;br /&gt;pada malamku yang selalu kau datangi, membawa mimpi dan api; serupa yang kini menjadi puisi&lt;br /&gt;hanya kau dalam terkaan yang kujaga dalam sepi berantakan&lt;br /&gt;tersapu angin cahaya matamu, matahari kepalaku.&lt;br /&gt;karena kau tak pernah lepas dari kepalaku&lt;br /&gt;biarkan kukenang dirimu dengan cara yang selalu baru: menyulap batu&lt;br /&gt;menatah tiruanmu, untuk menjaga rindu;&lt;br /&gt;agar dalam sendiri&lt;br /&gt;aku dapat kembali mengira-ngira warna matamu&lt;br /&gt;di manakah muara tiupan angin yang membawa wangimu?&lt;br /&gt;serupa Yunus dalam perut nuun:&lt;br /&gt;aku menebak daratan&lt;br /&gt;mengandai bibir-bibir pantai&lt;br /&gt;meminta segala sesuatu untuk mendengar: menjawab doa doa&lt;br /&gt;dari kegelapan&lt;br /&gt;amis kesunyian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-4826160829097949325?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/4826160829097949325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=4826160829097949325' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/4826160829097949325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/4826160829097949325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/04/ekstase-rindu.html' title='Ekstase Rindu'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-1046336953950554211</id><published>2008-04-17T03:56:00.001-07:00</published><updated>2008-04-17T03:56:20.121-07:00</updated><title type='text'>Sesat dan tak sesat (1)</title><content type='html'>Sesat Dan Tak Sesat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Kang Jan begitu suram sore itu. Matanya menunjukkan kalau di kepala pria berusia 40 tahunan itu sedang ada masalah yang berat. Pelayanan angkringan pun menjadi kurang dari apa adanya, tanpa senyum dan sapaan manis yang ramah ke setiap pembeli seperti biasanya. Teh jahe, es teh, jeruk panas, es tape semua ikut menjadi korban. Kesemua diaduk dengan tanpa perasaan. Ceker, sayap dan kepala ayam, tempe goreng dan bakwan pun tak luput, dibakar dengan setengah hati. Penuh arang dan gosong yang tak wajar. Angkringan kang Jan sangat janggal malam itu. Sepinya, seperti kuburan. Penyebabnya cuma satu, sang pemilik tak kunjung angkat bicara selain saat menghitung jumlah belanjaan pelanggan.&lt;br /&gt;Galagat tak beres kang Jan ditangkap jeli oleh Mamat. Maklum ia pelanggan bertahun-tahun empunya angkringan itu. Tak ada makan malam Mamat tanpa ceker bakaran Kang Jan. Tapi malam itu Mamat tak mendapat ceker bakar, tapi arang ceker. Teh jahe pun kemanisan, padahal kang Jan pasti tahu selera pelanggan satu ini; tidak suka pada rasa yang berlebihan entah itu terlalu manis, pahit, pedas, asin. Sedikit saja minuman kemanisan segera pasti Mamat melempar protes. Malam itu teh bukan lagi kemanisan, tapi terlalu manis. Tapi Mamat menahan diri, ia takut kalau protesnya atas sajian Kang Jan malam itu memperkeruh suasanan angkringan yang sudah tidak nikmat. Ia mengalah.&lt;br /&gt;Diamnya Kang Jan adalah teka teki bagi Mamat. Sungguh tak biasa, ia merasa. Kejanggalan yang paling janggal. Ada manusia yang biasanya berceloteh tak henti, malam ini dikelilingi lengang yang sangat.&lt;br /&gt;“Ada apa kang?” Mamat membuka percakapan&lt;br /&gt;“Dari tadi mukanya ditekuk saja, ndak biasanya”&lt;br /&gt;“Tuhan apa sudah punya wakil setelah kanjeng nabi ya?” timpal kang Jan ketus.&lt;br /&gt;Penuh kebingungan Mamat bertanya, “ada apa sih?”&lt;br /&gt;Kang Jan masih tersenyum pahit, sepahit arang ceker yang masuk ke liang mulut Mamat.&lt;br /&gt;“sik, sik, ada apa ini kang? Pertama, saya dari tadi disuguhi wajah berkerut, ayam gosong, dan teh yang keterlaluan manisnya, ada apa? Terus tiba-tiba pake tanya apa Tuhan sudah punya wakil selain kanjeng para nabi? bingung aku” timpal Mamat.&lt;br /&gt;“Kau tahu, beberapa waktu ini, banyak orang yang mudah menuduh orang sesat? Entah itu personal, kelompok atau kumpulan gerombolan. Kata-kata kafir menjadi lagam yang semakin sering diperdengarkan untuk menunjuk hidung orang yang berbeda pendapat. Apa mereka tahu, bahwa mereka benar-benar lurus dan yang dituduh adalah sungguh sesat? Banyak orang yang berani mengambil hak Tuhan untuk memutuskan persoalan kebenaran” tukas kang Jan&lt;br /&gt;“Terus Tuhan seperti dimiliki sendiri, dengan cara pandang yang tunggal. Kita tahu ada prinsip-prinsip ketuhanan yang kita peroleh secara sam’iyyat, paling itu sumber acuan pembicaraan ketuhanan kita? Selebihnya adalah tafsir atas perkara-perkara sam’iyyat itu. Tapi mengapa perbedaan yang ecek-ecek selalu memicu pengkafiran? Orang bertasawwuf dituduh zindiq, bertahlil dituduh kurafat, tidak qunut dianggap musuh, tidak ziarah dianggap bebal batin? Bukankah hal-hal khusus itu, kesemuanya muncul dari keumuman hukum Tuhan?”&lt;br /&gt;Mamat masih diam. Sesekali meludah membuang pahit ceker ayam gosong yang lenempel di lidahnya.&lt;br /&gt;“Ada orang berbeda cara pandang hadistnya, berbeda fiqihnya, berbeda ilmu kalamnya, berbeda aliran keagamaannya tapi saya yakin mereka tetap percaya Tuhan yang sama. Tuhan juga saya yakin tidak peduli apakah hambanya NU, Persis, Perti atau Muhammadiyah. Apalagi partainya. Saya yakin Tuhan masih menyimpan rahasia-rahasianya, nah yang namanya NU, Muhammadiyah, Perti, Persis itu hanya salah satu gang sempit menuju kesana. Menuju rahasia-rahasia itu. Tuhan hanya akan menghitung kebaikan yang dilakukan seseorang. Bukan organisasi, kelompok, mazhab, aliran, dan apalah nama-nama untuk menyebut semua perbedaan itu” Menggebu-gebu Kang Jan berseloroh.&lt;br /&gt;“terus kenapa kang ?” tanya Mamat&lt;br /&gt;“Toh mereka tidak saling berantem to selama ini?” tambahnya&lt;br /&gt;“La itu masalahnya, kini semakin banyak orang yang merasa punya hak meluruskan cara beragama orang lain dengan kekerasan, dengan pedang, dengan menggrebek, dengan…ah, aku bingung terlalu banyak cara tidak manusiawi itu”&lt;br /&gt;“Masalahnya?” Mamat terus memancing&lt;br /&gt;“Masalahnya adalah sikap yang tidak toleran itu. Sikap yang menyatakan diri paling benar dan yang liyan adalah salah. Sebagai yang benar berhak memberangus yang tidak benar. Yang tidak benar harus tidak boleh ada. Itu. La wong kanjeng Nabi Muhammad saja tidak bersikap seperti itu untuk berbagai perbedaan. Waktu ada sahabat yang seorang pedagang bertanya apakah pekerjaan paling utama, rasul menjawab ya berdagang. La waktu petani datang dibilang bertani. Ini bukan sikap plin-plan nabi, tapi sikap yang mengajarkan isi lebih penting dari pada kulit. Inti bekerja adalah cari nafkah halal yang bisa saja lewat dagang, tani atau jadi buruh.” Tukas kang Jan&lt;br /&gt;“lo, kok merembet kemana-mana? Sampai soal itu lagi” Mamat terus memancing.&lt;br /&gt;“waduh, la wong perasaan saya itu yang mondok di pesantren, kuliah dan mengahapal Qur’an itu sampean, la malah kok ndak tahu. Coba berapa banyak ayat Qur’an yang bercerita secara spesifik tentang kejadian tertentu? Sedikit to? Yang banyak itu yang masih umum. Untuk hal-hal yang umum itu kita butuh menafsirkan. La penafsiran setiap wong itu berbeda-beda. Untuk kehati-hatian makanya kita dianjurkan untuk belajar Qur’an sama yang lebih pandai. Persolannya, orang-orang yang sama-sama membaca Qur’an yang sama itu sekarang mulai saling tuduh siapa yang salah dan mengaku paling benar dalam penafsiran masing-masing. Padahal yang diperdebatkan adalah hal-hal yang berasal dari penafisiran yang beragam tadi. Mbok yo jangan tuduh orang salah apalagi ngafirke meski beda pendapat. Nabi saja banyak menimpali perbedaan para sahabat dengan senyuman” Timpal kang Jan geram.&lt;br /&gt;“begini kang,” timpal Mamat&lt;br /&gt;“Sik aku urung mari” potong kang Jan&lt;br /&gt;“Penyakit terparah orang pandai itu adalah kesombongan, ingat itu. Makanya hati-hati mencari guru. Carilah orang pintar yang tidak sombong. Kenapa ada ulama yang tidak bisa bertasamuh, memelihara toleransi? Aku curiga itu berasal dari kesombongan. Dia merasa derajat keilmuannya lebih tinggi, kualitas penafsirannya lebih baik, kedekatannya dengan Tuhan lebih dari yang lain, dan perasan lebih, lebih, lebih di atas yang lain. Ilmu itu bisa saja jadi penghalang bertemu Tuhan kalau sudah terkontaminasi kesombongan.” Kang Jan meneruskan ceramah panjang lebarnya.&lt;br /&gt;“terus kita harus bagaimana, Kang?” Timpal Mamat.&lt;br /&gt;“Sederhana, menjaga akhlaq. Kita harus sadar, apapun perbedaannya akhlaq harus dikedepankan, bukan ilmunya dulu. Dulu Imam Syafi’I ketika bertamu kerumah Imam Maliki, dia rela tidak berqunut untuk menghormati gurunya itu. Persoalannya sudah bukan qunut, tapi cara menyampaikan Qunut. Apapun perbedaan fiqih, kalam, mantiq dan keyakinan yang terjadi, ahklaq yang harus dikemukakan. Ilmu saat itu boleh dinomorduakan. Toh Kanjeng Nabi itu diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Itu yang utama. Berarti syariah pun harus berjalan di bawah naungan akhlaq. Ulama harus mau meneriakkan akhlaq selain berteriak fiqih, tauhid dan apa saja hal-hal lain tentang agama. Penghakiman itu hak prerogratif Tuhan, karena Dia yang Maha Adil. Sementara keadilan manusia itu relatif, tak sempurna dan condong pada suka atau tidak suka. Tuhan sudah ingatkan kita agar jangan menjadikan kebencian sebagai penyebab ketidakadilan sikap kita terhadap siapapun”&lt;br /&gt;“Semudah itukah kata Akhlaq, Kang?” potong Mamat.&lt;br /&gt;“Ya ndak mudah. Bagaimana dapat dikatakan mudah? Dulu kanjeng nabi pernah diludahi setiap hendak ke masjid. Tapi saat orang yang meludahi sakit, kanjeng Nabi adalah orang menjenguk lebih dahulu sebelum kerabat dan sahabat pelaku peludahan datang. Yang kayak gitu untuk orang seperti kita ya ndak mudah. Memaafkan, mau mengerti, merendahkan diri, menjaga sikap, ya apa saja yang bersangkutan dengan akhlaq hasanah ya ndak mudah. Tapi harus kita pelajari. Kita punya contoh Agung, Kanjeng Nabi langsung. Ambil prinsip-prinsip akhlaq dari beliau!” tambah Kang Jan.&lt;br /&gt;Mamat menahan senyum. Matanya lirak-lirik ke sekitar kursinya. Kang Jan mulai merasa ada yang tak beres.&lt;br /&gt;“Jadi kita sepakat nih kang untuk memulai dari diri sendiri mempergunakan prinsip-prinsip akhlaq tadi?” tanya Mamat memancing.&lt;br /&gt;“Ya, kapan lagi?” jawab kang Jan tegas.&lt;br /&gt;“Kalau gitu, saya pinjam buku catatan hutang, makan malam hari ini digabungkan dengan hutang kemarin. Saya lagi belum kiriman, belum punya duit sampai lusa.” Mamat meminta dengan wajah cengar-cengir.&lt;br /&gt;Kang Jan Teringat semua celotehannya tadi. Tersenyum simpul ia mengambil buku hutang dar dalam laci gerobak lalu mengulurkannya sambil menahan tawa. Sirna sudah raut tak sedap dari muka kang Jan. Ia mengerti sedang mendapat pelajaran dari pelanggan setianya satu itu.&lt;br /&gt;Jalanan mulai lengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krapyak, 22 Januari 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-1046336953950554211?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/1046336953950554211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=1046336953950554211' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/1046336953950554211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/1046336953950554211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/04/sesat-dan-tak-sesat-1.html' title='Sesat dan tak sesat (1)'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-2396138772785615658</id><published>2008-04-17T03:54:00.000-07:00</published><updated>2008-04-17T03:55:08.352-07:00</updated><title type='text'>ramadhan O ramadhan</title><content type='html'>O Ramadhan&lt;br /&gt;Coba kalau ada seorang peneliti yang mau menilik, berapa kali kata surga disebutkan oleh rata-rata seorang mubaligh selama bulan ramadhan dalam ceramahnya, mungkin hasilnya akan sangat mengagumkan. Surga adalah salah satu kata yang paling banyak disebut selain neraka, pahala, ganjaran, lailatul Qadar, fakir miskin. Tapi berapa banyak ulama-mubaligh yang mau bicara krisis sosial-budaya dari perspektif yang manusiawi tidak perlu melibatkan istilah-istilah langit yang memang melangit? Entahlah, ramadhan memang arena kenduren akbar yang menyediakan segala fasilitas. Tapi seperti kenduren lain, selepasnya para peserta hanya akan kembali meringkuk dalam lelap tidur. Hanya sekedar arena bagi-bagi kotak berkat. Ramadhan itu semakin seperti balon yang menghadang laju kereta, ketika tabrakan suaranya banter, setelah itu sepi dan meninggalkan sampah.&lt;br /&gt;Tak habis pikir Kang Jan dengan fenomena ramadhan yang semakin binal. Dulu ramadhan adalah arena akbar berlomba mengerti hidup tanpa peduli pada siapa yang menjadi pemenang. Kemenangan adalah milik masing-masing, bukan sesuatu yang perlu digembar-gemborkan dalam iklan, slogan, siaran TV atau kalimat-kalimat yang bertebaran mulai dari istana negara sampai istana kemiskinan yang dipelihara negara supaya tetap ada. Kemenangan dirayakan dengan berani meminta maaf dengan benar-benar kepada sesama manusia tanpa selipan niat-niat kapitalistik. Sekarang ramadhan menjadi arena mengenal berapa banyak artis yang tiba-tiba berjilbab, bersongkok sambil berceloteh kesalihan dengan niat akan kembali menampilkan paha mulus setelahnya. Ramadhan juga telah menjadi pasar raya orang-orang lupa. Arena para pemusik berkarya sesuai dengan pemintaan pasar. Tak perlu heran kalau pengajian kini telah kalah dengan acara lawak menjelang sahur dan berbuka televisi versi ramadhan, suara tadarus mati kutu ketika berhadapan dengan suara konser musik religi, ya keutuhan ramadhan telah kalah dengan segala yang klise. Astaghfirullah.&lt;br /&gt;Sejak awal ramadhan kang Jan diselimuti kegelisahan. Ia bertanya-tanya di hati, ramadhan itu urusan langit atau urusan bumi? Bolak-balik ia membuka kitab-kitab fiqih, mencari dalam selipan-selipan petuah sufi, membaca kitab-kitab tua yang berisi istilah-istilah ilmu kalam yang njelimet. Semakin ia mencari, semakin banter kegelisahannya.&lt;br /&gt;Apa yang menggoda para artis, kang Jan berpikir, untuk menutup pantatnya pada ramadhan? Apapula yang menggoda musisi untuk menulis syair-syair cengeng seakan agama telah selesai urusannya dengan kecengengan yang sebenarnya manusiawi itu? Kang Jan seakan masih ingat, seorang artis yang tahun lalu berjilbab saat ramadhan, berperan sebagai seorang yang shalihah dalam sebuah sinetron, berbicara terus menerus tentang agama, akhirnya setelah ramadhan kembali merayakan ketelanjangan. Seorang artis lain yang berkopiah, mampang di TV, mendampingi pengajian dengan wajah gantengnya setelah ramdhan kembali “cium-ciuman” dan “peluk-pelukan” dalam sinetron lain setelah ramadhan. Benarkah ramadhan telah kehilangan kemampuan mengajarkan yang benar-benar dan bukan klise? Bukankah semangat ramdhan adalah semangat memerangi klise?&lt;br /&gt;Kang Jan seperti dihinggapi kegelisahan yang memang baru kali ini ia resapi dengan lebih dalam. Mungkin karena itu dia gelisah. Andai dia tidak berpikir maka dia tidak perlu pusing dan gelisah. Tapi bagi kang Jan berpikir adalah cara untuk hidup. Sebuah perangkat yang menjamin manusia tetap menjadi manusia. Ia tidak peduli dianggap gila, edan, jadul (jaman dulu) atau istilah-istilah yang dipersiapkan orang-orang untuk dirinya yang susah menerima kagalauan dan ketidak teraturan kebudayaan ini.&lt;br /&gt;Ramadhan tak ada bedanya dengan pesta pengumbar nafsu model baru yang di gelar di dunia gemerlapan (dugem). Penuh kecabulan. Perayaan slogan kemenangan bukan ramadhan sebenarnya. Yang sebenarnya ada di langit, di hati dan dalam diri yang mau peduli pada keramadhanan yang sejati.&lt;br /&gt;Tapi kalau ramadhan untuk Tuhan saja, untuk apa? Meskipun Tuhan menyatakan puasa adalah untukNya dan Dia yang akan memberi ganjaran atasnya, bukankah Tuhan tidak butuh dipuasai, disembah, dipuji? Berarti, kang Jan mulai menyimpulkan, ramadhan itu memang sejatinya untuk bumi, manusia dan segala yang ada di dalam jangkauan kemanusiaan dan kealaman. Puasa untuk manusia. Tapi mengapa manusia tak banyak berubah setelah berpuasa?&lt;br /&gt;Kang Jan teringat masa-masa di pesantren dulu. Suatu ketika, sebulan setelah idul fitri tahun yang entah, saat sowan ke hadapan kiayinya di pesantren kang Jan ditanyai oleh sanga kiayi. “Jan, saat puasa berapa kali khataman al-Qur’an?” “Empat kali Kiayi,” jawab kang Jan. “Sekarang, sebulan setelah puasa sudah berapa juz sudah kau baca?” Kang Jan ingat, saat itu dia tak berani menjawab. Ia baru sadar bahwa tadarus, puasa, shalat tarawih hanya sebuah cara menciptakan jalan menuju Tuhan. Jalan sebenarnya bukan pada puasa, tapi hati bersih yang tercipta melalui proses berpuasa dan beribadah selama puasa.&lt;br /&gt;Kang Jan merasa kepuasaannya yang dululah kepuasaan kini. Puasa yang terikat pada ramadhan yang hanya sebulan. Puasa yang sempit. Puasa transaksional dengan Tuhan karena memang saat ramadhan dijanjkan pahala yang berlipat ganda. Kepuasaan karena ego kemanusiaan yang ingin semata selamat sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;Puasa kini bukan puasa yang membuka mata batin untuk belajar tentang arti lapar yang sesungguhnya, arti bersedekah yang langgeng dan bukan transaksi kepada Tuhan, arti cinta, arti, arti, arti…….&lt;br /&gt;Manusia modern memang manusia bebal batin, pikir kang Jan. manusia artifisial yang bangga akan sesuatu yang tampak, bukan isi. Jadi wajar kalo agama mudah berselingkuh dengan kapital, pengusaha, politik, kekuasaan dan kesemena-menaan. Agama manusia modern bukan agama yang dulu, tapi agama ritual. Agama yang dengan segala tenaga mencoba menuhankan ritual. Bukan menuhankan Tuhan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;“Walah, manusia modern memang manusia jahil rasa. Buta kepekaan. Tuli kehalusan. Penuh ketundukan pada hasrat-hasrat yang berseliweran. Mereka beragama televisi, berkeyakinan produk ekonomi, berpakaian klise-klise, penyembah kesenangan, hamba para mall dan……………”&lt;br /&gt;Kang Jan tak kuat lagi, diambilnya sajadah. Mengambil wudhu, lalu tidur di atas sajadahnya. Ia sungguh telah merasa gagal berpuasa.&lt;br /&gt;Ramadhan 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-2396138772785615658?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/2396138772785615658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=2396138772785615658' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/2396138772785615658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/2396138772785615658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/04/ramadhan-o-ramadhan.html' title='ramadhan O ramadhan'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1692182507094431756.post-9074997477190315708</id><published>2008-04-17T03:52:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T06:17:16.416-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Free articles'/><title type='text'>MEMBACA JAWA: STUDI ATAS INTERAKSI KEBUDAYAAN JAWA, HINDU, BUDHA SEBELUM ISLAM</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Pengantar&lt;br /&gt;Poenika sejarahipoen para ratoe ing tanah Jawi, wiwit saking nabi Adam, apepoetra Sis. Esis apepoetra Noertjahja. Nurtjahjo apepoetra Noerasa. Noerasa apepoetra Sahyang Wening. Sahyang Wening apepoetra Sanhyang Toenggal. Sahyang Toenggal apepoetra gangsal, anama batara Sambo, batara Brama, batara Maha-Dewa, batara Wisnoe, dewi Sri. Batara Wisnu waoe djomeneng ratoe wonten ing poeloe Jawi, adjedjoeloek praboe Set. Kedatonipun batara Goeroe anama ing Soera-Laja1. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengantar buku Etika Jawa, Frans Magnis Suseno memberikan sebuah interpretasi pengantar yang cukup menarik diperhatikan berkenaan dengan kebudayaan Jawa. Jawa dinilai sebagai sebuah kebudayaan yang memiliki kekokohan untuk menjadikannya tetap eksis. Kedatangan agama Budha ke dalam kebudayaan Jawa tidak menciptakan Jawa yang Budha. Masuknya agama Hindu juga tidak mampu menciptakan Jawa yang Hindu. Begitupun Islam, betapa luasnya pengaruh agama ini, terlebih paska kemunduran dan kehancuran kerajaan Majapahit yang ditandai dengan kebangkitan Demak, tidak mampu menciptakan Jawa yang Islam. Yang terbentuk dari semua persentuhan agama-agama tersebut adalah Budha, Hindu dan Islam yang Jawa, bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;Nukilan paragraph pembuka Serat Babad Tanah Jawi di atas juga menunjukkan betapa Jawa merupakan sebuah kebudayaan yang memiliki heterogenitas unsur yang cukup kompleks. Jawa telah mengalami dua mutasi —meminjam istilah Lombard— kebudayaan dalam struktur masyarakatnya; mutasi kebudayaan bersama datangnya Hindu dan Budha —indianisasi— serta mutasi yang terjadi dalam persentuhannya dengan Islam. Term mutasi secara implisit mengilustrasikan proses internal yang dinamis dalam struktur kebudayaan Jawa. Proses yang tidak menegasi secara keseluruhan pelbagai unsur-unsur yang datang dengan tidak pula melakukan pemusnahan unsur-unsur yang sebelumnya telah ada dalam struktur sebelumnya. Mutasi mengandaikan sebuah perubahan perlahan yang membentuk satuan bagian baru dalam sebuah satuan besar kebudayaan Jawa.&lt;br /&gt;Tulisan sederhana ini mencoba memaparkan sekelumit asumsi tentang relasi anasir pelbagai kepercayaan di Jawa yang membentuk sebuah keutuhan kebudayaan Jawa. Semoga dapat membantu pemahaman kita bersama dalam studi Islam dan Budaya Lokal.&lt;br /&gt;Problematika Cara Pandang Terhadap Kebudayaan Jawa&lt;br /&gt;Studi kebudayaan Jawa seakan telah usai paska penerbitan studi fenomenologis Clifford Geerzt, Religion of Java. Karya ini seperti menjadi ilham utama studi-studi atas Jawa setelahnya. Meski demikian, karya Geerzt belumlah selesai menelaah kompleksitas Jawa sebagai sebuah keutuhan sistem kebudayaan. Karya ini memang sempat mengisi kekosongan studi komprehensif tentang Jawa Paska penerbitan History of Java karya Sir Thomas Raffles (1917), namun sedahsyat karya ini dipuji, sehebat itu pula kritik disampaikan atas karya sang Maestro tersebut. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa religion of Java belumlah memetakan keseluruhan ruang masyarakat Jawa, masih terdapat ruang luas untuk terus membicarakan dan memperdebatkan persoalan kejawaan paska Geerzt. Apa yang menyebabkan Geerzt begitu dipuja, mengilhami para antropolog, sejarawan, dan sosiolog setelahnya yang menggeluti studi tentang Jawa? Apa pula yang telah menyebabkan karya ini menjadi problematis bagi sebagian pengamat dan ilmuan tentang Jawa? Kedua pertanyaan ini akan menghantar kita pada pembahasan tentang pelbagai cara pandang secara umum tentang kebudayaan Jawa.&lt;br /&gt;Nyaris tak ada studi antropologi, sejarah dan sosiologi tentang Jawa dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang anasir agama asli maupun yang masuk dan berkembang kemudian. Dalam konteks ini, pernyataan Christoper Dawson bahwa agama adalah kunci sejarah manusia menemukan pembenaran2. Jawa yang telah bersentuhan dengan pelbagai agama telah berproses secara internal menuju sebuah bentuk yang dikenal sekarang. Pembicaraan tentang Jawa dipastikan membutuhkan ketelitian memerhatikan unsur-unsur yang tumbuh dan berkembang seperti kepercayaan-kepercayaan tersebut.&lt;br /&gt;Jawa diasumsikan memiliki akar kepercayaan arkhaik yang khas sebelum kedatangan agama-agama. Animisme dan dinamisme adalah sepasang kepercayaan yang kerap dilekatkan guna menjelaskan kepercayaan asli masyarakat Jawa. Masuknya Hindu, Budha dan Islam mendorong terciptanya kebudayaan Jawa yang beranasir lebih kompleks. Masuknya ketiga agama tersebut kedalam masyarakat Jawa tidak serta merta menghilangkan citarasa dan bentuk pengagungan yang sebelumnya digunakan dalam kepercayaan arkhaik masyarakat Jawa. Kesetiap kepercayaan meninggalkan sisa-sisa —lebih tepatnya menggunakan kata etos— dalam masyarakat, baik agama arkahik, Hindu dan Budha.&lt;br /&gt;Dalam konteks studi Islam Jawa inilah, pelbagai peninggalan bentuk-bentuk keberagamaan sebelum Islam yang ada dan berkembang di Jawa menjadi problematis. Islam Jawa memiliki keunikan tersendiri tinimbang bentuk-bentuk kesilaman lain yang berkembang di wilayah lain bahkan di Jazirah Arab sebagai asal kelahirannya. Setidaknya ada dua alasan mengapa dalam studi Islam Jawa sering menjadi cukup problematis. Pertama, Penggunaan Islam di Jazirah Arab sebagai prototipe rujukan satu-satunya yang menutup interpretasi bahwa Islam sebagai sebuah agama memiliki kemungkinan berinteraksi, berkomunikasi serta berakulturasi dengan anasir kebudayaan lainnya. Kedua, cara pandang yang hanya menitikberatkan ke arah salah satu bentuk keislaman —seperti syari’ah semata atau sufisme—seperti yang dilakukan oleh Geerzt. Pandangan kedua ini seakan melihat Islam sebagai satu sisi yag final sehingga bentuk-bentuk baru yang muncul di ruang kebudayaan tertentu sulit untuk tatap dikategorikan sebagai tetap Islam.&lt;br /&gt;Terma sinkretik adalah pilihan yang sebenarnya menyudutkan Islam Jawa. Terma ini terlanjur diterima dan disosialisasikan untuk menyebut keislaman kebanyakan orang Jawa. Sebagai anakannya maka muncullah istilah-istilah lain seperti "Islam KTP" dan "Islam Abangan" yang mengindikasikan betapa kurang sempurnanya keislaman orang Jawa karena kentalnya anasir Hindu, Budha serta kepercayaan arkahik mereka.&lt;br /&gt;Pandangan umum tentang Jawa telah sampai pada kesimpulan bahwa Interaksi cukup kuat antar agama-agama yang masuk ke Jawa menciptakan bentuk keislaman yang tidak lagi murni dan terbebas dari unsur-unsur yang tidak Islami, atau ;lebih tepatnya tetap dipengaruhi secara dominan oleh anasir agama sebelumnya. Van Ossenbrugen memandang Jawa sebagai pengejawantahan sistem mandala3 dalam kepercayaan Hindu4. Konsep mandala mensakaralkan angka empat dan lima dengan memuncukan konsep monco-pat/mancapat5. Menggunakan perspektif Lombard, konsep ini memang dapat diklasifikasikan sebagai sebuah peninggalan esoteris yang tersisa dari kebudayaan Jawa pada mutasi pertamanya —indianisasi. Meski konsep mancapat tidak lagi dipergunakan sekarang, namun konsep tersebut tetap menjadi penanda khusus dalam kesadaran masyarakat Jawa6. Konsep mata angin tidak hanya berkaitan dengan konsepsi Dewa dengan wewenang masing-masing, melainkan juga berkaitan dengan logam, warna, hewan dan angka-angka.&lt;br /&gt;Pada anggitan lain, Pigeud mengandaikan bahwa konsep petungan7 merupakan sebuah konsep propechy dalam kepercayaan Jawa yang lebih bersifat animistik8. Petungan dinilai sebagai konsep metafisika sekaligus sebagai ensiklopedia orang Jawa. Rumusan Nasib Manusia dinilai dari arah matangin atau Jenis hari9. Pada pandangan lain CC Berg melihat pandangan masyarakat Jawa merupakan peninggalan kepercayaan Hindu. Contoh yang ditekankan oleh Berg adalah konsepsi Ratu Adil yang dipercaya akan mampu membawa keluar manusia dari jerat kemelut kehidupan pada era kaliyuga10. Ratu adil adalah pilihan Sahyang Tunggal yang diturunkan untuk membebaskan manusia dari jerat kesusahan dan kemelut.&lt;br /&gt;Untuk menganalisa Istilah petungan alangkah baiknya dengan memerhatikan catatan L.C Damais tentang Sadwara11 dan Pancawara12 . Damais melihat adanya ketidakterkaitan istilah ini dengan istilah sanksekerta. Damais meyakini istilah ini merupakan istilah yang asli merupakan produk kepercayaan dan kebudayaan Jawa. Kertekaitan sadwara dan pancawara dalam kosmogoni Jawa digunakan untuk menemukan keharmonisan upaya kehidupan seperti untuk menetukan waktu tanam, perjodohan, watak manusia dan nasib13.&lt;br /&gt;Pada pandangan lain, Istilah petungan —termasuk sadwara dan pancawara— mungkin saja berkaitan dengan kepercayaan Berg akan adanya anasir hindu yang bertahan, terutama keyakinan akan kedatangan Ratu Adil. Dalam Pandangan G.W.J Drewes kepercayaan terhadap Ratu Adil berkaitan dengan kosmogoni india tentang Yuga. Pada era Kaliyuga akan muncul zaman yang dinamakan kalabendu (zaman malapetaka) atau yang disebut-sebut dalam serat kalathida karya raden Mas Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) sebagai zaman edan. Zaman edan merupakan zaman kebobrokan mental manusia yang menuntut adanya sebuah pembaharuan manusia dengan kedatangan ratu adil14.&lt;br /&gt;Intisari dari kesekian pandangan tentang Jawa yang dilontarkan Pigeud, Ossenbrugen dan Berg ini adalah bahwa Jawa adalah bagian dari masa lalu yang beridentitas animisme, dinamisme, Hindu, Budha. Interpretasi seperti ini cenderung menjustifikasi Jawa sebagai kebudayaan yang final. Cara pandang seperti ini tidak mungkin untuk dijadikan sumber acuan utama dalam kajian kejawaan.&lt;br /&gt;Pandangan lain yang cukup terkenal adalah pandangan dikotomis yang dimunculkan oleh Clifford Geerzt dalam Religion of Java yang mengkalisfikasikan masyarakat Jawa kedalam tiga kategori besar; Santri, Abangan dan Priyayi15. Kesetiap kategori tersebut merepresentasikan peran dan pengamalan keberagamaan yang sangat berbeda. Santri adalah yang dianggap Geerzt sebagai yang paling islami dalam struktur masyarakat Jawa. Santri adalah kelompok yang mampu merepresentasikan agama secara benar berdasarkan tatanan syariah. Sementara kelompok priyayi merepresentasikan tradisi mistik yang lebih diyakini sebagaio warisan dari keagamaan Hindu dan Budha sebelum Islam. kelompok abangan adalah kelompok yang dapat disebut sebagai kelompok yang secara konsisten mempertahankan kepercayaan-kepercayaan lokal yang telah menjadi tradisi sejak nenek moyang masyarakat Jawa —animisme. Ekstremnya, dalam tesis ini Geerzt memandang bahkan santri sebagai representasi kelompok bergama masyarakat Jawa yang paling Islami masih sangat dipengaruhi oleh kekuatan kepercayaan Hindu dan Budha yang telah terlebih dahulu melekat pada kebudayaan masyarakat Jawa. Secara sekilas dapat disimpulkan bahwa Geerzt telah menilai masyarakat Jawa secara nominalis16. Kritik terbesar atas karya Geerzt disampaikan oleh Marshall Hodgson dalam the Venture of Islam. Hodgson dengan tetap memandang karya Geerzt sebagai karya penting dalam studi Asia Tenggara, mempertanyakan kesimpulan Geerzt yang cenderung meragukan keislaman masyarakat Jawa. Baginya, jika praktek masyarakat Jawa dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha, mengapa Islam dengan begitu masif telah mampu merubah struktur kebudayaan masyarakat Jawa? Sikap Geerzt ini menurut Hodgson merupakan akibat dari sebuah sudut pandang yang lebih mengutamakan satu sudut pandang untuk memnadang fenomena keislaman masyarakat Jawa. Geerzt dinilai menginterpretasikan kebudayaan Jawa dengan teorama syariah minded yang menutup peluang pembacaan terhadap unsur lain seperti tasawwuf —mistik Islam17. Sarjana Barat Lain seperti Eickelman dan Roof menyuarakan pandangan yang sama tentang problem penafsiran Jawa ini; akibat kurangnya pemahaman tentang Islam18. Dalam sejarah Islam berkembang beberapa aliran pemikiran yang sama-sama tatap berada dalam koridor Islam —sufisme dan syari’ah. Baik Hodgson, Eickelman maupun Roof memandang tidak satupun aliran tersebut berhak untuk menyatakan sebagai yang paling otoritatif menyatakan keislaman, karena baik syariah dan sufisme sama-sama memiliki justifikasi dalam Islam19.&lt;br /&gt;Studi fenomenologis Geerzt sebenarnya tidak mencukupi untuk digeneralisir menjadi sebuah pemahaman bahwa keseluruhan masyarakat Jawa terbelit dalam ketiga teorama tersebut. Setidaknya studi Robert Hefner yang memberikan perhatian pada masyarakat yang dianggap tidak islami di Tengger yang menemukan bukti bahwa masyarakat Tengger sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur Islam20, atau studi Nakamura di Kotagede Yogyakarta dengan fokus keberadaan masyarakat Muhammadiyah yang menafsirkan kentalnya unsur-unsur Islam dalam sistem kepercayaaan masyarakat tersebut. Artinya studi Geerzt yang berlokasi Mojokuto dan Nakamura di Kotagede Yogyakarta memiliki kemungkinan sangat luas untuk menghasilkan pandangan dan penafsiran yang berbeda dikarenakan perbedaan cara pemahaman kejawaan dan keislaman dalam kedua masyarakat yang berbeda secara geografis.&lt;br /&gt;Dalam pandangan lain, Mark Woodward dengan jelas menolak anggitan Geerzt bahwa Jawa tidaklah Islami. Bahkan bagi Woodward masyarakat Jawa merupakan pemeluk Islam yang paling kreatif menghubungkan kebudayaan dan struktur sosial terdahulunya dengan Islam sebagai unsur yang "baru" dalam sebuah struktur kebudayaan. Tradisi intelektual dan spiritual Islam di Jawa merupakan tradisi kreatif. Bagi Woodward terdapat kewajaran mengapa Islam Jawa sangat berbeda dengan keislaman Timur Tengah atau Jazirah Arab, letak geografis yang sangat menyulitkan komunikasi dan interaksi antar keduanya menyebabkan Islam di Jawa berkembang dengan model dan coraknya sendiri tanpa harus menjadikan Arab sebagai patokan dominan. Islam Jawa telah memberikan sumbangsih terhadap pemikiran tertentu kepada dunia intelektual Islam. Woodward melihat bahwa tradisi mistik Jawa memberi sumbangsih bentuk sufisme lain dengan corak berbeda dengan yang berkembang di belahan lain di Dunia Arab. Tradisi sufisme Jawa banyak berbeda dengan mainstream sufisme yang berkembang di wilayah lain. Bagi Woodward juga, kelompok santri merepresentasikan bentuk keislaman yang cukup kuat dengan fondasi syariah. Secara epistimologis, pandangan Woodward ini berangkat dari pandangan bahwa Islam lebih merupakan tradisi yang mengejawantah dari hubungan antara teks suci, sunnah dan kondisi historis. Prinsip Harmoni adalah prinsip yang dikedepankan oleh masyarakat Jawa. Untuk itu setiap perbedaan akan diarahkan pada pencapaian harmoni yang lebih tinggi yakni harmoni masyarakat —kemapanan21. Istilah Slametan dan kenduren merupakan salah satu bentuk penjagaan harmoni yang dipercaya merupakan bentuk warisan temurun dari nenek moyang Jawa pra-Hindu. Sistem tanda yang dibangun dalam slametan dan kenduren merepresentasikan sistem makna tertentu. Tumpeng beserta ubu rampe adalah sebuah penanda atas wawasan makna dan filosofi keberagamaan serta pandangan dunia —world view— yang terbangun dengan asas harmonisasi. Merujuk semiotika Ricoeur, tanda dalam sebuah mitos merepresentasikan sebuah angan-angan sosial sebagai sebuah petanda. Mitos tidak dapat didekati melalui interpretasi historis atas maknanya. Suatu mitos harus dipahami dengan mencari petanda-petanda —berupa makna-makna— yang menjadi unsur utamanya. Anantaboga misalnya. Mitos ini menceriterakan keberadaan seekor ular Batara Guru yang bertapa di bawah bumi. Setiap darah yang menetes dari perseteruan manusia akan meresap ke dalam tanah dan menyentuh kulit sang ular. Rasa sakit akibat terkena darah manusia akan membuat Anantaboga menggeliat dan bergerak yang menimbulkan gempa di permukaan bumi. Kebenaran ilmiah dan historis atas fenomena gempa bumi telah diketemukan. Gempa adalah gejala alam baik yang ditimbulkan pergeseran lempeng bumi maupun akibat aktifitas gunung berapi (vulkanik). Kemudian, bagaimana menyatakan kebenaran mitos yang telah dipercaya turun-temurun tersebut? Pada konteks inilah pandangan dalam semiotika Ricoeur menemukan ruang aplikasi. Anantaboga seyogyanya diartikan sebagai sebuah angan-angan sosial yang membangun makna betapa buruk dan berbahayanya suatu pertikaian.&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Perbincangan tentang Islam Jawa adalah sebuah ruang dinamis. Artinya, masih terbuka berbagai kemungkinan terciptanya temuan dan interpretasi teranyar tentang sebuah masyarakat yang begitu diminati oleh banyak sejarawan, antropolog dan sosiolog ini. Tulisan ini hanya bagian terkecil dari perbincangan tersebut. Tulisan ini diarahkan guna memerkaya perspektif tentang pelbagai teori yang meliputi sejarah kebudayaan Jawa. Sebagian teori dan pandangan lain belumlah terungkap dalam tulisan ini yang membutuhkan perhatian khusus untuk mendalaminya.&lt;br /&gt;Yogyakarta, 12 November 2007&lt;br /&gt;————————————-&lt;br /&gt;[1] Babad Tanah Djawi, De Prozaversie Van Ngabehi Kertanegara Ingeleid door JJ Ras, diedit oleh JJ Ras. Koninklijk Instituut voor Taal, Leiden: 1987. hal 7&lt;br /&gt;[2] Agama menjadi salah satu kunci utama untuk memasuki studi sejarah dan kebudayaan Jawa. Agama —kepercayaan— menjadi sebuah model penggerak bagi kerajaan-kerajaan di Jawa dan masyarakat Jawa secara lebih umum. Lihat PJ, Zoetmoelder, "Makna Kajian Kebudayaan dan Agama bagi Historiografi Indonesia", dalam Soedjatmoko. (ed) Historiografi Indonesia: Sebuah Pengantar. (Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 1995), hal 288-304&lt;br /&gt;[3] Mandala adalah tempat atau kuil tempat perhunian kelompok rohaniawan Hindu dan dapat juga diartikan sebagai sebuah komunitas agama. Istilah mandala sebenarnya merupakan sebuah sistem politik geografis pada masa kerajaan di Jawa. Seorang Raja memberikan hak khusus kepada para rohaniawan Budha dan Hindu serta para birokrat kerajaan untuk menjadi wakil pada wilayah geografis tertentu. Pemberian hak khusus ini sebagai upaya pelanggengan kekuasaan yang mendapat topangan dari kaum pimpinan keagamaan. Komunitas agama (mandala) sangat tergantung pada kesatuan dharma atau tanah yang dikelola oleh rohaniawan yang mengabdi pada kerajaan.&lt;br /&gt;[4] Lihat Hendro Prasetyo "Mengislamkan" Orang Jawa: Antropologi Baru Islam Indonesia", Jurnal Islamika No 3 edisi Januari-Maret. Jakarta, 1994, hal 75&lt;br /&gt;[5] Istilah mancapat merupakan konsepsi ruang arkhaik dalam masyarakat Jawa. Pat berasal dari kata empat dan tempat yang mengisyaratkan empat unsur utama yang membangun semesta. Terdapat klasifikasi yang terbangun dari konsep lima mata angin termasuk sisi pusat dari keempat lainnya. Klasifikasi empat mata angin mengandaikan adanya titik di antara hubungan empat mata angin utara, selatan, timur, dan barat (lor, kidul, wetan dan kulon). Konsepsi tata ruang mandala ini membentuk konfigurasi tata pedesaan yang dikelilingi empat desa lainnya pada setiap arah mata angin dengan desa tersebut sebagai pusatnya. Hubungan tradisional masyarakat desa lebih terfokus pada keempat desa yang mengelilingi desa masyarakat tersebut. Konsepsi ini lebih merupakan konsepsi tata ruang agraris sehingga sedikit mengalami kemunduran di wilayah-wilayah perdagangan tertentu seperti Tuban pada Zaman Majapahit yang memiliki masyarakat yang lebih heterogen karena pola perdagangan dan persentuhan dagang dengan berbagai pendatang. Konsepsi ini juga membangun konsepsi politik tentang pusat dari kekuasaan adalah kerajaan. Kerajaan memiliki hubungan dengan penguasa (dewa) empat mata angin dengan kerajaan sebagai titik yang mewakili kekuasaan dewa-dewa di bumi. Bahkan dalam kekuasan kerajaan Hindu ortodoks para raja dinilai sebagai titisan dewa-dewa tertentu, seperti Airlangga yang dipercaya sebagai titisan Dewa Wisnu.&lt;br /&gt;[6] Lihat Danys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya, Buku III. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996. Hal 100&lt;br /&gt;[7] Istilah petungan menunjukkan bentuk sifat-sifat asali manusia, bakat individu, etika kehidupan sosial, ketentuan nasib dan konsep asli tentang takdir manusia.&lt;br /&gt;[8] Lihat Hendro Prasetyo, op. cit.,hal 75&lt;br /&gt;[9] ibid&lt;br /&gt;[10] Yuga berarti zaman, sedangkan kaliyuga berarti zaman kebobrokan. Yuga secara kosmogonik merupakan sebuah siklus mistis yang mencakup ritme penciptaan dan kehancuran kosmis. Mahayuga adalah istilah yang merangkum empat putaran yuga, yakni; Krta Yuga,Treta Yuga, Dvapara Yuga,dan Kaliyuga. Lihat Mircea Eliade, Mitos Gerak yang Abadi: Mitos dan Sejarah. Ikon Teralitera: Yogyakarta, 2002. hal 118-119. Pada kepercayaan lain di Jawa, menurut Jangka Jayabaya akan datang era kalabhendu atau era ketidakteraturan. Ramalan Jangka Jayabaya inilah yang dipercaya lebih dipengaruhi oleh kepercayaan Yuga dalam tradisi Hindu India. Sebagai perbandingan lihat pula Shindunata, Zaman Edan: Manuke-manuke Cucak Rowo…Basis, No 9-10 edisi September-Oktober. Yogyakarta, Kanisius 2005. hal 12.&lt;br /&gt;[11] Sadwara Istilah Sadwara berarti pekan yang terdiri dari enam hari; senin, selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu. Damais melihat konsepsi Sadwara maupun Pancawara merupakan sistem kebudayaan Jawa yang genuine dan tidak berkait dengan Indianisasi.&lt;br /&gt;[12] Pancawara: Panca berarti lima dan wara berarti pecahan waktu yang berupa pahing, Pon, legi, kliwon wage&lt;br /&gt;[13] Lihat L.C Damais, "Penaggalan Jawa Kuno", dalam epigrafi….hal 141-149&lt;br /&gt;[14] Lihat Sindhunata, "Zaman Edan: Manuke-manuke Cucak Rowo…Jurnal Basis No.9 edisi eptember Oktober. Yogyakarta, 2003. Hal 4-17. lihat pula sebagai pembanding G.W.J Drewes, Drie Javanesche Goeroe’s: Hun Leven Messias Prediking (Drukkerij A Vross: Leiden, 1925) hal 160-165&lt;br /&gt;[15] Untuk lebih komprehensifnya pemahaman tentang klasifikasi ini ada baiknya untuk membaca detail karya Geerzt Religion of Java yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dalam Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Pustaka Jaya, Jakarta, 1981. Bandingkan dengan karya lainnya yang membaca kondisi keberagamaan di Bali dalam Negera Teater: Kerajaan-kerajaan di Bali Abad kesembilan Belas, Bentang, Yogyakarta, 2000&lt;br /&gt;[16] Lihat Hendro Prasetyo, op. cit., hal 75&lt;br /&gt;[17] ibid hal 77&lt;br /&gt;[18] ibid hal 81&lt;br /&gt;[19] ibid&lt;br /&gt;[20] Lihat Robert W. Hefner, "Geger Tengger: Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik. LKiS, Yogyakarta, 1999.&lt;br /&gt;[21] Lihat Hendro Prasetyo, op. cit., hal 84-85&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1692182507094431756-9074997477190315708?l=keheninganlain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://keheninganlain.blogspot.com/feeds/9074997477190315708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1692182507094431756&amp;postID=9074997477190315708' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/9074997477190315708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1692182507094431756/posts/default/9074997477190315708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://keheninganlain.blogspot.com/2008/04/membaca-jawa-studi-atas-interaksi.html' title='MEMBACA JAWA: STUDI ATAS INTERAKSI KEBUDAYAAN JAWA, HINDU, BUDHA SEBELUM ISLAM'/><author><name>irsyad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09446901509605027699</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_rFcQYkHNvmA/SAc1CqhYQnI/AAAAAAAAAAM/5p59XBKVpPg/S220/22.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
